SALIB TANDA KEHINAAN DIUBAH MENJADI TANDA KEBANGGAAN

SALIB TANDA KEHINAAN DIUBAH MENJADI TANDA KEBANGGAAN

Oleh: Thomas Suhardjono

Renungan Harian

Minggu, 14 September 2025:

Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. 3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, 3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. (Yoh 3:13-17)

Di jaman Yesus, mungkin juga di jaman kita sekarang ini, penyaliban adalah hukuman mati sekaligus penghinaan sekeji-kejinya bagi seorang manusia, yang dianggap bersalah atau dianggap paling jahat sedunia. Tidak ada naik banding lagi, tidak ada remisi lagi, langsung eksekusi. Di mata Yesus sebagai manusia, hal ini tampaknya juga memenuhi pikiran-Nya, ketika Yesus berdoa di Taman Getsemane sebelum ditangkap para serdadu. Yesus tahu bahwa disalib itu dihina, disiksa, dibunuh sekeji-kejinya. Maka doa-Nya, “Ya Bapa, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku…” (Mat 26:39a)

Namun Yesus melanjutkan doa-Nya, “tetapi janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (ay39b). Dari situlah terjadi titik balik sejarah dunia yang diselamatkan oleh Allah. Salib dikehendaki oleh Allah sebagai tanda KEMENANGAN, bukan lagi kekalahan atau penghinaan. Yesus disalib berarti Yesus menang dari kuasa jahat atau dosa, karena Yesus tidak berhenti pada kematian dan turun ke tempat penantian, melainkan Dia bangkit pada hari ketiga. Yesus ditinggikan, seperti Musa meninggikan ular di padang gurun (Bil 21:9). Siapa pun yang memandang ular itu, ia akan hidup. Demikianlah, siapa pun yang melihat Salib Yesus, akan tetap hidup untuk selama-lamanya; seperti Yesus yang bangkit dari alam maut.

Hidup Bersama Salib

Di jaman ini, salib sering diartikan sebagai beban dan kesulitan hidup sehari-hari. Setiap orang memiliki salib, dan harus memanggul salibnya masing-masing. Kadang satu orang tidak sama salibnya dengan orang lain, namun karena keterbatasan sebagai manusia, maka salib adalah keniscayaan, keharusan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya?

Ada teman yang divonis CA tahap akhir, merasakan bebannya sangat berat, berjuang ke sana kemari mencari pengobatan yang paling manjur, bahkan dengan biaya sebesar apa pun. Itulah sakib yang harus dikorbankannya agar dia sembuh. Namun ketika hampir habis semua kekayaannya, dia mendengarkan sharing sahabatnya, bahwa seberat apa pun, kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap salib hidup kita. Penyakit itu bukanlah salib yang harus disingkirkan, melainkan sahabat yang harus dijadikan pendamping hidup kita. Bagaimana kita bisa hideup berdampingan dengan penyakit kita? Biarlah Tuhan yang menentukan berapa lama lagi kita hisup; tapi kitalah yang menentukan bahwa hidup itu perlu bahagia. Penyakit adalah saudara kita. Dan anehnya, sampai sekarang teman tersebut masih hidup meski ada CA di tubuhnya. Salib bukanlah penghinaan, melainkan sahabat yang ditinggikan. Itulah salib yang suci.

Marilah berdoa,

Kami diciptakan di dunia sebagai manusia yang memiliki keterbatasan. Sering kali keinginan kami lebih tinggi daripada kemampuan kami. Sering kali kami menciptakan beban hidup bagi diri kami sendiri. Belum lagi bila kami tertumbuk pada sesuatu yang sungguh menghalangi jalan kami.

Ajarlah kami untuk mengubah salib kejatuhan itu menjadi salib kebanggaan, sehingga kami tidak lagi merasakan beratnya beban hidup, melainkan kami memiliki kebanggaan, telah ikut serta memanggul salib-Mu. Sehingga salib kami menjadi suci seperti salib-Mu sendiri. Sebab Engkaulah juru selamat kami, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Thom Hardjono

Pemerhati pendidikan, keluarga, hidup rohani, humaniora dan hidup bermasyarakat. 100% Katolik 100% Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *