SAMPAI DI SINI CITA-CITA PANGGILAN SAYA UNTUK MENJADI IMAM
BERAKHIR
BRAMIN 18
Catatan Pengantar
Cerita ini sebelumnya sudah pernah saya tuliskan dengan judul yang berbeda. Kali ini apa yang
saya tuliskan mungkin menjadi agak lebih detail dibandingkan yang sebelumnya. Tetapi intinya
sama. Saya harus berhenti dari Konggregasi MSF. Tulisan ini tidak saya maksudkan untuk
membuka luka lama. Luka kehilangan cita-cita itu sudah lama sembuh. Saya hanya ingin
membuat catatan pribadi fakta sejarah pribadi yang sudah terjadi dengan jujur dan terbuka.
Bukan untuk membuat citra diri baik dan orang lain tidak baik. Saya sudah menyatakan bahwa
semua perjalanan hidup yang ajaib ini ada dalam genggaman dan rencana Tuhan. Di awal kita
semua tidak pernah mengetahui. Tetapi kalau kita meyakini Tuhan selalu mendampingi — kita
akan selalu dapat bersyukur atas rahmat dan berkat-Nya. Memang tidak mudah sebelum kita
mampu melihat rencana-Nya secara keseluruhan.
Saya lupa kami tiba di Yogya tanggal berapa. Mungkin tanggal 8 atau 9 Juni 1990. Karena
setelah tiba di Yogya yang dijemput Fr. Fajar Muhammad di bandara Adi Sucipto hari
berikutnya kami berempat diantar mas Thomas Suharjono dengan mobil Kijang yang sama ke
Provinsialat Jl. Guntur 20 Semarang, untuk bertemu dengan Provinsial MSF Rm. Tan Thian Sing
Fr. Roni tidak lagi perlu melakukan colloquium dengan Provinsial karena kelanjutannya sudah
diputuskan oleh Provinsi MSF Kalimantan. Fr. Roni berlanjut studinya ke Widya Sasana
Malang. Tidak lagi tinggal di Skolastikat MSF di Yogya dan melanjutkan studi di Teologi
Wedabakti Kentungan seperti kami yang masih tinggal di Yogya.
Colloquium dengan Provinsial di Semarang
Pada tanggal 10 juni 1990 itu hasil keputusan dari Dewan Provinsi yang disampaikan oleh
Provinsial: Fr. Kristianto langsung lanjut di Tingkat IV, Fr. Untung Aribowo menunggu
informasi lanjutan, saya diminta menunggu sampai tanggal 27 Juni, dan Fr. Didik langsung
diputuskan untuk tidak berlanjut di Biara MSF.
Saya akan menceritakan apa yang terjadi dalam diri saya sendiri. Setelah menerima
pemberitahuan itu tentu saya menjadi gelisah. Dalam wawancara dengan Provinsial itu kepada
saya diberitahukan bahwa sebenarnya pada bulan April yang lalu rapat Dewan Provinsi sudah
memutuskan permohonan perpanjangan kaul saya berikutnya ditolak. Tetapi dengan
mendengarkan secara langsung dari apa yang saya sampaikan kepada Provinsial dalam
wawancara itu, Rm. Sing dapat melihat banyak perkembangan yang saya capai dalam Tahun
Orientasi ke II ini. Namun Romo masih akan melakukan klarifikasi ulang kepada Spiritual MSF
Rm. Margo Murwanto yang saat itu sedang mendampingi retret para frater di Gedang
Anak – Ungaran. Ditawarkan kepada saya jika saya mau – saya dapat mengikuti retret bersama
dengan Rm. Margo. Saya langsung menjawab dengan ucapan terima kasih – dan saya tidak akan
mengikuti retret dengan Romo Margo di Gedang Anak.
Sampai di Yogya saya kembali ke kamar teologan paling ujung utara dekat dengan refter. Saya
sadar ini hanya untuk beberapa hari saja sampai pemberitahuan resmi itu datang. Hari-hari
selama di kamar ini hati saya seperti tersengat radang. Panas bukan karena marah. Gelisah
karena sebentar lagi perjalanan panggilan saya untuk menjadi imam akan berakhir. Saya sudah
merasakan hal itu. Tetapi saya perlu mempersiapkan kondisi psikologis orangtua saya. Saya
mohon izin kepada Rektor rumah untuk setiap sore pulang ke Tempel selama lebih kurang 3 hari.
Saya ingin melakukan doa bersama keluarga dan menceritakan perjalanan panggilan saya.
Semula Rm. Veuger MSF tidak memperkenankan saya pergi – karena Romo hanyalah pejabat
sementara rektor rumah sedang rektor definitif sedang tidak ada di tempat berada diluar kota
untuk beberapa ahri pelayanan pada masa libur. Saya menjelaskan kepada Rm. Veuger bahwa
berita hasil dari Colloquium dengan Provinsial untuk kelanjutan panggilan saya seperti sedang
diujung tanduk. Saya sadar akan hal itu karena Romo Sing akan melakukan klarifikasi kepada
Rm. Margo dan saya sudah merasa hasilnya pasti tidak akan positif. Rm. Veuger akhirnya
memberikan izin itu untuk setiap sore menjelang malam saya pulang ke Tempel untuk
menyiapkan keluarga.
Perjalanan saya ke Tempel saya pinjam sepeda Fr. Andre Wignyo – sepeda milik Skolastikat
yang baru – Sepeda merk Phoenik warna hijau. Sepeda yang tinggi tetapi nyaman dinaiki
dibanding sepeda-sepeda yang lama yang sudah tidak seimbang untuk dikendarai. Saya selalu
ditemani Fr. Roni untuk melakukan Triduum bersama keluarga saya. Seperti kebiasaan di
Kalimantan jika berkunjung ke Stasi – saya membawa Sakramen Maha Kudus yang saya
tempatkan dalam Piksis untuk saya terimakan di kepada anggota keluarga menjelang akhir
ibadat. Kepada Bapak-Ibu, kakak dan adik adik yang berkumpul di ruang tamu di rumah Tempel
untuk menjalankan ibadat itu saya hanya mengatakan – kita akan berdoa – bukan memohon agar
saya terus lanjut dalam panggilan imamat. tetapi yang kita mohon adalah jalan terbaik
selanjutnya jika keputusan nanti saya harus berhenti menjadi calon imam. Saya bisa tegar untuk
menghadapi situasi seperti telur di ujung tanduk itu. Bapak mewakili keluarga juga membuat
pernyataan – apapun yang terjadi Orangtua dan keluarga akan menyambut saya kembali di
rumah dalam keluarga. Mereka juga mengetahui bahwa saya tidak melakukan sesuatu yang
menimbulkan batu sandungan bagi umat Katolik. Triduum selama 3 hari selesai dan saya tetap
kembali ke Biara Nasaret dan tinggal di kamar ujung utara dekat refter dengan hati yang kosong.
Ngelangut menunggu keputusan.
Surat resmi datang sehari lebih cepat dari yang dijanjikan. Disampaikan kepada saya di meja
makan refter pada saat makan siang. Fr. Untung sudah berfungsi menjadi bidel surat – dari
tangannya saya menerima 3 buah surat dari Provinsial. Tangan saya tergetar menerimanya. Saya
agak tersentak dan kecewa kepada Konggregasi dan Rektor: Mengapa surat sepenting dan
sepersonal itu disampaikan oleh seorang teman di meja makan saja. Saya sebenarnya lebih
merasa dihargai jika surat itu disampaikan secara pribadi – saya dipanggil dalam ruang tertutup
dan sedikit dijelaskan apa isi surat itu. Ataukah para pejabat di Konggregasi MSF merasa tidak
nyaman juga melihat reaksi kecewa penerima surat karena isinya berita buruk? Saya tidak paham
mengenai hal ini. Kasus ini juga yang saya angkat dalam pembicaraan dengan Rm. Wim selaku
Superior Jenderal MSF dalam tulisan sebelumnya yang saya beri judul Rekonsiliasi itu. Terlalu
beratkah kalau ada perwakilan dari Konggregasi menyerahkan langsung calonnya yang gagal kembali kepada keluarganya. Sehingga semangat Keluarga Kudus itu sungguh terwujud bukan
hanya dalam tataran konsep dan doa tetapi sungguh nyata dalam tindakan. Dengan demikian
kami yang gagal tetap dianggap sebagai Saudara. Sebagai bagian dari keluarga yang harus
terpisah. Keluarga yang pernah menghantarkan anaknya kepada Konggregasi untuk
mempersembahkan anaknya menjadi calon imamnya dapat menerima kembali kegagalan
putranya yang tidak terus menjadi imam di Konggregasi. Atau karena sudah merugikan
Konggregasi calon – calon yang tidak berguna itu cukup diberi surat PHK karena gagal
menyerahkan diri untuk menjadi asset dari Konggregasi. Dia bukan pribadi lagi tetapi seperti
barang rongsokan yang tidak laku dijual. Atau seperti jago petarung yang sudah kalah yang
sebaiknya tinggal di sembelih saja.
Setelah selesai makan siang saya membuka surat itu di kamar tempat saya tinggal sementara
waktu di tanggal 26 Juni 1990 itu. 3 Surat Resmi itu berisi Pertama. Pemberitahuan resmi
permohonan perpanjangan kaul saya ditolak. Kedua. Pengembalian saya kepada orangtua saya.
Ketiga. Penghiburan dari Provinsial bahwa dalam pemberhentian itu tidak disebabkan karena
saya melakukan kesalahan atau skandal. Disampaikan kepada saya bahwa saya dapat menjalin
kerja sama yang baik dengan orang lain dan dalam komunitas. Saya juga memiliki sifat sifat
yang baik. Tetapi menurut keputusan Dewan saya tidak dapat melanjutkan panggilan itu dalam
hidup untuk menjadi imam.
Fr. Kristianto yang datang pertama kali untuk menghibur saya. Agar saya tetap tabah
menghadapi keputusan itu. Saya hanya angles tidak dapat berbicara apapun — hanya bisa diam
dan menerima dengan hati sedih. Karena masa depan saya selanjutnya bakal menjadi suram.
Sesuatu yang kemarin sudah terang menjadi remang-remang. Inilah yang saya rumuskan dalam
tulisan saya sebelumnya.
Mulai hari itu saya harus mengatur waktu untuk mencari tempat kost di Kentungan dekat kampus
dan kemudian pulang ke Tempel. Tidak perlu menunggu waktu sampai tanggal 22 Juli saatnya
teman-teman yang diterima perpanjangan kaulnya memperbarui lagi janji kaulnya. Saya tidak
akan hadir saat nanti teman-teman yang lanjut megikrarkan pembaruan kaulnya. Tentu saya akan
sedih jika hadir melihat teman-teman dapat terus melanjutkan cita-citanya sedangkan saya gagal
untuk terus.
Saya sempat menyesali kenapa saya baru diberi tahu saat ini? Mungkin jika saya diberitahu saat
masih di Kalimantan saya akan mengambil keputusan untuk tidak akan kembali pulang ke
Yogyakarta dan tetap tinggal di sana untuk mendaftarkan diri menjadi salah satu pegawai di
Keuskupan. Meskipun saya sudah mempersiapkan keluarga untuk dapat menerima kabar buruk
ini – saya menjadi malu untuk pulang ke rumah – bukan malu kepada keluarga – tetapi kepada
umat Katolik di lingkungan. Saya kuatir mereka akan menduga-duga bahwa saya telah
melakukan perbuatan yang tidak baik sehingga saya tidak diperkenankan melanjutkan cita-cita
saya untuk menjadi seorang imam.
Hal yang sedikit meringankan hati adalah di Kentungan sudah cukup banyak mantan Frater MSF
kakak kelas yang tetap melanjutkan studi untuk mendapatkan ijazah S-1. Mas Singgih teman
seangkatan sudah hampir selesai. Mas Teguh yang tahun sebelumnya sudah masuk di tingkat IV sekarang ini sudah masuk di tingkat terakhir. Para senior dari MSF juga cukup banyak: Kak Leo
Joko Susanto, Kak Irianto Winardi, Mas Cipto Martoyo, Mas Glorie Pamungkas, masih banyak
lagi dari Konvik lain seperti mantan-mantan dari SCY, CSSR, Anging Mamiri, Projo KAS yang
sudah berhenti lebih dahulu dan tetap studi di Kentungan untuk menyelesaikan jenjang S-1 yang
akan memerlukan waktu 2 tahun lagi. Ada lebih banyak lagi mantan-mantan MSF yang sudah
berhenti sebelumnya : sekitar 25 orang pada saringan pertama -15 orang pada saringan kedua dan
angkatan saya berhenti pada saringan ke tiga ini ada 7 orang (kakak kelas – teman seangkatan-
adik kelas) yang tidak dapat melanjutkan perpanjangan kaulnya.
Yang sebenarnya saya kagumi adalah Mas Rahmat Jati Winarno mantan Ketua Sema di Kampus.
Saya mengenalnya sebagai Frater yang bisa menjadi contoh bagi yang lain juga berhenti
bersamaan waktunya dengan saya. Mas Didik yang sudah jelas keputusannya setelah pulang dari
Provinsialat Semarang sudah mengambil sikap untuk terus melanjutkan studinya di Kentungan.
Mas Jati sudah selesai program S-1 nya dan akan berlanjut menjadi dosen di Universitas Sugiyo
Pranoto Semarang. Mas Didik juga ingin lanjutannya nanti menjadi dosen.
Ada satu kenangan pohon mangga yang saya bawa pulang dari Skolastikat MSF ke rumah di
Tempel. Cangkokan yang saya potong dari halaman teologan itu saya bawa pulang dengan cara
saya bonceng dengan sepeda Phoenik yang saya pinjam dari sepeda yang dipakai Mas Andre
Wignyo sebelum saya sepenuhnya meninggalkan Wisma Nasaret di pertengahan tahun 1990.
Pohon itu masih hidup sampai sekarang ini di halaman samping rumah dinas PJKA di Tempel
Kost di Kentungan.
Saya tetap merasa malu untuk pulang ke rumah di Tempel. Berbekal uang saku yang didapatkan
dari Kotabaru Pulau Laut saya dapat mencari tempat Kost di daerah Plemburan. Harus dibayar
dimuka sekaligus dalam jangka waktu 3 bulan. Saya dapat rumah kost di belakang Seminari St.
Paulus Kentungan. Banyak sekali para mantan frater melanjutkan studi di luar konvik asrama
/biaranya dan tinggal di rumah kost di sini. Kak Leo Joko Susanto yang sudah menyelesaikan
studi S-1 nya di Kentungan tetap tinggal di kampung Plemburan dan menyewa lahan untuk
berternak ayam di sini. Dia dibantu Simon yunior di MSF yang juga sudah keluar lebih dahulu.
Teman-teman mantan Frater dari berbagai konvik yang tinggal di sekitaran sini menghidupkan
kumpulan OMK jika sedang berlatih Koor untuk tugas di Paroki Banteng di lingkungan
Plemburan – Kayen ini.
Tampaknya ada seorang pemudi yang merasa senang saat saya berhenti dari MSF. Tetapi saya
sendiri tidak dapat menanggapinya dengan serius karena saya masih berpikir untuk masa depan
diri saya sendiri saja masih gelap. Tidak tahu nanti akan menjadi apa setelah selesai studi di
filsafat teologi ini.
Saat masuk pertama kali pada tingkat IV di Kentungan kepada saya ditagihkan uang kuliah bulan
Juli sebesar 32.500 yang belum terbayar. Saya memohon bantuan kepada Provinsial MSF untuk
membayarkan uang kuliah di bulan Juli itu, karena saya merasa status saya masih bagian dari
anggota MSF dan baru berakhir di akhir bulan Juli setelah teman-teman membarui kaulnya.
Orangtua saya saat itu sedang memerlukan dana yang banyak untuk mempersiapkan acara
perhelatan pernikahan kakak saya. Tetapi jawaban sepintas dari Provinsial tidak dapat memberikan bantuan itu. Akhirnya saya dapat membayar uang kuliah itu dari sisa uang yang sudah saya gunakan untuk membayar kost selama 3 bulan yang saya dapatkan dari Kotabaru.
Mungkin Provinsial merasa terganggu perasaan dan pikirannya atas permohonan saya itu. Pada
saat uang kuliah bulan Juli sudah saya bayarkan saya dipanggil Romo Suryo Sunaryo MSF
sebagai Ekonom untuk datang ke Skolastikat. Saya diberi bantuan sebesar 50 ribu rupiah. Atas
seijin bapak saya — uang itu saya gunakan untuk membayar kursus komputer WS dan Lotus di
Sanata Darma. Siapa tahu nanti akan bermanfaat untuk mencari kerja sambilan.
Saya hanya dapat bertahan di rumah kost Plemburan ini selama 3 bulan saja. Dalam rentang
waktu kost saya juga lebih banyak meninggalkan kamar kost untuk pulang ke Tempel. Saya
selalu merindukan masakan ibu di rumah. Masakan sayur oseng-oseng terong dari ibu saya saja
rasanya menggoda saya untuk pulang daripada makan dengan jajan di warung. Saya menjalani
kuliah dengan naik sepeda jangkung yang pernah dibeli ayah saat saya masih SMP dan saat itu
sedang dipakai oleh saudara jauh di Prambanan saya minta kembali.
Setelah 3 bulan, saya tidak memperpanjang kost. Kakak saya yang sudah bekerja di kantor PU
Pembangunan Jalan Arteri di Maguwo menyerahkan kepada saya sepeda motor Zusuki RC 100
Jet Cooled yang biasanya dia gunakan untuk berangkat dan pulang kerja dari Prambanan untuk
saya pakai kuliah dengan nglaju dari Tempel ke Kentungan. Berkat Tuhan kepadanya tidak lama
kemudian dari kantornya diberikan kendaraan dinas Honda GL Pro yang baru. Saya dapat
menikmati kendaraan motor satu-satunya dari keluarga ini karena ternyata kesibukan kuliah
Proyek di Tingkat IV dan menjelang Ujian Komprehensif di Tingkat V membutuhkan waktu
lebih banyak untuk melakukan diskusi dengan teman-teman kelompok di kampus Kentungan
atau tugas di rumah sakit (Proyek Harapan) atau di umat di lingkungan gereja Kidul Loji (Proyek
Ekaristi) kadang di waktu malam hari.
Saya merasa tidak nyaman karena sudah sekian lama orangtua tidak lagi membiayai saya untuk
hidup dan studi karena selama masuk di Konggregasi MSF sejak dari Novisiat di Salatiga MSF
lah yang membiayai hidup dan studi saya. Saya berharap dalam menyelesaikan studi di
Kentungan ini tidak mengganggu lagi pembiayaan dari orangtua. Tetapi mencari pekerjaan part
time sambil kuliah di Yogyakarta ini juga tidak mudah. Upaya mencari pekerjaan sambilan
belum pernah berhasil. Wawancara berulang kali tidak membuahkan hasil. Yang ada pekerjaan
jualan buku tetapi honornya berdasarkan prosentase. Jika dapat menjual buku maka akan dapat
pengganti transport dan bonus dari laba buku yang terjual. Jika tidak dapat menjual satupun buku
yang ditawarkan maka tidak akan mendapatkan apapun. Transport juga tidak akan diganti.
Tawaran untuk menjadi driver mobil antar jemput anak-anak sekolah dari Kevikepan Kidul loji
juga tidak dapat disambut karena dua alasan. Belum bisa menyetir mobil dan tugas antar jemput
akan tabrakan waktunya dengan waktu kuliah. Radio Paging Mataram milik Gusti Joyo di di
Kumetiran Yogya juga membutuhkan orang yang full timer. Bukan Part timer. Pekerjaan admin
di suatu usaha peternakan di Sorowajan di dekat terminal lama Umbulharjo juga membutuhkan
tenaga full timer. Mengajukan beasiswa ikatan dinas untuk penyelesaian studi di Keuskupan
Banjarmasin tidak pernah mendapatkan tanggapan. Mengajukan beasiswa studi ikatan dinas ke
Keuskupan Surabaya dijawab tidak ada bantuan itu karena keuskupan sendiri membutuhkan
biaya besar utuk studi para fraternya. Di tengah upaya itu akhirnya kakak memberikan penegasan agar fokus dahulu pada penyelesaian studi. Katanya jika bekerja sekalipun part time saat sudah
menghasilkan uang – motivasi untuk studi akan hilang. Karena studi bukan menghasilkan uang
tetapi mengeluarkan uang. Uang 32.500 per bulan untuk studi dapat dibayar dengan lancar oleh
orangtua. Tidak perlu ada sesuatu yang dikuatirkan. Dengan komitmen dari keluarga saya
menjadi tenang kembali untuk dapat fokus melanjutkan studi tanpa diganggu perasaan bersalah
lagi.
Tawaran untuk kembali masuk menjadi calon imam Diosesan
Fr. Sumantoro Pranjono MSF yang cukup dekat relasi personalnya dengan saya, karena kami
sama-sama dari Paroki Medari dan pernah datang di rumah Tempel, menawarkan kepada saya
untuk masuk kembali saja menjadi calon imam Keuskupan Banjarmasin yang belum ada satupun
imamnya yang tertahbis. Pasti dapat dipertimbangkan untuk diterima. Sama seperti para senior –
kakak kelas yang meninggalkan MSF tetapi kemudian masuk menjadi calon pastor diosesan di
Palembang (Fr. Albertus Magnus Agung), calon pastor Dioses untuk Sumatera Utara (Fr.
Martinus Sarjan), calon Dioses Bandung (Fr. Siswo Subroto). Mereka semua akhirnya tertahbis
menjadi imam. Ada juga seorang Suster OSF yang menawarkan bantuan beasiswa untuk
membiayai jika saya kembali masuk dalam salah satu calon imam di Keuskupan. Tawaran itu
tidak pernah saya pertimbangkan.
Fr. Paryono Pr, KAS teman seangkatan saya di Mertoyudan juga menyarankan agar saya masuk
kembali menjadi calon imam di KAS saja, dia janji akan menunda tahbisannya jika saya mau
masuk ke Dioses Semarang seperti dirinya. Nanti kita tahbisan bareng. Katanya.
Beberapa waktu setelah berhenti dari MSF saya pernah berkirim surat kepada Provinsial
Konggregasi SX di Jakarta. SX belum lama membuka rumah studi teologi untuk frater-fraternya
di Sawit Sari dekat Babarsari. Provinsial SX memberikan balasan surat saya dan memberitahu
bahwa tidak bisa terjadi perpindahan antar biara/ konggregasi. Kepada saya disarankan untuk
meminta informasi lebih lanjut kepada Provinsial MSF. Setelah itu saya berusaha menemui Rm.
Tan Thian Sing saat beliau datang di Skolastikat MSF. Suatu saat saya mendapatkan kesempatan
untuk bertemu. Rm. Sing menjelaskan lebih detil. Perjalanan panggilan saya. Katanya panggilan itu tergantung pada 3 hal. Pertama pada Tuhan, Kedua pada Pimpinan (Dewan Provinsi) yang memberikan
pertimbangan. Ketiga kepada Diri Anda sendiri. Diberikan cakrawala pandang sebagai
pengantarnya. Tuhan menghendaki setiap pribadi yang dicipta-Nya berbahagia. Kepada saya
disarankan begini: Lihatlah Kembali hidupmu di luar biara untuk sementara ini. Karena
keputusan yang lalu sudah terjadi. Jika kamu menemukan kebahagiaan dengan cara hidupmu di
luar. Di situlah tempatmu. Jika kamu tidak pernah merasakan hidup tenang dan bahagia di luar
sana – dengan cara apapun kamu akan kembali.
Saran itu saya perhatikan. Saya dapat menerimanya karena dia tidak mengadili dan
mempersalahkan saya. Rm. Sing sangat menyadari bahwa keputusan manusia bisa salah.
Berbeda dengan yang dulu disampaikan oleh Rm. Margo Murwanto yang sudah menetapkan
saya tidak akan berbahagia dengan jalan panggilan saya. Itu yang saya tidak bisa menerimanya.
Karena seolah-olah kebahagiaan hidup saya sudah ditentukan dari luar oleh seorang pembimbing spiritual yang juga manusia yang masih memiliki kekurangan juga. Saya marah kepadanya
karena setelah selesai Tahun Oreintasi Pastoral saya yang pertama di Temanggung – Parakan
menjanjikan kepada saya untuk mendampinginya secara intensif. Tetapi 2 atau 3 kali saya
mengirim surat dari Kotabaru disimpulkannya bahwa saya tidak mandiri. Surat saya
disalahpahami. Terakhir datang ke Kotabaru pada bulan April menjelang saya selesai
menjalankan tugas dan mewawancarai saya, berita hasil wawancara dengan saya di Kotabaru itu
yang menjadi bahan rapat pengambilan keputusan atas permohonan perpanjangan kaul saya.
Hasilnya di tolak. Saya ingat pernyataan Rm. Suryohadi pastor paroki Banteng sebelum saya
berangkat ke Kalimantan. Siapa yang menjamin bahwa saya akan berhasil pada TOP tahun
kedua? Permintaan Rm. Anton Gunardi Prayitno MSF pembimbing Orientasi di Paroki agar saya
tidak melanjutkan TOP di Kalimantan – tetapi di Temanggung saja. Dia berjanji akan
mendampingi lebih baik dan menjamin saya berhasil. Tidak saya indahkan karena kepada saya
tidak diberikan pilihan itu. Tetapi penugasan lanjutan TOP Tahun ke II adalah ke Kalimantan.
Saya menyambutnya dengan gembira karena akan ada pengalaman baru yang lebih seru sebagai
calon misionaris yang dulu menjadi salah satu motivasi saya untuk masuk menjadi anggota
Konggregasi MSF dibanding menjadi calon imam Diosesan sebagaimana dulu pernah disarankan
oleh Rm. Sunarwijoyo SJ Rektor Seminari Mertoyudan sebelum meningggalkan Seminari
Menengah itu. Selain itu penugasan ke Kalimantan saya sambut dengan hati tulus karena itu
menjadi bagian dari kaul ketaatan yang pernah saya ikrarkan. Nyatanya di Kalimantan saya
betul-betul mendapatkan pengalaman baru yang yang berharga dan menggembirakan
sebagaimana sudah saya ceritakan pada episode sebelumnya.
Setelah sekian waktu saya ada di luar biara saya menemukan kedamaian yang secara eksplisit
disebutkan oleh Rm. Tan Thian Sing. Pelan-pelan saya menjadi reda. Teduh. Apa yang dulu saya
takutkan mulai hilang. Yang saya takutkan adalah kalau saya tidak menjadi seorang imam yang
baik. Itu yang membuat hidup saya kadang mengalami ketegangan. Tidak heran jika saya
menemukan adanya seorang imam yang baik dimata saya kemudian berhenti dari imamatnya.
Saya selalu mengalami ketakutan. Saya pernah menceritakan tentang hal ini. Saya
mengklarifikasi persoalan batin ini kepada pembimbing retret Rm. Byakto Suwarto MSF yang
sudah sangat senior pengalaman rohaninya. Rm. Byakto memberikan jawaban yang manusiawi
juga. Bukan suatu yang ektra vaganza. Beliau menyatakan untuk menjawab pertanyaan saya.
Tidak ada seorangpun yang tahu. Apakah seseorang akan tetap bertahan seumur hidup menjadi
seorang imam yang tetap hidup selibat. Meninggal dalam kondisi masih tetap sebagai seorang
imam. Yang dia tahu adalah bahwa setiap hari harus mengambil keputusan seperti diucapkan
dalam janji imamat untuk tetap selibat mempersembahkan diri kepada Tuhan seutuhnya. Sisanya
hanya Rahmat Tuhan saja yang dapat memberikan kekuatan itu. Intinya imamat itu adalah
rahmat. Bukan kekuatan manusia semata. Di luar sini tidak ada lagi ketegangan dan ketakutan itu
menyelinap dalam hati yang hening sunyi. Saya sadar seperti pesan Rm. Tan Thian Sing dalam
penjelasannya ketika saya melakukan klarifikasi setelah mendapatkan jawaban dari Provinsial
SX. Di luar sini tempat saya dipanggil Tuhan. Bukan di jalan imamat yang kadang ternyata
membuat saya takut karena saya ingin menjadi orang yang sempurna.
Jalan di luar untuk masa depan. Kehidupan ekonomi. Pekerjaan. Karir. Akan menjadi apa atau
seperti apa kelak masih gelap. Tetapi kegelapan itu memberikan keberanian saya untuk menerobosnya dengan hati gembira dan penuh kedamaian. Saya menjadi yakin akan jalan saya.
Saya menjadi yakin akan tempat yang disediakan Tuhan bagi saya.
Pertanyaan ulang Fr. Paryono Pr teman seangkatan waktu di Mertoyudan dan dalam relasi
personal saya dengannya — dia menganggap saya sebagai adiknya — sudah biasa saya jawab
dengan tegas. Bagaimana – kamu masih pantas lho menjadi seorang pastor. Cengkoronganmu itu
lebih religius dibanding kami-kami yang masih ada di dalam. Jawaban saya: Mas – saya tidak
akan kembali lagi masuk ke Seminari menjadi calon imam dari jenis manapun. Spontan dia
merespons dalam bahasa Jawa Semarangan: Kakrek ane. Ditunggu tenanan je malah mopo…
Srengseng Sawah Jagakarsa, 25 November 2025


Keren om. Saya mengalami hal yang hampir mirip dengan njenengan, dengan perasaan yang sama, dengan POV yang sama. Saya membaca tulisan sama seperti saya bercermin dan melihat diri saya sendiri. Dari tulisan ini saya merasa ternyata yang saya alami tidak hanya saya sendiri, bedanya adalah saya tidak melanjutkan kuliah filsafat.