Pendidikan dan Ketegasan, Sebuah Prinsip

Pendidikan dan Ketegasan, Sebuah Prinsip


Belajar dari SMA N 1 Cimarga


Sebuah kisah miris terjadi di Tangerang, Banten. Seorang Ibu Kepapa Sekolah di sana menampar muridnya karena kedapatan merokok di sekolah. Hal sederhana sebenarnya, menjadi berita nasional karena siswa-siswi lain yang berjumlah 600-an mogok sekolah. Solidaritas katanya.


Pimpinan daerah langsung bereaksi, Gubernur Banten menonaktifkan kepala sekolah tersebut. Wagub memberikan pernyataan bahwa kesalahan siswa atau anak harus dipahami, bukan dihukum. Seolah kerja keren, cerdas, dan luar biasa.


Solidaritas Positif itu Bagian Pendidikan
Benar, tamparan itu salah, keliru, dan pastinya tidak pas. Namun, tentu masih bisa dipahami, ketika sudah mentok, mau apalagi. Melihat orang merokok tidak pada tempatnya saja sudah gedeg, apalagi ini murid, di sekolah pula. Betul masih banyak tindakan lainnya, namun bisa dipahami, bahwa itu tidak gampang.


Solidaritas dari teman-temannya ini berdampak panjang. Konon sudah banyak pernyataan bahwa alumni sekolah ini “kesulitan” pada saat bekerja nanti. Pihak-pihak pemberi kerja sudah mengatakan, akan menandai mereka, agar tidak bisa masuk kerja di tempat mereka.

Masa depan terhambat karena solidaritas yang tidak tepat. Apa yang mereka lakukan tidak sepenuhnya salah, namun tidak juga benar. Sangat mungkin ini ada politisasi di sana. Bagaimana bisa serempak ratusan anak mogok, jika tanpa koordinator.


Lain, ketika ada video yang menayangkan sebuah tindakan solidaritas positif, di mana nanak-anak sekolah sekelas saweran untuk membelikan sepatu temannya. Inilah solidaritas, kesulitan teman diselesaikan bersama, bukan yang ini.


Politisasi Pendidikan
Sekolah pun penuh intrik dan politik. Jabatan strategis banyak yang mau. Kog curiga, tidak mungkin deh teman-temannya solider demi anak ini. Maaf bukan body shaming, melihat tampilannya gak ada kekuatan untuk menghimpun massa dan mogok begitu. Layak diselidiki, jangan-jangan ada pihak yang memiliki kepentingan.


Narasi yang beredar si Ibu Kepsek emosional, namun ada yang mengatakan sebaliknya, bahwa ibu ini tegas, sehingga tidak disukai. Lebih tepat alasan politis, mengenai menampar ini pemicu semata. Miris jika anak-anak dijadikan tumbal kepentingan pihak-pihak tertentu.


Sangat mungkin yang dapat untung itu tidak terdampak apa-apa. Hanya kecele kareka kepsek tidak jadi diganti. Murid yang terancam black list kerjaan di masa nanti?


Pastinya, tidak akan ada penyelidikan atau pengusutan ke arah sana. Sekadar booming sesaat, nanti juga terlupa.


Salam JMJ

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *