Iman Yang Mengagumkan

Iman Yang Mengagumkan

Oleh Marcurius Unggul Prabowo

Renungan hari Senin, 1 Desember 2025

Injil Matius 8 : 5 – 11

“Tuhan, aku tidak layak Engkau masuk ke dalam rumahku; tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.”* (Mat 8:8)

Sahabat Yesus yang terkasih,

Injil hari ini menampilkan sosok yang tak terduga sebagai teladan iman: seorang perwira Romawi, seorang asing, non-Yahudi, bahkan representasi penjajah, namun memiliki iman yang membuat Tuhan Yesus kagum. Pada masa Adven, ketika kita menantikan kedatangan Tuhan, Gereja mengajak kita meniru kerendahan hati dan kepercayaan radikal perwira itu.

Perwira tersebut tidak datang dengan kebanggaan atau merasa berhak menerima mukjizat. Ia hadir dengan hati yang mengenali keterbatasannya. Ia tahu kuasa Tuhan Yesus melampaui ruang dan jarak: “Katakan saja sepatah kata.” Iman seperti inilah yang menggerakkan hati Tuhan Yesus.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita hidup dalam masyarakat yang beragam budaya, agama, dan suku. Kita sering bertemu orang-orang dari latar belakang berbeda, dan tidak jarang kita menilai kualitas iman seseorang hanya dari tampilan luar atau identitas kelompoknya. Injil yang kita dengar hari ini mengingatkan: justru iman yang paling tulus sering tumbuh di tempat yang tidak kita duga. Kesederhanaan, kerendahan hati, dan pengakuan akan kebutuhan akan Tuhan adalah bahasa universal yang melintasi batas agama, budaya, maupun status.

Masa Adven sekarang ini merupakan waktu yang baik untuk membuka ruang bagi Allah bekerja dalam hidup kita. Sama seperti perwira itu membuka “rumah batinnya” dan mengundang Tuhan Yesus masuk, kita pun diajak melakukan hal yang sama. Mungkin Tuahn Yesus tidak mengubah keadaan secara instan, tetapi Ia meminta kita percaya bahwa firman-Nya cukup: menyembuhkan luka, memperbaiki relasi, menguatkan harapan yang pudar, serta memulihkan situasi keluarga kita, Masyarakat kita bahkan bangsa kita.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia hari ini, kita melihat banyak orang yang terbaring “sakit” : kemiskinan, intoleransi, polarisasi politik, kelelahan ekonomi keluarga, dan kekerasan dalam berbagai bentuk. Banyak orang merasa tidak berdaya menghadapi kondisi ini. Namun Adven menyerukan: jangan kehilangan harapan. Iman perwira itu mengajarkan bahwa Tuhan bekerja bahkan ketika kita tidak melihat-Nya secara langsung. Firman-Nya tetap berkuasa di tengah keterbatasan kita.

Tuhan Yesus menutup sabdaNya dengan gambaran tentang bangsa-bangsa yang akan datang dari timur dan barat untuk duduk dalam Kerajaan Allah. Itu merupakan pesan pengharapan: keselamatan dan damai Tuhan terbuka bagi semua. Adven mengundang kita untuk berperan serta dalam karya damai itu, menjadi pembawa terang, memperluas hati, menghargai perbedaan, dan mempererat solidaritas di tengah masyarakat yang majemuk.

Doa : † Tuhan Yesus, pada masa Adven ini ajarilah kami memiliki iman seperti perwira Romawi: rendah hati, percaya, dan terbuka pada karya-Mu. Sembuhkanlah bangsa kami dari luka-luka sosial dan budaya. Jadikanlah kami pribadi yang membawa harapan, pemersatu di tengah perbedaan, dan pembawa damai-Mu bagi sesama. Amin. †

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *