APA DAN UNTUK APA SYERING?
Di lingkungan umat kristiani, kata syering ( sharing: berbagi) sudah sangat jamak. Banyak pertemuan diselipi acara syering walaupun tidak menutup kemungkinan justru terjadi perdebatan bahkan perbantahan yang alih- alih mempersatukan, justru memecah belah. Lalu apa sesugguhnya syaring?
Jurnalisme, Opini, Syering
Memaparkan peristiwa berdasar fakta itu tugas jurnalis atau wartawan. Sedang seorang pengamat atau pakar sering membuat oponi- pandangan/ pikiran tetang sesuatu atau seseorang. Sifatnya subjektif bisa benar bisa salah bergantung kemampuan argumentasi dan dukungan data. Pembaca bisa setuju dan tidak setuju ( pro dan kontra. Yang terjadi sekarang, jurnalisme dan opini berkelindan, membingungkan. Contoh, berita tabrakan kereta ( fakta jurnalisme), tapi wartwan bilang ” kemungkinan masinisnya ngantuk” . Apa ia pernah wawancara dengan masinis? Jelas itu opini tanpa dasar untuk mendapatkan efek emosional pembaca.
Syering adalah menyampaikan fakta pada peristiwa, tetapi tidak berhenti di sini, menemukan makna di balik peristiwa. Jurnalisme dan opini objeknya di luar diri sendiri, sedangkan syering objek dan objeknya jadi satu. Syering bisa melibatkan perasaan, tetapi kalau tidak sampai pada penemuan makna, hanya sekadar curhat atau melampiaskan unek- unek. Dalam bahasa religius, menemukan kehendak ilahi di balik peristiwa.
Untuk Apa Syering?
Menyampaikan kehebatan dan kesuksesan diri sendiri itu setiap orang bisa tetapi menyampai secara terbuka kelemahan, kegagalan bahkan aib itu butuh keberanian. Hambatan terbesar orang yang membuka diri takut risiko ditolak, ditertawakan, dilecehkan. Maka kelemahan dan aib biasanya disimpan dan ditutupi.
Kontribusi orang yang berani syering adalah berani membuka diri dan menawarkan makna yang ditemukan dalam peristiwa pahit yang telah dialami kepada pendengarnya. Baginya syering juga proses pencerahan dan penyembuhan dari luka batin.
Syering sebaiknya hanya didengar dengan empati sehingga terjadi penerimaan yang akan menumbuhkan keintiman dan keguyuban. Oleh sebab itu, jika gereja mengembangkan budaya syering kepada umatnya agar komunitas bisa semakin guyub dan solider.

