SUMSUMAN

SUMSUMAN

Tradisi

Di Jawa kita mengenal jenang/bubur sumsum. Dibuat dari tepung beras dan santan, bertekstur lembut, rasanya gurih, berwarna putih menyerupai sumsum binatang berkaki empat. Umumnya orang lebih suka menyebutnya jenang sumsum ketimbang bubur sumsum. Alasannya jenang sumsum itu bertekstur sungguh halus-lembut, berbeda dan lebih lembut dari bubur nasi yang biasa kita santap untuk
sarapan atau makan pagi.

Ciri khas lain dari jenang sumsum adalah selalu disajikan dengan siraman juruh, cairan manis berwarna merah tua yang terbuat dari gula Jawa. Dengan begitu setiap suapan jenang sumsum terasa lembut, gurih dan manis sekaligus. Melihat jenang sumsum yg berwarna putih bersaput merah dengan mudah orang mengasosiasikannya dengan sumsum dan darah kita, dua unsur vital yg keberadaannya memungkinkan kita bekerja demi kepentingan orang lain dan kepentingan bersama.

Dalam tradisi Jawa, bersama-sama menyantap jenang sumsum disebut sumsuman. Sumsuman bukanlah sekedar makan/menyantap jenang sumsum bersama-sama. Sumsuman dijadikan simbol Syukuran. Sumsuman selalu diadakan sesudah hajatan, seperti pernikahan, khitanan. Dalam acara sumsuman pemangku hajat mengundang semua orang yang membantu terselenggaranya hajatan. Dengan acara sumsuman itu pemangku hajat hendak mengungkapkan:

  1. Puji syukur kepada Tuhan atas pertolonganNya hingga hajatan berlangsung dengan baik tanpa kendala yang menggagalkan.
  2. Ucapan terimakasih kepada semua orang yang dengan murah hati membantu penyelenggaraan hajatan hingga berlangsung dengan baik.
  3. Memohon kepada Tuhan agar kebugaran semua orang yang telah membantu hajatan dipulihkan.
  4. Tali persaudaraan makin kuat, kemurahan hati untuk membantu orang yang punya kerepotan hajatan dipupuk.

Dalam tradisi sumsuman nilai-nilai hidup beriman dan hidup bersama saling menolong, khususnya saat ada hajatan, diungkapkan dan dirayakan. Dalam acara sumsuman orang bukan hanya menyantap jenang sumsum, tetapi ikut bersyukur kepada Tuhan, ikut berterimakasih atas kemurahan hati banyak orang yang rela menolong, ikut berharap kebugaran segera pulih seusai hajatan , ikut pula berharap tali persaudaraan kian kuat dan kesediaan menolong terawat untuk kehidupan bersama di waktu mendatang. (Yohanes Haryanto)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *