Fondasi yang Tak Tergoyahkan

Fondasi yang Tak Tergoyahkan

Oleh Marcurius Unggul Prabowo

Renungan hari Kamis, 4 Desember 2025

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga.” (Matius 7:21)

Saudara terkasih,

Hari ini bacaan liturgi diambil dari Injil Matius 7: 21-27. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa kekokohan hidup tidak dinilai dari seberapa sering kita berseru “Tuhan, Tuhan!”, melainkan dari seberapa kita melakukan kehendak Bapa. Yesus membandingkan orang yang mendengar dan melakukan firman-Nya dengan seorang yang membangun rumah di atas batu.

Namun, rupanya hidup tidak sesederhana itu. Baru-baru ini kita mendengar kabar memprihatinkan tentang longsor dan banjir bandang di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat. Di sana, tentu juga ada rumah yang dibangun kokoh, bertahun-tahun berdiri sangat kuat, tetapi tetap roboh ketika tanah di bawahnya bergeser dan banjir datang dengan dahsyat. Peristiwa seperti itu menyadarkan kita bahwa yang tampak kuat dari luar belum tentu memiliki fondasi yang benar-benar aman, karena alam lingkungan yang rusak dan dasar tanahnya ternyata rapuh.

Begitu pula hidup rohani kita. Banyak orang terlihat “kokoh” dari luar: aktif dalam pelayanan, rajin misa, atau fasih berbicara tentang iman. Namun ketika badai persoalan datang, krisis ekonomi, konflik keluarga, kehilangan pekerjaan, atau godaan moral, barulah dasar yang sebenarnya terbuka. Jika hati kita dibangun di atas “tanah yang mudah longsor”, seperti kesombongan, formalitas rohani, atau pencitraan semata, maka kita mudah runtuh.

Hari ini Tuhan Yesus mengajak kita membangun hidup di atas batu karang: ketaatan akan firman, kejujuran, kesetiaan, pengampunan, serta pilihan-pilihan kecil yang memuliakan Tuhan. Fondasi rohani yang kuat bukan berarti kita bebas dari masalah. Bahkan rumah yang berdiri di atas batu pun tetap diterpa hujan, banjir, dan angin. Tetapi Tuhan Yesus menjanjikan satu hal: “rumah itu tidak roboh”, sebab dasarnya bukan dunia, melainkan Allah sendiri.

Peristiwa longsor dan banjir di Sumatera juga mengingatkan kita agar ketika membangun rumah tidak hanya memperhatikan pondasi bangunan, tetapi juga alam lingkungan sekitar. Kita tidak hanya membangun kekuatan iman untuk diri sendiri, tetapi juga perlu membangun fondasi iman dalam komunitas dan juga lingkungan kita.

Dalam tekanan hidup di Indonesia, persaingan pekerjaan, tekanan ekonomi, budaya digital yang melelahkan, kita semua dipanggil untuk kembali memeriksa fondasi iman. Kita perlu membangun kekuatan iman sendiri, komunitas dan lingkungan kita sebagaimana telah diteladankan oleh Santo Fransikus Asisi untuk beriman dan bersahabat dengan alam semesta, karena kita bisa menemukan Tuhan dalam segala hal.

Doa : † Allah Bapa di Surga, kuatkanlah fondasi hidup kami agar tidak mudah runtuh ketika badai datang. Jauhkan kami  dari hidup yang hanya tampak kokoh di luar, tetapi rapuh di dalam. Ajarilah kami setia melakukan kehendak-Mu, demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin. †

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *