Korupsi dan Melawan Roh Jahat
Lawan dengan Keras, Jangan Permisif’
Salah satu bahan Latihan Rohani ala Ignasius Loyola adalah pembedaan Roh. Bagaimana Roh Baik atau Roh Kudus dan roh jahat itu bekerja. Mereka ada dalam hidup sehari-hari setiap individu. Dorongan Roh Baik atau Roh Kudus, namun juga bersisian dengan godaan dari si jahat.
Bangsa ini sedang sakit dengan maraknya korupsi. Begitu banyak kasus penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang. KPK, Kejaksaan Agung, Bareskrim Polri bekerja bahu membahu, namun sekadar menangkapi pelaku, namun perilaku korup alias maling berdasi ini malah seolah makin marak.
Berbagai-bagai dalih, alibi, rasionalisasi, pembenaran diri, dan tetek bengek lainnya dijadikan alasan bahwa itu bukan korupsi. Pengacara-pengacara handalpun berderet-deret untuk menjadi pengacara dan pembela bagi para pelaku korupsi ini pantas jika warga marah dan terjadi rusuh beberapa waktu lalu. Lebih ngeri apa yang ditunjukkan oleh warga Nepal yang menelanjangi dan membuang wakil rakyatnya sendiri ke sungai.
Ada sebuah pernyataan yang mengatakan, bahwa negeri ini kaya, namun masyarakatnya miskin. Pilu menyadarinya, namun faktanya memang demikian.
Si Jahat Harus Dilawan dengan Keras
Sikap permisif membuat kita kalah. Keras, tegas, dan lugas, jangan kenal kompromi pada si jahat. Pasti kita akan kalah. Mereka, baca si jahat ini sangat cerdik. Mengatasi mereka hanya bisa dengan ketegasan dan keraskan diri untuk tidak mau dijebak dalam pola kerja mereka.
Mereka sangat lembut, halus, dan cerdik untuk menggoda kita agar jatuh. Contoh, awalnya bekerja sangat jujur, menjunjung tinggi integritas. Suatu hari anaknya pengin memiliki smartphone seperti teman-temannya. Istrinya sudah mendesak, toh anak teman-teman suaminya juga memiliki semuanya. Terlalu jujur sih dalam kerja, ada sedikit celaan dari pasangannya.
Eh, rekan istrinya ini pengusaha yang mau mengurus sebuah izin yang memang melalui kantor si suami. Istrinya mengatakan, kawannya akan memberikan uang terima kasih yang cukup besar, jika hanya membelikan keinginan buah hati mereka. Toh, semua rekannya di kantor juga melakukan itu, dorongan istrinya.
Malamnya, sebelum tidur mengiang rengekan anaknya pengin punya smartphone seperti milik temannya. Dengingan suara istrinya yang mengatakan membantu rekannya. Dua sikap baik, menyenangkan anak dan membantu rekan istrinya. Ia tidak bisa tidur.
Di kantor benar ada berkas seperti yang istrinya katakan. Di sana juga ada terselip sebuah amplop tipis. Tidak aka nada yang tahu apa isinya, atau fungsi amplop itu. Pas dicek ternyata sebuah janji pemberian ungkapan terima kasih yang cukup besar. Ia inga tapa yang terjadi menjelang tidur itu, menyenangkan anak-istri, membantu teman, itu kebaikan.
Ia bimbang, namun ada rekannya yang datang dan mengatakan, ah itu biasa, ambil saja, semua juga melakukan kog. Lihat tuh kendaraanmu, rumahmu, penampilanmu beda dengan kami-kami ini.
Hatinya makin panas. Berkas itu akhirnya ia setujui, meskipun banyak hal yang tidak layak. Buat apa jujur jika malah jadi bahan olok-olokan. Anak menderita, istri cemberut terus, membantu teman kan baik.
Terlena. Godaan itu banyak dukungan. Jalannya mulus, gampang, dan biasanya banyak kawannya. Sudah masuk dalam jebakan si jahat.
Jalan Sunyi, Kebaikan
Berkebalikan dengan Roh Baik. Biasanya sunyi, tidak banyak yang mampu memilihnya. Kuasa baik sering kalah suara dengan dengungan kejahatan yang terus menerus datang, dukungan banyak, namun belum tentu itu benar. Berani tidak mengambil jalan yang berbeda.
Hidup bersama di negara ini sering terjadi adalah pokoknya banyak, mayoritas, itu benar. Sendirian, sedikit, dan minoritas siap-siap dianggap salah. Nah, berani tidak mendengarkan suara hati dan melakukannya jika hanya sendirian saja?
Salam JMJ
Susy Haryawan

