Kematian menurut Perjanjian Lama

Kematian menurut Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama, kematian dipandang sebagai kenyataan yang sangat serius, misterius, dan menyentuh seluruh keberadaan manusia. Orang Ibrani awal belum memiliki gambaran yang jelas tentang surga dan neraka seperti dalam perkembangan teologi kemudian. Karena itu muncul konsep Sheol, yakni alam orang mati. Apa itu Sheol? Itu adalah istilah Ibrani yang menunjuk pada “dunia bawah” atau tempat tinggal semua orang mati, baik orang benar maupun orang jahat. Sheol bukan pertama-tama tempat hukuman, melainkan kondisi eksistensi setelah kematian.
Gambaran Sheol dalam Perjanjian Lama antara lain sebagai tempat gelap dan sunyi, “Sebab di dunia orang mati tidak ada pekerjaan…” (Pengkhotbah 9:10)
Tempat tanpa pujian kepada Allah
Mazmur 6:6 mengatakan bahwa di Sheol orang tidak lagi memuliakan Tuhan. Tempat bayang-bayang kehidupan, di mana orang mati digambarkan seperti “rephaim” (arwah lemah, bayangan manusia). Semua orang menuju ke sana baik raja, orang miskin, orang benar, maupun pendosa.
Kematian dalam Perjanjian Lama
1. Kematian sebagai akibat keterputusan dari Allah. Dalam kisah Kitab Kejadian, kematian dikaitkan dengan dosa manusia.
Adam dan Hawa diciptakan untuk hidup bersama Allah, tetapi dosa membawa kefanaan, “Engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kejadian 3:19). Jadi kematian dipandang bukan sekadar biologis, tetapi juga simbol keterbatasan manusia yang terpisah dari sumber kehidupan.
2. Kematian bukan akhir mutlak relasi dengan Allah
Meskipun konsep awal Sheol tampak suram, perkembangan iman Israel perlahan menumbuhkan harapan baru.
Dalam beberapa teks akhir Perjanjian Lama muncul keyakinan bahwa Allah tetap berkuasa atas kematian, Mazmur 16:10: Allah tidak menyerahkan orang benar kepada dunia orang mati. Yesaya 25:8, “Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya.” Dalam Daniel 12:2, mulai muncul gagasan kebangkitan: “Banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah akan bangun…”
Ini menunjukkan perkembangan dari konsep Sheol menuju harapan akan kebangkitan dan hidup kekal. Penting dipahami bahwa Sheol tidak sama persis dengan konsep “neraka” dalam pengertian Kristen kemudian. Sheol adalah alam orang mati secara umum, tempat hukuman kekal sehingga semua orang mati masuk ke sana. Khusus bagi yang menolak Allah, bersifat suram dan pasif dan bersifat penghukuman
Konsep awal Israel yang berkembang dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Dalam perkembangan berikutnya, terutama masa Yahudi akhir dan Perjanjian Baru, muncul konsep seperti Gehenna, kebangkitan, penghakiman akhir, dan hidup kekal.
Makna spiritual pandangan Perjanjian Lama tentang kematian memperlihatkan perjalanan iman manusia: dari ketakutan terhadap alam maut menuju pengharapan bahwa Allah lebih kuat daripada maut. Karena itu, kematian dalam iman biblis bukan sekadar lenyapnya hidup, tetapi misteri yang perlahan diterangi oleh harapan akan penyelamatan Allah. Bagi tradisi Kristen, pengharapan itu mencapai puncaknya dalam kebangkitan Yesus Kristus, yang dipahami sebagai kemenangan atas maut dan Sheol.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *