PENGENALAN SAYA TENTANG PAK BROTO SANTOSO
BRAMIN 8
Pada episode pertama saya pernah menuliskan judul Bramin Hadir dalam Duka Lara. Itu terjadi dalam
perjuangan awal kedatangan saya di Jakarta. Pertemuan antar anggota Bramin sudah terjadi berulang
kali. Silaturahmi sambung menyambung. Beliau pernah menjadi Ketua Bramin pada periode 2002 –
2012, catatan itu dapat dilihat dalam buku Ngumpulke Balung Pisah Jilid 3 halaman 191. Pada tulisan ini
saya akan membuat cerita detail versi pengenalan saya tentang beliau.
Sebenarnya saya sudah “mengenalnya” lewat rekaman Homili pada kaset yang diproduksi oleh Komsos
Keuskupan Agung Semarang. Homilinya bagus. Mengesankan. Maka Komsos KAS merekamnya dalam
kaset pita pada zamannya. Saya masih ingat salah satu homilinya dalam rekaman itu tentang Yesus
dimuliakan di Gunung Tabor. Sambil Opera di ruang rekreasi Novisiat Jl. Muwardi 13 Gendongan Salatiga
di Tahun 1984-1985 saya mendengarkan kaset itu lewat tape recorder yang di setel dalam ruangan itu.
Maka tidak heran jika dalam Buku Prodiakon Melayani Sepenuh Hati sharing dari pengalaman teman-
teman para Mantan yang kemudian melayani di gerejanya sebagai Prodiakon, beliau menulis catatan
tentang Prodiakon Sebagai Pewarta Sabda (Sebuah Pembekalan) di dalamnya ada tips cara menyusun
homili. Pada halaman 252 – 258. Tentu catatan tersebut sangat bermanfaat dalam tugas sebagai
Prodiakon.
Pada saat awal datang di Jakarta tunangan saya pernah diuji oleh Pak Broto untuk menjadi salah satu
staf di Mandara Permai suatu Perusahaan Properti di daerah Pantai Indah Kapuk (PIK). Hanya saja hasil
ujiannya dia tidak lulus. Saya menunggu di luar ruangan saat dia sedang diminta mengetik pada
computer – mungkin untuk mengukur kecepatan dan kecermatannya dalam menggunakan computer.
Dia gagal. Bagi saya hal itu tidak menjadi persoalan. Jika pun lulus mungkin malah akan menimbulkan
kesulitan bagi kami karena saya tinggal di Depok. Dia di Otista- Bidara Cina. Tentu jika di terima di sana
dan harus pulang balik dari tempat bekerja ke tempat tinggal akan menjadi sangat repot karena jaraknya
yang jauh dan transportasi umum sangat terbatas dan harus berganti-ganti. Terminal terakhir untuk
dapat mengakses ke perumahan di Mandara Permai dengan kendaraan umum adalah terminal Grogol.
Dengan bis Mayasari Bakti yang jumlahnya sedikit yang trayeknya ke arah itu.
Saya belum kenal dekat juga dengan pak Broto pada waktu itu. Dengan begitu pak Broto juga bisa
objektif. Menerima atau tidak menerima calon pegawai yang diujinya. Mungkin kalau ujiannya itu terjadi
pada saat ini – pada saat istri saya sudah lama bekerja di Jakarta dalam bidang Keuangan (dan saat ini
menjadi Bendahara PBMN yang cukup rapi catatan keuangannya), Pak Broto tidak akan menolak
menerima dia sebagai pegawai administrasinya. Sekarang ini Pak Broto kalau panggil istri saya sering
pakai bahasa Jawa yang halus: Jeng Anik.
Di perusahaan dimana Bapak broto menjadi General Managernya (yang juga membidangi SDM) ada Ririk
(Joko Tri Irianto) dan Eks Frater CM yang kemudian menjadi adik ipar saya karena menikah dengan adik
istri saya.
Ririk di Bagian Legal dari Perusahaan itu, karena dia memiliki ijazah Sarjana Hukum dari Solo. Tugasnya
mengurus persoalan yang terkait dengan Hukum. Sedang Om Markus yang eks Frater CM mengurus
komunikasi dengan warga perumahan Mandara Permai. Terkait dengan keperluan-keperluan
menyangkut lingkungan seperti urusan RT, got yang bermasalah dll dan mungkin juga terkait dengan processing atau maintenance. Hanya saja seingat saya mereka tidak terlalu lama berkerja di sana 3-4
tahun saja. Karena Ririk dapat pekerjaan baru dibeberapa tempat lagi. Di dekat Pintu toll kebon Jeruk, di
Poultry daerah Serang, di daerah dekat Lebak Bulus dan terakhir sebelum Kembali ke Solo Di Tunas
Toyota Pasar Minggu. Sedang adik ipar saya Om Markus, yang terakhir ini diangkat menjadi
Penyelenggara Bimas Katolik di Kota Tangsel. BSD.
Perkenalan lebih dekat selanjutnya setelah beberapa kali pertemuan di Aula Paroki Gereja Rawa
mangun dan setelah beliau menjadi Ketua Bramin. Beliau memiliki sifat kebapakan yang pekat. Bisa
merangkul semua dan memang mengenal banyak para senior yang mungkin segenerasi dengan nya.
Beliau mengenal ibu-ibu senior cukup dekat. Bu Titik Minarto, yang menjadi bendahara paguyuban pada
jamannya. Bu Yani – Harso Wijoyo, bu Anik Hernanto, beliaulah yang mengingatkan – mengundang jika
ada pertemuan Bramin yang akan dilaksanakan pada suatu saat entah dimana tempatnya.
Pak Broto Santoso pernah tinggal di daerah Condet. Ibu Yustin jantung hatinya bekerja sebagai dokter
specialis kulit (atau mungkin kecantikan) di RS. Bunda dekat Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur.
Seorang putrinya buah hatinya : Maria Satya Paramitha juga sudah lulus menjadi dokter specialis bidang
penelitan medis, mungkin mengikuti jejak Mamanya. Sebenarnya ada lagi putranya Theodorus Satya
Mariano, tetapi putranya ini sudah dipanggil Tuhan pada usia dini.
Pada saat duka itu relasi personal kami sudah dekat. Saya hadir pada saat peristiwa duka itu terjadi. Saya
masih tinggal rumah kontrakan di Jl. Mujair V No. 27 Rawabambu Pasar Minggu. Hadir untuk turut
berbela duka di rumah Bapak Broto Santoso. Saya masih menikmati hidup seperti waktu di di Wisma
Nasareth Yogya. Saya naik sepeda pancal dari rumah ke Condet. Sepeda warna metallik merk Polygon.
Sedikit lebih baik daripada sepeda di garasi Wisma Nasaret yang tidak ada gear perpindahan giginya.
Tetapi tetap sama-sama sepeda — bukan sepeda motor. Jarak antara rumah kontrakan di Pasar Minggu
ke Condet (Bale Kambang? Saya lupa nama tempatnya) melalui traffic light Tanjung Barat ke Timur
menyusuri jalan TB Simatupang disamping toll sampai pertigaan Condet dekat Komplek Asrama Rindam
(Resimen Induk Kodam Jaya Jakarta) terus belok kiri ke arah utara yang menuju Condet – PGC Cililitan
walau tidak sejauh itu. Sesudah melewati kompleks Rindam kira-kira 2 km kemudian belok ke kanan –
lurus sampailah rumah pak Broto di sisi kiri. Tidak terlalu jauh sekitar 6-8 Km saja dari rumah kontrakan
saya di Pasar Minggu. Jadi naik sepeda yang memiliki perpindahan gigi gear tidak membuat perjalanan
terlalu lelah. Malah menjadi kesempatan juga untuk berolah raga.
Beliau juga memiliki rumah di daerah Kramat Jati – sangat dekat dengan Pasar Induk Kramat Jati,
mendekati tempat kerja ibu dr. Yustin SpKK di RS Bunda. Di Komples Perumahan Lembah Kramat Jati.
Saat pemberkatan rumah dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin Mgr. Sutrino Atmoko MSF Uskup
Palangkaraya saya juga hadir – mengendarai sepeda yang sama. Rutenya bertambah lebih jauh sedikit.
Mungkin menjadi sekitar 10-11 Km. Dari jalur yang sama itu baru berbelok ke kiri setelah Lampu Merah
Pasar Rebo. Terus menyusuri jalur ke utara ke arah Pasar Induk. Sedikit setelah melewati Pasar Induk
Kramat Jati di sebalah kanan jalan ada turunan yang agak curam berbelok tajam setelah ke kanan lalu ke
kiri. Di situlah letak komleks perumahan dengan bangunan rumah yang cukup besar dan fasilitas umum
jalan yang cukup lebar. Saya dengan sepeda kesayangan itu hadir kembali di rumah pak Broto Santoso –
kali ini untuk turut bersyukur dan bergembira atas pemberkatan rumah Bapak Broto Santoso. Banyak
juga warga Bramin yang hadir saat itu. Seingat saya Rm. Cokro juga hadir. Romo Cokro sudah tinggal di
Pasar Minggu di paroki Rm. Hadi Wijoyo. Atau masih tinggal Bersama Pak Dhe Hendro Warsito di
Cijantung?
Ternyata rumah pak Broto di Perumahan Lembah Kramat Jati itu dekat rumah (kontrakan) tetangga saya
yang menjadi kurban kebakaran rumah dan yang membawa korban seluruh anggota keluarganya:
Suami-isteri kedua anak kecilnya dan juga seorang pembantunya. Keluarga ini orangtuanya tinggal di Jl.
Mujair III dekat rumah kontrakan saya yang ada di Mujair V selisih satu gang saja. Konon orang tua dari
keluarganya ini baru saja pulang ke Pasar Minggu setelah bertandang ke rumah putranya menengok
anak dan cucu-cucunya – pulang pada pukul 23.00. Menjelang pukul 01.00 dini hari rumah itu terbakar
karena konslet listrik. Sementara jendelanya berterali besi sehingga tetangga yang mau memberikan
pertolongan dari luar tidak bisa. Pintu rumah yang dikunci – kuncinya tidak diketemukan dalam
kepanikan dan kegelapan. Api padam setelah seluruh rumah habis terbakar. Keluarga muda ini sedang
kontrak rumah – karena rumahnya sendiri di dekat situ sedang di renovasi. Karir Kepala Keluarga yang
bekerja di Mayora sedang naik daun. Tetapi Tuhan menentukan lain untuk kebahagiaan hidupnya.
Bahkan habis seluruh anggota keluarganya. Semua jenazah suami- istri- kedua anak di bawa pulang ke
rumah orangtuanya di Pasar Minggu setelah divisum dari rumah sakit. Jalan Gabus Raya Rawabambu
Pasar Minggu – akses ke rumah duka di tempat orangtuanya – tetangga saya itu. Penuh pelayat dari
ujung sampai ke ujung. Jenasah dimakamkan di Makam Umum Tanjung Barat sebelah samping belakang
Gedung Antam. Saya sempat melihat rumah yang ditempati tetangga yang membawa kurban seluruh
keluarganya itu pada saat ikut hadir untuk pemberkatan rumah pak Broto itu. Saya masih tergetar ketika
melihat rumah itu (walaupun sudah diperbaiki lagi). Musibah itu masuk dalam berita televisi dan cukup
viral juga pada waktu itu.
Terakhir sebelum pak Broto pindah ke BSD Cluster Castilla A-5/1 BSD City Tangerang Selatan. Saya dan
istri dan anak-anak pernah semobil dengan beliau saat pulang dari pertemuan Bramin yang ke sekian
kali di Paroki Rawamangun. Saya lupa konteks nya waktu itu pas Natal atau Paskah, atau konteks lain.
Karena Ketika Rm. Wim sudah menjadi Jenderal MSF dan sedang Kembali ke Indonesia dan sebentar
singgah di Rawamangun kami Pagyuban Bramin juga berkumpul di Rawamangun untuk temu kangen
dengan Rm. Wim van der Weiden MSF yang sudah menjadi Jenderal MSF. Dalam perjalanan pulang
dengan mobil SGX warna hijau plat merah – fasiltas kantor yang disediakan untuk saya itu – beliau
bercerita – sebenarnya masih diberikan kesempatan untuk terus bekerja di Mandara Permai. Tetapi
beliau dengan sadar mengambil keputusan untuk istirahat. Bersama kami sampai di Pasar Rebo, beliau
turun di situ dan dari situ dijemput drivernya untuk pulang ke rumah di Kramat Jati.
Saya tidak tahu kapan persisnya pak Broto pindah ke BSD. Saya belum pernah berkunjung ke sana.
Sejumlah teman-teman Bramin tampaknya pernah berkumpul di rumahnya dalam jumlah terbatas. Di
BSD yang paling dekat dengan rumah pak Broto mungkin rumah Mas Gunawan Seno yang ada di Binong-Legok Tangerang Selatan.
Semenjak masa covid tahun 2020 sampai sekarang beliau membatasi diri agar dapat terus menjaga
kesehatan dan juga karena faktor usia. Kedua dokter yang ada di rumah sangat ketat menjaga
kesehatannya. Karena itu kami jarang ketemu onsite-off line lagi dengan beliau. Namun beliau tetap
hadir di Grup PBMN. Menjelang pagi selalu menyapa dengan pesan Injil atau kata-kata berkat. Dua kali
pertemuan Bramin di selenggarakan di Paroki MSF Jagakarsa tempat saya tinggal sekarang beliau tidak
sempat hadir. Yang hadir kue Serabi Solo yang dititipkan lewat mas Gunawan Seno yang mampir ke
rumahnya di BSD. Kuenya enak pak. Khas Solo yang dikirim dari BSD. Kapan malih saget pinanggih
langsung? Sedoyo sami kangen Bapak dan keluarga. Tetap sehat. Panjang Yuswo. Bahagia.
Jakarta, 27 Oktober 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

