Anjing yang Tamak
Guru tertarik memperhatikan seekor anjing. Anjing berbadan besar, berwarna hitam itu tampak sangar. Ia sedang menggigit sebatang tulang. Anjing itu menjaga dan mempertahankan tulangnya. Ia seolah tidak berkenan bila anjing lain mulai mendekat. Ia akan menggeram dengan ganas. Anjing-anjing yang mencoba mendekat dan merebut tulang pun keder, menghindar dan menjauh darinya.
Anjing sangar itu tiba di tepi sebuah kolam. Ia masih menggigit tulang di mulutnya. Air kolam jernih dan tenang layaknya sebuah cermin baginya. Ketika menatap pada air kolam, ia merasa ada anjing lain bersama dengannya. Anjing besar berwarna hitam itu merasa terancam. Ia hilir mudik mengitari tepian kolam. Ia melihat seolah ada anjing lain yang menyaingi dan merebut tulang di mulutnya.
Melihat anjing di dalam kolam melakukan hal yang sama, ia pun mulai menyalak. Saat itu pula, tulang yang ada di mulutnya terlepas dan jatuh di kolam yang berair jernih. Tulang yang diperjuangkan, dan bahkan merusak hubungan dengan anjing lain pun, tenggelam dalam beningnya air kolam.***
Secara lebih jelas dari dalam jurang daripada Orang yang bijaksana dapat melihat seorang bodoh yang berada di atas puncak gunung.
– Anonim –

