Bencana Malah Kampanye, Gak Malu Sama Reno?

Bencana Malah Kampanye, Gak Malu Sama Reno?

Anjing Pahlawan, di Tengah Tengilnya Pejabat

Banjir bandang di Sumatera belum juga usai. Keadaan sangat berat, bantuan banyak dinantikan dengan harap-harap cemas. Bergelut dengan nyawa. Eh malah bantuan diberikan dengan ngaco, pakai helicopter namun dijatuhkan, sehingga berantakan.

Kisah pilu namun penuh kebanggan malah hadir dari seekor anjing. Benar anjing, reno, ia gugur dalam mencari korban. Tidak karena tanpa rompi anti peluru sebagaimana milik Verrell. Hewan setia itu mengembuskan nafas terakhir karena kelelahan.

Eh pada sisi lain, malah para elit, pejabat, terutama politikus yang berlomba-lomba nampang, malah seolah itu arena kampanye. Mereka berpose seolah-olah sedang memopulerkan diri dengan aksi yang maaf, norak.

Ada yang berdiri di dalam mobil dengan atap sunroof, seolah sedang menjadi pesohor yang minta dielu-elukan. Padahal itu pimpinan di Tengah derita rakyatnya. Lha untuk apa dengan kendaraan seperti itu? Boro-boro jalan di tempat rakyat juga berdiri.

Bantuan 50 ton beras, ealah, perlu juga photo pejabat di dalam karung itu. Lha untuk apa to? Apa masih belum sadar masa kampanye sudah lama lewat.

Artis, eh politikus lain malah mengenakan rompi yang mirip dengan rompi antipeluru. Lha emang itu di medan perang? Seolah salah kostum. Ada pihak lain yang mengatakan sok kegantengan, saking jengkelnya.

Pejabat lain malah mau membantu alat-alat olah raga. Eh Doel, mereka itu kelaparan, kedinginan, banyak yang rumahnya hancur, bantuan mendesak itu ya makanan, tenda itu lebih mendesak. Ngapain mikir olah raga??

Sensitivitas dan Kepedulian

Membantu tapi ya pakai otak, tidak hanya menjatuhkan bantuan dari helicopter. Semua berantakan, dan kelihatannya tidak bisa lagi dimakan. Malah sia-sia. Mosok kek itu tidak bisa mikir dengan lebih baik lagi.

Setali tiga uang, membawa bantuan dengan dipanggul sendiri. Eh anak buah, asisten, ajudan, dan anak buahnya melenggang kangkung, lha untuk apa?? Kritikan yang lebih pedas bahwa itu syuting yang diskenariokan. Ada tim media yang benar-benar terencana. Mau membantu atau menampilkan diri sebagai pencitraan yang tidak berakhlak?

Menko lain lagi membantu dengan menggunakan helicopter, pas konsolidasi terlihat dengan sangat jelas dan vulgar lagi-lagi ada sutradaranya. Semua disetting dengan sempurna. Ini mau membantu atau pencitraan sih,  bisa gak sebentar saja narsisnya diturunin.

Kog tidak malu sama reno si anjing yang sampai mati kelelahan.  Manusia yang diperlengkapi dengan akal budi, malah tolol karena egoisnya. Keakuan yang makin gede dan menggelembung.

Ketulusan

Malu sebagai manusia sebenarnya. Kala lebih tulus, pastinya reno tidak tahu tulus atau tidak, namun asumsi manusia, hewan itu lebih tulus dari para big boss negeri ini yang lebih cenderung pencitraan. Bantu ya bantu saja, malah dengan segala tetek bengek yang memalukan.

Urat malu itu sudah pada hilang. Atau pas pembagian urat malu pejabat negeri ini salah ambil urat kemaluan, sehingga nafsu gede malunya kecil.

Indonesia cemas itu kog lebih jelas indikasi-indikasinya, dari pada Indonesia emas, bagaimana setiap saat disuguhi keadaan yang tidak baik-baik saja. Lihat saja  perilaku pengelola negeri ini yang memalukan seperti itu. Mereka sekadar berfokus pada diri dan kelompoknya saja. Jauh dari harapan bisa memberikan jaminan untuk warga. Kalah sama anjing.

Susy Haryawan

Salam JMM

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *