Berani Menerima Kritik
Renungan Harian
Oleh Y. Haryanto
Kamis, 16 Oktober 2025
Bacaan : Injil Lukas 11: 47-54
“Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus menerus mengintai dan membanjiriNya dengan rupa rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancingNya supaya mereka dapat menangkapNya berdasar sesuatu yang diucapkanNya” (Luk 11: 53-54)
Bapak Ibu, Saudara/i terkasih dalam Kristus, Berkah Dalem, Tuhan memberkati kita semua!
Saya ingin mengajak anda sekalian untuk : 1. Masih melihat kelanjutan kecaman Yesus atas kemunafikan para ahli Taurat dan kaum Farisi, 2. Reaksi mereka terhadap kecaman Yesus itu. 3. Menangkap pesan Sabda hari ini untuk hidup keseharian kita.
- Tuhan Yesus mengecam kemunafikan para ahli Taurat dan kaum Farisi. Kali ini telunjuk Tuhan Yesus mengarah pada dua perilaku munafik mereka :
Yang pertama secara lahir mereka membangun makam para nabi, bermaksud mendapat kesan mereka menghormati para nabi. Tetapi tindakan lahiriah itu tidak sejalan dengan batin mereka yang membenci Yesus, sebagaimana para leluhur mereka yang membenci dan membunuh para nabi. (Luk.11:47-51)
Yang kedua, secara lahir merekalah yang memiliki kewenangan menafsirkan hukum Taurat, tetapi mereka sendiri tidak mau benar-benar memahami maksud dan mewujudkan pesannya dalam penghayatan hidup sehari-hari mereka. Lebih dari itu mereka menghalangi orang yang benar-benar ingin memahami maksud hukum Taurat dan mewujudkan pesannya dalam penghayatan hidup sehari-hari. (Luk.11:52) - Reaksi para ahli Taurat dan kaum Farisi terhadap kecaman Yesus. Bukannya menjadi sadar akan kemunafikan mereka dan bertobat, mereka menjadi marah serta menyimpan dendam: “berusaha memancingNya supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasar sesuatu yang diucapkan-Nya” (Luk.11:54)
- Renungan
Bapak, Ibu, Saudara/i, bukanlah hal tercela mengakui kelemahan kita. Kita itu lemah secara fisik, “ringkih” (bhs.Jawa). Kita semua tidak bisa menghindar dari lelah dan ancaman penyakit. Bukan itu saja, kita pun lemah secara batiniah, “sekeng” (bhs.Jawa) : mudah lupa diri, kehendak lemah, tidak peka terhadap Suara Hati, menutup telinga terhadap bisikan Sabda Tuhan. Lepas dari keinginan tulus kita untuk menjadi orang beriman yang baik, gegara kelemahan yang kita sandang kita rentan jatuh dalam kesalahan.
Beruntunglah kita bahwa Tuhan peduli. Tuhan tidak membiarkan saja kita larut dalam tindak salah yang berkelanjutan tanpa koreksi. Kepedulian Tuhan itu bisa saja mengambil wujud nyata dalam koreksi atau kritik orang-orang terdekat. Menghadapi koreksi atau kritik itu bagaimana respon kita? Kita menjadi marah dan menyimpan dendam seperti para ahli Taurat dan kaum Farisi terhadap koreksi, kritik Tuhan Yesus? Tentu ini bukan pilihan kita. Kita paham : amarah dan dendam terhadap orang yang memberi kritik, koreksi terhadap kesalahan kita tak akan membawa keselamatan. Kita diundang untuk berani dengan rendah hati menerima koreksi, menerima kritik.
Doa
Tuhan ajarlah kami bersikap bersahaja, menyelaraskan isi hati dan tindakan kami, berani menerima kritik dan koreksi manakala kami berbuat salah.
Amin.

