Kematian menurut Kejawen
3. Kematian Menurut Kejawen
Dalam tradisi kejawen, hidup manusia dipahami sebagai “mampir ngombe” — singgah sebentar untuk minum. Dunia bukan tempat tinggal abadi. Karena itu, kematian dianggap sebagai kembali kepada asal kehidupan- sangkan paraning dumadi. Beberapa gagasan penting dalam kejawen tentang kematian sebagai berikut:
-Hidup bersifat sementara, segala sesuatu berubah: muda menjadi tua, sehat menjadi sakit, hidup menuju mati. Kesadaran akan kefanaan membuat manusia diajak hidup dengan rendah hati.
-Kematian bukan musuh, yang menimbulkan penderitaan bukan kematian itu sendiri, melainkan keterikatan manusia pada harta, kuasa, gengsi, dan kenikmatan dunia.
-Keselarasan dengan kosmos, manusia dipandang bagian dari jagad raya, mikro kosmos atau jagad cilik dan makro kosmos atau jagad gede. Mati berarti kembali menyatu dengan asalnya, dengan “Sangkan Paraning Dumadi” — asal dan tujuan segala yang ada.
– Laku prihatin dan pengendalian diri. Orang Jawa diajak melatih batin agar tidak dikuasi hawa nafsu. Dengan demikian, ketika kematian datang, batin tidak panik. Pandangan ini membuat kematian diterima dengan sikap nrimo, bukan pasrah tanpa usaha, tetapi menerima kenyataan hidup dengan kebijaksanaan batin.
Mewakili kejawen yang lebih moderen, pandangan Ki Ageng Suryomentaram yang melihat kematian tidak terutama dipandang sebagai akhir yang menakutkan, melainkan bagian alami dari perjalanan hidup manusia. Pandangan ini lahir dari laku batin: mengenal diri, melepaskan keterikatan, dan hidup selaras dengan kenyataan. Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram sangat menarik karena lebih psikologis dan eksistensial. Ia terkenal dengan ajaran “Kawruh Jiwa” — ilmu tentang jiwa manusia. Menurut Suryomentaram, sumber penderitaan manusia adalah keinginan tanpa batas, rasa memiliki dan identifikasi ego terhadap dunia.
a. Takut Mati Berasal dari “Aku”
Suryomentaram melihat bahwa manusia takut mati karena terlalu melekat pada identitas, tubuh, jabatan,kekayaan,nama baik dan pengakuan orang lain. Ketika semua itu akan hilang, manusia merasa “aku”-nya ikut lenyap maka timbullah ketakutan. Padahal menurutnya, penderitaan muncul karena manusia mengira bahwa segala yang dimiliki adalah dirinya. Karena itu, orang perlu belajar membedakan yang mana diri sejati dan yang mana yang hanya “catatan-catatan pengalaman” dan keinginan.
b. Kebahagiaan Sejati Ada dalam “Saiki, Kene, Ngene”
Salah satu ajaran terkenal Suryomentaram adalah:“saiki, kene, ngene”
(sekarang, di sini, begini). Artinya manusia diajak hadir penuh dalam kenyataan, tanpa terus dikuasai penyesalan masa lalu atau kecemasan masa depan, termasuk ketakutan akan kematian. Baginya, orang yang mengenal dirinya, memahami sifat keinginannya dan tidak diperbudak pamrih, ia akan lebih tenang menghadapi kematian.
c. Mati sebagai Pelepasan Kramadangsa
Dalam Kawruh Jiwa ada istilah “kramadangsa”, yaitu ego atau identitas palsu yang dibangun manusia: aku kaya,aku pintar,aku terhormat dan aku penting. Kematian menghancurkan semua label itu. Maka kematian sebenarnya memperlihatkan bahwa ego manusia tidak kekal. Orang yang sudah melatih batin sejak hidup dianggap lebih siap untuk tidak terlalu takut kehilangan, tidak terlalu haus pengakuan dan lebih damai menghadapi ajal.
3. Nuansa Spiritual dan Filosofis
Pandangan kejawen dan Suryomentaram tidak terlalu menekankan hukuman atau ancaman setelah mati, melainkan kualitas kesadaran hidup sekarang,kejernihan batin, dan kebebasan dari keterikatan. Oleh karena itu, kematian menjadi cermin: apakah selama hidup manusia sungguh mengenal dirinya, atau hanya sibuk mengejar keinginan? Dalam perspektif Jawa, kematian sering dipandang dengan keheningan, bukan sekadar tragedi, melainkan pulang, kembali kepada asal kehidupan.
4. Refleksi
Dalam perspektif Suryomentaram, orang yang takut mati sering kali sebenarnya takut
kehilangan miliknya, kehilangan perannya,kehilangan “aku”-nya.
Sedangkan orang yang sudah memahami hakikat hidup akan melihat bahwa hidup dan mati hanyalah perubahan keadaan dalam perjalanan manusia. Oleh sebab itu, kebijaksanaan hidup bukan terutama memperpanjang umur sebagaimana dikejar tradisi Barat, melainkan hidup tanpa pamrih berlebihan, mengenal diri dan berdamai dengan kenyataan bahwa semua yang datang akan pergi.
Bicara Kejawen tak bisa lepas dari dunia pewayangan karena di dalamnya mengandung jaran dan tuntunan tentang kehidupan. Dalam pewayangan Jawa, kematian bukan sekadar akhir biologis, melainkan bagian dari perjalanan kosmis manusia. Wayang memandang hidup sebagai lakon ( peran yang harus dimainkan), yakni manusia datang, menjalankan peran, lalu kembali kepada asalnya. Karena itu, kematian dalam wayang hampir selalu mengandung pesan moral, spiritual, dan filosofis.
Tokoh-tokoh wayang tidak hanya “mati”, tetapi menunjukkan bagaimana manusia seharusnya menghadapi kefanaan. Beberapa pokok pikiran Jawa dalam pewayangan sebagai berikut:
1. Hidup sebagai “Lakon”
Dalam tradisi wayang Jawa, dunia dipahami sebagai panggung kehidupan dan manusia adalah pelaku lakon sementara Yang Mahakuasa adalah “dalang agung”. Karena itu ada ungkapan Jawa: “Urip iku mung mampir ngombe” (hidup hanya singgah sebentar). Kematian dipandang sebagai akhir dari satu lakon, sekaligus kembalinya manusia kepada asalnya. Pandangan ini dekat dengan konsep Jawa sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup manusia).
2. Kematian sebagai Ujian Kesempurnaan Jiwa
Dalam pewayangan, cara seseorang mati lebih penting daripada kematian itu sendiri. Tokoh ksatria sejati tidak takut mati, tetapi lebih takut kehilangan kehormatan dan dharma, ia menerima ajal dengan kesadaran batin. Contoh-contoh kstaria yang gagah berani menerima kematiannya:
Resi Bhisma
Bhisma adalah salah satu tokoh paling agung dalam kisah Mahabharata. Ia dikenal sebagai ksatria suci yang setia kepada takhta Hastinapura dan memiliki sumpah hidup membujang ( selibat,wadat) demi kerajaan. Karena kesetiaan dan tapa bratanya, Bhisma mendapat anugerah iccha mrityu, yaitu dapat menentukan sendiri waktu kematiannya. Dalam perang besar Bharatayudha di Kurukshetra, Bhisma menjadi panglima pihak Korawa. Selama berhari-hari ia tidak terkalahkan. Para Pandawa akhirnya mengetahui bahwa Bhisma tidak akan melawan seorang perempuan maka Arjuna maju berperang dengan ditemani Srikandi di depan keretanya. Bhisma mengenali Srikandi dan menurunkan senjatanya karena menganggapnya perempuan. Saat itulah Arjuna melepaskan ribuan panah yang menembus tubuh Bhisma. Tubuh sang resi jatuh, tetapi tidak menyentuh tanah karena tertopang oleh panah-panah, sehingga disebut “ranjang panah” (saratalpa). Meski terluka parah, Bhisma belum meninggal karena ia memiliki kuasa menentukan saat kematiannya sendiri. Di atas ranjang panah itu, Bhisma masih memberi nasihat tentang dharma, kepemimpinan, dan kehidupan kepada para Pandawa. Setelah matahari bergerak ke utara (uttarayana), yang dianggap waktu suci untuk meninggal, Bhisma akhirnya melepaskan nyawanya dengan tenang. Kisah kematian Bhisma sering dipandang sebagai lambang kesetiaan, pengorbanan, dan penerimaan kematian dengan kesadaran spiritual yang tinggi. Bhisma melambangkan kebijaksanaan dan pengendalian diri. Ia memiliki hak memilih waktu kematiannya (iccha mrityu). Dalam wayang Jawa, kematiannya mengajarkan bahwa ketenangan menghadapi ajal,pelepasan duniawi dan kesadaran spiritual.
Gatotkaca
Gatotkaca adalah putra Bima dengan Dewi Arimbi. Ia dikenal sebagai ksatria sakti yang mampu terbang di angkasa dan dijuluki “otot kawat balung wesi.”Dalam kisah perang Bharatayuda, Gatotkaca gugur saat menghadapi Karna. Saat itu pasukan Pandawa terdesak oleh kekuatan Kurawa. Gatotkaca maju ke medan perang dan mengamuk dari udara sehingga banyak prajurit Kurawa ketakutan. Karna sebenarnya menyimpan senjata sakti bernama Kunta Wijayandanu (dalam versi India dikenal sebagai Vasavi Shakti), pemberian dewa yang hanya dapat dipakai satu kali. Senjata itu awalnya disiapkan untuk membunuh Arjuna. Namun karena Gatotkaca sangat sulit dikalahkan dan membuat pasukan Kurawa kacau, Karna akhirnya terpaksa menggunakan senjata pamungkas itu kepada Gatotkaca. Senjata tersebut menembus tubuhnya. Dalam keadaan sekarat, Gatotkaca jatuh dari langit. Tubuhnya yang besar menimpa banyak pasukan Kurawa sehingga kematiannya tetap memberi keuntungan bagi pihak Pandawa. Dalam pewayangan Jawa, kematian Gatotkaca sering dipandang sebagai lambang pengorbanan seorang ksatria demi kemenangan dan keselamatan banyak orang. Kematian Gatotkaca sangat terkenal dalam pedalangan Jawa. Ia gugur di medan perang demi keselamatan banyak orang. Karena itu, kematiannya dipandang sebagai yang heroik, penuh pengorbanan,dan mulia. Dalam budaya Jawa, Gatotkaca menjadi symbol lebih baik mati demi kebenaran daripada hidup tanpa kehormatan.
3. Semar dan Kebijaksanaan tentang Kematian
Semar sering memberi wejangan bahwa manusia tidak boleh sombong karena kekuasaan akan hilang,tubuh akan rusak dan semua akhirnya mati. Semar mengingatkan bahwa raja dan rakyat sama-sama fana,manusia hanyalah titipan waktu. Oleh sebab itu, yang penting bukan panjangnya hidup, tetapi keluhuran budi, kejujuran,dan keseimbangan batin.
4. Kematian dan Pelepasan Ego
Dalam pewayangan Jawa, tokoh angkara murka biasanya mati tragis karena dikuasai nafsu, serakah,haus kuasa dan tidak mampu mengendalikan diri. Sebaliknya, ksatria utama rela berkorban, tidak melekat pada dunia dan menerima takdir dengan kesadaran. Dengan cara demikian, kematian dalam wayang sering menjadi simbol hancurnya ego,kalahnya hawa nafsu dan kemenangan kebijaksanaan.
5. Gunungan sebagai Lambang Kehidupan dan Kematian
Gunungan Wayang dalam pertunjukan wayang melambangkan awal kehidupan, perjalanan manusia,dan akhir kehidupan. Saat gunungan ditancapkan pertunjukan dimulai, dan ketika ditutup,lakon selesai. Ini menyimbolkan bahwa hidup manusia pun demikian — datang dari misteri dan kembali ke misteri.
6. Nuansa Spiritual Jawa
Berbeda dari pandangan yang sangat menakutkan tentang kematian, pewayangan Jawa lebih menekankan:
harmoni, penerimaan dan keluhuran batin. Kematian bukan sekadar kehilangan, tetapi saat manusia diuji apakah ia hidup dengan dharma atau dikuasai hawa nafsu. Karena itu, banyak wejangan wayang mengajak manusia eling lan waspada (ingat dan sadar), hidup sederhana,tidak mabuk kekuasaan, dan siap kapan saja dipanggil pulang.
Refleksi
Dalam pewayangan Jawa, kematian bukan akhir cerita, melainkan bagian dari perjalanan jiwa menuju kesempurnaan. Yang dikenang bukan siapa yang paling lama hidup, tetapi siapa yang hidup dengan bijaksana,setia pada kebenaran, dan meninggalkan keluhuran bagi sesama.

