ROMO COKRO YANG KUKENAL

ROMO COKRO YANG KUKENAL

BRAMIN 10

Romo Cokro Atmojo, mempunyai nama kecil Rusdiyono. Di awal saya masuk MSF di Novisiat
Gendongan Salatiga, Tingkat I-II-III di Kentungan, beliau sudah menjadi Misionaris di
Kalimantan. Penampilannya dari dulu sampai sekarang masih mirip. Dengan rambut Panjang
agak keriting. Sekarang sudah tampak banyak yang berwarna putih. Posturnya tidak berubah.
Badannya tetap tidak pernah gemuk. Hanya dulu lebih perlente. Pakai T-Shirt, Celana Jean Biru,
Sepatu pantovel kulit berkilap dengan ritsleting di atas mata kaki sebelah dalam. Sepatunya
runcing dan bunyi haknya jika menyentuh lantai. Tok tok tok. Menarik untuk dilihat orang muda
yang menyukai kebebasan. Tampaknya sekarang ini lebih suka memakai sepatu sandal. Bukan
sepatu berkilap. Menyesuaikan daerah misinya yang baru yang berawa-rawa di Keuskupan
Agats-Asmat.
Romo Cokro menjalani Pendidikan Novisiat di Ungaran dan prosesnya berbeda dengan anggota
MSF pada umumnya. Setelah Novis kemudian Pendidikan Filsafat Teologi. Romo Cokro
prosesnya dibalik. Pendidikan Filsafat di Skolastikat lebih dahulu, baru kemudian mengikuti
Pendidikan di Novisiat. Pendidikan Novisiat ini secara kanonik memang diwajibkan untuk
biarawan-biarawati manapun.
Saat saya menjalani TOP Tahun ke 2 di Kalimantan. Bertemu lebih dekat. Karena Romo Cokro
Atmojo adalah Provinsial MSF Provinsi Kalimantan. Dahulu Provinsialat ada di Balikpapan
Kalimantan Timur. Tetapi wilayah kerja MSF tersebar dari Kalimantan Timur, Kalimantan
Tengah, dan Kalimantan Selatan. MSF berkarya pada 2 Keuskupan: Keuskupan Samarinda dan
Keuskupan Banjarmasin. Keuskupan Palangkaraya dan Tanjung Selor belum ada.
Angkatan TOP di Tahun Kedua saya ada 4 orang. Berlima dengan saya dan semuanya
ditugaskan di Kalimantan.
Kami sampai di Bandara Samsudin Nur di Banjarmasin Kalimantan Selatan setelah menjalani
penerbangan selama 2 jam dengan pesawat Bouraq yang sekrang sudah tidak ada lagi. Kami
berangkat dari Provinsialat MSF Jl. Guntur Semarang ke Bandara Ahmad Yani Semarang. Ini
pengalaman terbang saya untuk pertama kali. Agak ngeri juga rasanya, karena sayap pesawat
seperti diikat dengan kawat bendrat yang terpancang dari ujungnya ke arah badan pesawat.
Begitu lepas landas dan daratan serta permukaan air laut tidak kelihatan lagi dari jendela – yang
tampak hitam pekat terasa seperti berada dalam perut ikan. Yang terdengar hanya suara mesin
pesawat yang monoton. Menjelang mendarat baru tampak keindahannya. Karena dari atas
pesawat terlihat sungai Barito berkelok-kelok warna coklat, mengingatkan saya pada buku
bacaan waktu SD kelas V. Sungai di Kalimantan menjadi sarana transportasi. Sekarang ini saya
lihat dengan mata kepala saya sendiri. Pesawat mendarat di bandara Syamsudin Noor – Landasan
Ulin Klimantan Selatan. Darisana dijemput oleh driver dari Keuskupan. Kami dibawa ke
keuskupan Jl. Lambung Mangkurat No.40, Kertak Baru Ilir, Kec. Banjarmasin Tengah, Kota
Banjarmasin, Kalimantan Selatan 70231 untuk transit beberapa hari di sini- sementara menunggu
penjemputan dari Paroki tempat bertugas.

Selama Transit ini saya (saya tidak ingat apakah semua frater juga ikut dalam satu mobil atau
tidak) diajak Rm. Cokro untuk mendapatkan paket obat untuk menghadapi ancaman penyakit
endemic malaria dari Rs. Suaka Insan milik Keuskupan Banjarmasin yang ditangani oleh suster-
suster SPC (Santo Paulus dari Cartes) yang komunitas besarnya berasal dari Filipina. SPC juga
memiliki rumah biara yang cukup besar di Kalimantan Selatan ini di Banjarbaru.
Selain itu saya juga diajak keliling kota dan antara lain di ajak ke pelabuhan di muara sungai
Barito Banjarmasin. Saya lihat kapal-kapal besar, kapal yang memuat container sedang
bersandar di pelabuhan. Sungai besar yang lebar seperti laut. Diceritakan juga tentang Pulo
Kembang yang ada di dekat pelabuhan itu. Banyak monyet belanda yang namanya Bekantan
hidup disana. Monyet itu memiliki hidung besar dan panjang berwarna coklat kemerahan.
Hidung bekantan jantan lebih besar dari betina dan diduga berfungsi menarik perhatian betina.
Teman-teman sudah dijemput lebih dahulu oleh romo Paroki/ Romo pendampingnya. Mas
Untung bertugas di Seminari Menengah Senakel dengan Rm. Huvang MSF ada di dalam kota
Banjarmasin, Roni dengan Rm. Darmo Kusumo MSF dan Rm. Atsui MSF ke Paroki St. Paulus
di Buntok, Kabupaten Barito Selatan. Mas Didik dengan Rm. Dwijo Isworo MSF ke Paroki St.
Maria Lasalette di Muara Teweh Kabupaten Barito Utara, Mas Yosep Kristianto dengan Rm.
Bambang Sumartejo MSF ke Paroki St. Clemens di Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya,
semua wilayah itu ada di Provinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan saya harus menunggu untuk
di jemput Rm. Marto Setyoko MSF hampir 10 hari kemudian dibawa ke paroki Santo Yusup Jl.
Singabana 94 Kotabaru Pulo Laut yang jaraknya kurang lebih 300 an Km dari Banjarmasin
melewati Landasan Ulin- Pelaihari- Sungai Danau – Pagatan – Sebamban- Batu Licin. Dari
Banjarmasin ke arah tenggara dan kemudian menyeberang selat laut menuju ke pulau kecil yang
namanya Pulo Laut – Kabupaten Kota Baru Kalimanatan Selatan.


Selama masa transit saya selain diajak Rm. Rinoto MSF ke paroki Santo Matius Kuala Kapuas,
juga sempat ikut Romo Cokro Bersama Rm. Bambang Sumartejo ke paroki St. Mikhael
Tamiyang Layang Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah – kemudian tempat Rm. Haryadi
MSF bertugas di Paroki Ave Maria Tanjung Tabalong. Selanjutnya Rm. Cokro berhenti di sini
untuk lanjut ke Tanah Grogot menuju ke Provinsialat di Balikpapan. Sedang saya bersama driver
kembali ke Banjarmasin.


Di Tamiyang Layang saya bertemu dengan Ester – asli Tanjung Mas Raya Semarang, seorang
Mahasiswi dari Estekat Pradnawidya Jl. Abubakar Ali Kotabaru Yogyakarta (yang sekarang
menjadi Prodi Pendidikan Agama Universitas Sanata Darma). Pada waktu kami tingkat I kami
pernah bersama-sama dengan dia dan beberapa temannya ambil studi Shopping di FTW untuk
beberapa mata kuliah. Saat itu yang bersangkutan sudah menjadi guru agama dan ibu asrama di
paroki Tamiyang Layang itu. Saya cukup terkejut karena dari kota besar Semarang – dia seorang
anak kota – berani menjadi “misionaris” lebih dahulu ke kota kecil di situ. Tidak tahu selanjutnya
apakah dia masuk biara untuk menjadi biarawati di kemudian hari atau tetap menjadi guru. Saya
hanya bertemu sepintas di situ.


Saya menemukan keanehan di Tamiyang layang ini karena pembagian wilayah waktu yang ada
di Indonesia ini. Sebelah sini yang menjadi bagian dari lokasi Paroki masuk dalam ruang waktu Indonesia Bagian Tengah. Dan sebelah situ yang hanya selisih jalan yang dilalui – sudah beda
wilayah waktu – masuk Indonesia Bagian Barat. Jadi dalam jarak tidak lebih dari 3 meter saja –
beda waktunya sudah 1 jam. WITA dan WIB.


Provinsialat MSF dari Kalimantan Timur akan dipindahkan ke Kota Banjarbaru di Kalimantan
Selatan. Saat Rm. Cokro menjadi Provinsial MSF Kalimantan bangunan provinsialat itu sudah di
rancang. Sudah dipaparkan dalam suatu pertemuan karya saat kami berkumpul di rumah Bina
Rohani milik Keuskupan Banjarmasin yang diberi nama “Sikhar” di Banjarbaru. Tanah kosong
sudah tersedia di sana – milik Konggregasi MSF yang juga satu komplek dengan rumah Bina itu
dan Gereja Paroki Bunda Maria yang ada di Kota Banjarbaru ini.


Komunikasi putus sekian lama. Sesudah saya meninggalkan MSF di tahun 1989 akhir dan
kemudian menyelesaikan studi di Kentungan dan bekerja.


Saat saya mengembara di Jakarta, bertemu dengan Rm. Cokro lagi, yang waktu itu bergabung
dengan Bapak Hendro Warsito, yang dulu juga Magisternya di Novisiat Ungaran, juga dengan
pak Eddy Suhendro mungkin satu generasi saat menjadi Novis di tempat yang sama. Kelompok
Bramin yang bersama Rm. Cokro ini sepertinya bernaung dalam sebuah PT atau Sanggar.
Seperti Production House di Bidang Media film. Berkantor di Tebet Barat. Di belakang hotel
Bidakara – Pancoran Jakarta Selatan.


Rm. Cokro dengan Bapak Hendro Warsito tinggal di Cijantung Jakarta Timur. Pak Eddy
Suhendro tinggal di Gang 100 Tanjung Barat – Jakarta Selatan. Sudah sering bertemu di
beberapa tempat saat Bramin mengadakan pertemuan silaturahmi. Di Rawamangun, di paroki
Pasar Minggu atau di rumah salah satu anggota Bramin. Saat ibu Eddy Suhendro wafat, saya
bertemu Rm. Cokro dalam misa requiem di Paroki Jagakarsa. Saat itu saya juga bertemu dengan
Rm. Anton Gunardi Prayitno MSF (Pembimbing TOP Tahun Pertama saya di Temanggung)
yang menjadi pastor Kepala Paroki yang memimpin Misa Requiem, kemudian saya diajak
mampir pastoran di Jalan Sirsak No. 14 Jagakarsa. Setahun kemudian pak Eddy Suhendro
meninggal dunia menyusul istri tercinta. Saya hadir di rumah duka – di Jl. Gang 100 Tanjung
Barat. Romo Cokro tentu saja ada di sana karena pak Eddy Suhendro merupakan orang dekat
dalam satu Komunitas Bramin di kantor tempatnya bekerja. Rupanya setelah pak Eddy
meninggal kantor tempat mereka bekerja juga tutup.


Jauh hari kemudian saya baru mengetahui pak Dhe Hendro Warsito kemudian juga sudah pulang
ke Jombor Klaten – sampai akhir hayatnya. Rm. Cokro tinggal di Paroki Pasar Minggu bersama
Rm. Hadi Wijoyo yang ternyata dulu juga pernah satu rumah di Skolastikat MSF di Wisma
Nasaret Jl. Kaliurang. Rm. Cokro menangani pendampingan orang muda dalam bidang
komunikasi digital. Membuat rekaman aktifitas kegiatan gereja dengan menggunakan
Handycamp. Dan juga membuka rumah usaha kegiatan paroki dengan menjual beras organik
yang didatangkan dari Delanggu – Klaten di rumah pastoran yang baru saja terbeli untuk
program pengembangan paroki yang lahannya sangat terbatas. Cukup lama Romo menjadi motor
penggerak kegiatan itu. Juga pada suatu saat saya diajak untuk mengadakan pertemuan di paroki
tentang meditasi – Romo Cokro mensharingkan pengalamannya mengikuti kegiatan pelatihan
Meditasi ala Hindu di Bali. Pak Broto dan mas Anton Heru juga hadir. Mas Anton baru datang di Jakarta untuk berjuang seperti pengalaman saya pertama datang di Jakarta dahulu. Hadir juga
beberapa mantan Seminaris dari Mertoyudan. Dalam pertemuan dengan umat yang lebih luas di
dalam gedung gereja saya memaparkan secara singkat Meditasi Kitab Suci dari buku Sadhana.
Meskipun satu paroki – karena kami tinggal di Pasar Minggu tidak berarti pertemuan dengan
Rm. Cokro juga sering terjadi. Namun kami saling memperhatikan aktifitas masing-masing. Rm.
Cokro juga mengetahui kalau saya memiliki kelompok untuk berdiskusi tentang Kitab Suci
dengan Bapak-Bapak Purnabakti. Diantaranya ada pensiunan eselon II dari Kementerian
Pertanian, Kementerian Kehutanan, Purnawirawan Polisi, Purnawirawan dari Lembaga pencetak
uang ORI. Tidak banyak jumlah anggotanya sekitar 10 orang. Cukup intensif kami
mendiskusikan materi bacaan Injil yang akan digunakan pada hari Minggu berikut, kami
gunakan sumber materi dari milist Rm. Giyanto dosen Kitab Suci dari Biblicum Roma setiap
hari Rabu malam sebelum Injil dibacakan di hari minggu berikutnya. Cukup mengasyikkan
sampai kemudian saya pindah rumah ke wilayah Paroki Jagakarsa di Srengseng Sawah Jakarta
Selatan ini.


Suatu saat Rm. Cokro meninggalkan Pasar Minggu. Saya turut bersyukur dan bergembira –
karena akhirnya Rm. Cokro dapat kembali inkardinasi dengan Keuskupan Agats dan Asmat.
Menjadi Misionaris lagi di wilayah Papua yang dari kisah perjalanannya sering melalui Sungai-
Rawa dan Laut dengan alam Papua. Tampaknya lebih berat medannya daripada yang saya
temukan di tanah misi Kalimantan dulu. Tidak lupa Rm. Cokro selalu membawa amunisi rokok
Dji Sam Soe. Nama ini berasal dari bahasa Hokkien “Dji Sam Soe” yang berarti “dua, tiga,
empat”. Angka-angka tersebut dikaitkan dengan kesempurnaan karena totalnya, 2+3+4 = 9.
Sembilan adalah sebuah angka keberuntungan dalam budaya Tionghoa. rokok kretek yang
legendaris ini, diproduksi oleh PT HM Sampoerna Tbk sejak tahun 1913. Kesukaan Romo Cokro
sejak bertemu pertama kali saya masuk Biara MSF dulu.


Rasanya Romo Cokro tinggal jauh di Agats-Asmat, namun intensitas pertemuan dengan kita
teman-teman Bramin lebih terasa di bandingkan pada zaman dulu itu. Dimana ada pertemuan
Bramin seringkali Rm. Cokro juga bisa hadir karena kebetulan sedang ada perjalanan ke Jawa
Tengah, Yogya, atau Jakarta. Tidak lupa Romo juga jika masih ada waktu berkunjung ke rumah
teman-teman Bramin, Di Solo, di Salatiga sekaligus dalam kaitan dengan pertemuan Regional
PBMN. Romo tetap bertahan di Grub Bramin yang namanya sudah menjadi PBMN yang kadang
isi komunikasi dan komentarnya kami para anggotanya slengek-an. Juga dengan murah hati
memberikan dukungan dalam tulisan saat Bramin membuat buku, kaos, dan terlebih ketika ada
bela rasa ada yang perlu bantuan finansial yang dibutuhkan atau kedukaan dalam grup ini.
Romo tetap sehat dan penuh sukacita, kami doakan tuntas sampai akhir menjadi imam Tuhan
yang selalu membagikan berkat dan penuh dengan berkat.

Jakarta, 28 Oktober 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

Romo terima kasih selalu- kontribusinya untuk grup Bramin

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *