BRAMIN YANG TERGABUNG DALAM KELUARGA BESAR KEMENTERIAN AGAMA

BRAMIN YANG TERGABUNG DALAM KELUARGA BESAR KEMENTERIAN AGAMA

Bramin 19

Diantara teman-teman berikut ini mungkin tidak ada satupun yang sejak awal berpikir bahwa masa
depannya pada saat berkarya akan berada dalam lingkungan Kementerian Agama. Mereka ini selain
saya adalah mas Untung Aribowo, Mas Nursih Martadi, Mas Wibowo Singgih, dan mas Ismulyadi –
Ismucokro. Di tempat lain ada teman PNS di Kalimantan Barat dan juga di Papua Bro Zagoto.
Belakangan ada generasi baru seperti mas Eka Jaya dari Solo.


Inspirasi untuk menjadi PNS
Mungkin saya salah satunya yang sejak melanjutkan studi Filsafat Teologi berpikir masa depan yang
tepat akan menyambut hidup saya adalah di lingkungan Kementerian Agama. Hal itu tidak lepas dari
pengalaman waktu TOP tahun pertama di Temanggung pak Bambang Wijanarko Penyelenggara Bimas
Katolik Kabupaten Temanggung melibatkan saya secara sepintas untuk membangun kerja sama
dengannya. Kerja sama itu dengan cara mengumpulkan beberapa guru SD yang mengajar Agama di Kota
Temanggung di pastoran Temanngung. Saya diminta mengisi acara apa saja terserah kepada saya. Yang
penting guru-guru itu dapat bertemu dan ngobrol tentang iman. Apa yang saya sampaikan waktu itu
hanyalah pengalaman hasil bacaan waktu di Novisiat Salatiga. I am Ok You are OK. 3 Bagian Kerpibadian:
Ada Sisi Anak – Orang Dewasa dan Orangtua. Ada Sharing dari Kepala – Dari Dada- Dari Hati. Hal-hal itu
dulu pernah dijelaskan dalam konferensi oleh magister novisiat Rm. Tan Thian Sing. Materi itu rupanya
jadi obrolan yang menarik diantara para guru. Bermanfaat untuk mengenali kepribadian dari orang lain
dan juga sisi manusia yang ada pada diri sendiri.


Di Kotabaru Kalimantan Selatan ada Penyelenggara Bimas Katolik juga tetapi kiprahnya tidak terasa
sama sekali. Saya juga tidak melakukan pendekatan apapun di sana. Tampaknya dia hanya menjalani
pekerjaan rutin administratif saja sebagai PNS yang ada di belakang meja.
Kedua pengalaman itu memberikan inspirasi bagi saya ketika saya harus berhenti dari cita-cita menjadi
imam. Saya mulai berandai-andai jika selesai dengan Pendidikan S-1 filsafat teologi dengan pengalaman
yang selama ini saya miliki mungkin hidup saya akan lebih berguna jika saya menjadi PNS seperti
mereka. Tentu wawasan yang saya miliki lebih lengkap dibanding dengan PNS yang berlatar belakang
lulusan SMA saja. Baik teori maupun praktek dan relasi saya dengan umat Katolik selama ini akan dapat
mewarnai pelaksanaan tugas saya. Itu yang kemudian membuat masa depan yang semula saya
bayangkan gelap – mulai lagi terbit cahaya yang membuka jalan yang membawa harapan.


Masa Studi – Ujian Akhir dan Wisuda Sarjana
Masa studi selama 2 tahun setelah selesai TOP Tahun ke dua, terasa sangat cepat. Bulan Juni 1992 saya
maju untuk ujian komprehensif yang pertama. Saya gagal. Tim penguji terdiri dari Rm.
Purwohadiwardoyo MSF; Rm. Bert van Der Heijden SCY, satu lagi saya lupa. Pertanyaan dari Rm. Bert
tidak terjawab sama sekali. Saya seperti membeku dan masuk dalam lubang hitam. Black hole. Saya
langsung mohon izin untuk mengundurkan diri dalam ujian pertama ini. Rm. Pung sebagai moderator
penguji memberikan informasi bahwa kendatipun belum berbicara sepatah kata pun proses ini sudah
masuk dalam berita acara sebagai ujian yang gagal. Kepada saya akan diberi kesempatan kedua untuk
maju lagi sebulan yang akan datang.

Dengan Romo Bert SCY yang di awal perkuliahan Tk. I dulu mengajar mata kuliah Iman Wahyu – saya
selalu gagal. Tidak dapat sekali ujian kemudian lulus. Mesti Her. Rupanya dengan ujian akhir ini juga
ketemu seperti momok yang membuat ingatan menjadi hilang. Begitulah jalannya sejarah akademis
yang harus saya lalui. Dengan Romo Pung saya pernah mengikuti mata kuliahnya Teologi Moral. Dapat
Nilai B. Di Skolastikat MSF sebagai Rektor rumah – tetapi seringkali salah paham. Hal-hal yang saya
laporkan untuk suatu maksud yang baik. Bisa disalah pahami sebagai hambatan untuk perjalanan
panggilan. Ini bukan soal pengetahuan akademis – tetapi mungkin hambatan psikologis sehingga ingatan
saya berhadapan dengan kedua tokoh besar di Fakultas Teologi Wedabakti dalam ujian akhir ini
membuat saya hilang ingatan dan gagal.


Menjelang awal Agustus saya maju untuk kedua kalinya. Tim penguji terdiri dari Rm. Wim van Der
Weijden MSF, Rm. Purwatmo Pr, dan Rm. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka MSF. Kepada saya
ditanyakan tentang artinya Yesus mewartakan Kerajaan Allah melalui Sabda dan Karya; Mengapa
Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak hidup beriman Kristiani; Arti dari Mateus 28 Wartakanlah
Injil ke seluruh dunia mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Forma pembaptisan demi/atas nama
Bapa – Putera – dan Roh Kudus. Hal-hal yang terkait dengan karya misi. Kedua Romo penguji baru mulai
mengajar di Seminari Tinggi sehingga belum pernah saya mengikuti kuliah yang diberikan olehnya.
Jawaban saya dinilai dapat lulus dengan sangat baik.


Wisuda dilakukan pada bulan Oktober di Kampus Sanata Darma Mrican. Dari rumah kami sudah siap-
siap sejak pagi. Ini pengalaman pertama kali dalam keluarga ada anak yang akan diwisuda menjadi
Sarjana. Saya memakai baju seragam hitam putih dengan dasi kupu-kupu. Naik angkot Bersama dengan
Bapak-ibu sampai Borobudur (Jl. Magelang Sebelum Pingit) ganti dengan angkot yang menuju Kampus
Sanata Darma Mrican. Sampai di kampus kami wisudawan disiapkan di ruang ganti untuk memakai Toga
Pinjaman yang beberapa hari sebelumnya sudah diurus untuk ukuran toganya. Setelah semua siap –
kami semua masuk dalam satu ruang modifikasi di atas tempat parkir Kampus.


Sidang Senat Terbuka untuk Acara Wisuda dimulai dengan Prosesi Wisudawan yang diiringi Lagu
“Gaudeamus Igitur”.  “Vivat Academia, Vivant Professores, Vivat membrum quodlibet, Vivant membra
quaelibet, Semper sint in flore!”  Dilanjutkan dengan Sambutan-sambutan. Sambutan dari Wisudawan diberikan oleh Fr. Luhur Pribadi Pr, sebagai Wisudawan dengan Lulusan terbaik IPK 3,67. Dari pihak Kampus sambutan diwakili oleh Bapak Drs. Samono yang pernah mengajar kami di Tingkat I mata Kuliah Didaktik dan Metodik Umum. Sambutan yang saya ingat dari beliau adalah bahwa kami lulusan Sarjana jika diterima menjadi PNS akan mendapat pangkat/jabatan awal sebagai Penata Muda – golongan III/a dengan gaji 75.000,-


Setelah acara wisuda selesai kami bertemu dengan orangtua wisudawan yang dikenal melalui putra-
putranya. Bapak dan ibu saya dengan Bapak dan Ibu dari Mas Didik bertemu dan ngobrol sebentar
sebelum pulang ke rumah masing-masing. Bapak mas Didik menanyakan kepada saya, apa rencana
selanjutnya setelah ini. Mau bekerja dimana. Dengan percaya diri saya sampaikan bahwa saya ingin
menjadi PNS. Bapak dari mas Didik menginformasikan bahwa mas Didik Hardiarso akan menjadi dosen
di Universitas Sugiyo Pranoto.


Kam pulang Kembali ke rumah di Tempel dengan naik angkot. Colt Pick Up yang penumpangnya ada di
bagian belakang dari Mrican sampai di Borobudur Jl. Magelang lagi. Dilanjutkan dengan bus umum
sampai ke Tempel. Sepanjang perjalanan pulang Ibu merasa tidak enak badan karena belum terbiasa minum aqua gelas yang disajikan dalam snack yang didapat dari acara wisuda. Biasanya kalau pagi ibu
mesti minum teh Nasgitel. Tadi pagi belum sempat. Bapak merasa bangga karena salah satu anaknya
sudah menjadi Sarjana. Walaupun saya belum memiliki pekerjaan yang jelas. Kebanggaan itu
dirumuskan dengan pernyataan bahwa dalam hal pendidikan anaknya sudah memiliki pendidikan yang
lebih tinggi dari orangtuanya. Lagu Gaudemus igitur itu rasanya terus tergiang-ngiang dalam telinga
saya.


Kegembiraan itu memberikan inspirasi bagi saya untuk medorong adik perempuan saya yang masih
duduk di SMEA kelas II melanjutkan studi di perguruan tinggi. Dan dia juga berharap demikian. Karena
sebenarnya rancangan awal keluarga untuk anak-anak perempuan cukup pendikan sampai SLTA saja.
Tampaknya ini hal umum dalam setiap kalangan keluarga dalam zaman itu.


Mencari Pekerjaan yang Tidak Mudah.
Sejak dinyatakan lulus saya mencoba menghubungi pak Bambang Wijanarko Penyelenggara Bimas
Katolik di Temanggung. Saya datang ke kantornya di bulan September 1992 dan bertemu dengannya
dan menanyakan bagaimana cara berproses untuk mendaftar sebagai PNS. Pak Bambang
menginformasikan bahwa di buan Juli yang lalu di Bmas Katolik Kementerian Agama Jakarta baru saja
ada pendaftaran PNS dengan kualifikasi ijazah Sarjana. Ada 7 formasi tetapi hanya terisi 5 saja. Tetapi
proses pendaftaran itu sudah tutup. Kemungkinan baru di buka lagi pada tahun depan. Saya sendiri
menyatakan – memang saya sudah lulus S-1 dari Kentungan. Tetapi belum ada ijazah karena ijazah
sedang diproses ke Kopertis Wilayah V yang sekarang ini disebut sebagai LLDIKTI (Lembaga Layanan
Pendidikan tinggi). Pak Bambang katakana pakai dulu dokumen Surat Pernyataan Lulus sebagai
Pengganti Ijazah. Pak Bambang menuliskan Alamat dan Kode Pos: Direktorat Jederal Bimbingan
Masyarakat Katolik Departemen Agama Jl. Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta. Kode Pos 10710. Pak
Bambang sangat hafal karena selain dia adalah apparat dari Departemen Agama. Sebelum menjadi
Penyelenggara Temanggung juga staf pribadi dari Dirjen Bimas Katolik Bapak Brigadir Jenderal Imam
Koeseno Mihardjo. Saya tuliskan Lamaran untuk menjadi pegawai di Bimas Katolik dan Surat Pernyataan
Lulus setelah saya dapatkan dari Sekretariat di Kampus Kentungan. Surat Pernyataan Lulus dibuatkan
oleh mas Totok salah satu dari Staf di Sekretariat. Apa yang saya kirimkan itu seperti hilang ditelan bumi.
Tidak ada kabar beritanya.


Setelah selesai wisuda di bulan Oktober saya mendapatkan ijazah yang diterimakan melalui Sekretariat.
Saya mendapatkan 2 lembar Ijazah. Ijazah Akta IV dan Ijasah Sarjana. Saya tidak mengetahui apa
kegunaan dari ijazah Akta IV itu. Sekretariat menjelaskan kepada saya ijazah Akta IV adalah SIM untuk
mengajar Pendidikan Agama Katolik di Tingkat SLTA. Kedua ijazah itu saya bawa ke mas Bambang. Kali ini saya tidak perlu sampai di Temanggung karena ternyata pak Bambang Wijanarko bertempat tinggal di Mertoyudan. Persis di samping Seminari Menengah di seberang tembok sisi kanan. Tidak jauh dari Lorong/ gang masuk. Sejajar dengan tembok yang dulu menjadi kandang peternakan babi. Ternyata istri Pak Bambang adalah bu Jujuk Djuwariah yang juga Penyelenggara Bimas Katolik di Kabupaten Magelang yang Alamat kantornya di Mungkid. Melihat ijazah saya bu Jujuk menyarankan kepada saya lebih baik berbekal ijazah itu saya menjadi guru Agama saja. Yang jelas tugas-tugasnya. Baginya menjadi pegawai administratif itu tidak jelas apa tugasnya. Saya tidak tertarik untuk menjadi guru – karena selama studi dari tingkat II- III, Top 1, top 2, sudah merasakan menjadi seorang guru yang bagi saya membuat tertekan. Bahwa waktu itu saya jalankan karena saya hanya menjalankan tugas saja. Bukan karena keinginan saya. Kepada mereka saya tanyakan di mana saja di Jawa Tengah ini ada struktur Penyelenggara Bimas Katolik. Jawabannya ada di Semarang, Kudus, Pati, Rembang.


Nama-nama Kota itu memberikan inspirasi kepada saya untuk menjajaginya. Pati menjadi target
pertama untuk saya jajagi. Sebelum itu saya sudah mencoba mencari kemungkinan pekerjaan melalui
iklan-iklan lowongan kerja di Koran. Kebanyakan lowongan yang tersedia adalah untuk menjadi agen
Asuransi. Juga Ketika lowongan pekerjaan ditulis sebagai Traine of Trainer… ternyata formasi untuk
rekruitmen menjadi Agen Asuransi. Suatu hari saya pernah melakukan perjalanan bahkan sampai di kota
Solo, sekitaran Jl. Slamet Riyadi. Sampai disana saya lihat ramai sekali paar pelamarnya. Tetapi Ketika
saya dekati dan cari informasijenis pekerjaannya ternyata untuk menjadi agen Asuransi Bumi Asih Jaya.
Melihat kenyataan itu saya tidak jadi masuk mendaftar untuk mengikuti wawancaranya Akhirnya kepada ibu saya sampaikan, saya ingin bekerja menjadi tenaga wiyata bakti. Saya merasa malu kalau terus menganggur di rumah saja. Anggap saja saya sebagai anak kos. Karena jika bekerja sebagai
tenaga wiyata bakti itu berarti saya tidak dibayar. Ibu menyetujui. Target pertama untuk bekerja sebagai
wiyata bakti saya kerjar. Ke Pati. Karena dari Top 1 dulu saya pernah ke Pati. Saya sudah mengetahui
tempat itu. Tujuan utamanya ke Penyelenggara Bimas Katolik Kab. Pati. Untuk keperluan itu saya
singgah di Sekretariat Paroki Pati. Seorang Bapak yang me;ayani di Sekretariat Paroki menjelaskan
kepada saya bahwa Penyelenggara Bimas di Kantor Departemen Agama Pati bertempat tinggal di Blora.
Hanya 3 hari dalam seminggu beliau ada di tempat. Selebihnya tinggal di Blora. Oleh karena itu
perjalanan saya lanjutkan menuju Kabupaten Rembang. Wilayah Jawa Tengah Bagian Ujung dari sisi
pantai Utara Jawa. Wilayah Pemerintahan masih masuk Provinsi Jawa Tengah. Tetapi Wilayah
Gerejaninya menjadi Bagian dari Keuskupan Surabaya.


Sampai di Rembang – saya bertemu dengan Penyelenggara Bimas Katolik Kabupaten Rembang. Saya
meminjam sepedanya untuk sekedar mengelilingi bagian Kota Rembang yang tidak begitu luas. Mencari
makan di luar untuk sekedar menghibur diri. Waktu kembali ke tempat tinggalnya di rumah kos tepi
jalan menuju ke Lasem, ngobrol ke sana kemari, ternyata beliau asli dari Jlapanan. Kampung ini tidak
jauh dari tempat tinggal saya di Tempel. Kampung di sebelah selatan dari Tempel. Saya merasa dunia ini
tidak demikian luas. Bertemu juga dengan tetangga tanpa diketahui sebelumnya. Beliau menyampaikan
kepada saya bahwa di kantornya tidak ada tenaga Wiyata Bakti. Karena beliau mengetahui cerita saya
dari awal dan saya memiliki ijazah Akta IV kepada saya ditawarkan untuk besok pagi setelah mengikuti
perayaan ekaristi di Gereja menghadap Rm. Paroki. Rm. Sastropranoto CM. Bapak Penyelenggara
memberi informasi Sekolah Katolik di Stasi Sale ada sekolah yang membutuhkan Guru jika saya mau
menjadi Guru di sana bisa menanyakan kepada Rm. Sastro sebagai Ketua Cabang Yayasan itu. Induknya
ada di Keuskupan Surabaya. Komentarnya tentang pekerjaan di Bimas Katolik sama persis dengan yang
dinyatakan ibu Jujuk Penyelenggara Bimas di Mertoyudan Magelang.


Pagi berikutnya saya diantar Bapak Penyelenggara menghadap Rm. Sastro, setelah berbicara hampir 2
jam, beliau menyatakan bahwa tidak ada lowongan kerja menjadi guru di Sekolah milik Yayasan yang
dipimpinnya. Saya tidak merasa kecewa atas informasi itu. Harapan masih ada. Kepada Bapak
Penyelenggara Bimas pagi itu juga saya minta izin untuk melanjutkan perjalanan ke Blora. Di sana saya
akan bertemu dengan Penyelenggara Bimas Kabupaten Pati untuk mencari kemungkinan lain – siapa
tahu masih ada jalan. Dari Rembang ke Blora jalannya kea rah Selatan kira-ira 25 Km.
Sampai di Blora beliau bertanya-tanya dan curiga. Bagaimana mungkin orang Yogya malah pergi ke
tempat yang jauh seperti ini untuk mencari pekerjaan di daerah? Selain sebagai Penyelenggara beliau rupanya orang politik dari PDI, juga pengusaha sehingga banyak pengalamannya. Kepada saya saya
diarahkan ke STM Negeri Blora. Di situ sudah ada gurunya tetapi sering tidak masuk. Mungkin saya bisa
mengantikannya. Kemungkinan berikutnya bisa menghadap kepada Suster yang menangani Yayasan
Pendidikan milik Keuskupan Surabaya. Saran yang beliau sampaikan saya tindaklanjuti hari itu juga. Hari
itu hari Jumat. Saya bisa bertemu dengan Guru Agamanya – lulusan Sekolah Tinggi Kateketik di Yogya
dan pernah bertemu dalam kegiatan OMK di Paroki Medari. Hari itu dia mengajar dan bercerita memeng
sering mengalami kesulitan untuk melaksanakan tugasnya karena baru saja melahirkan. Dia sudah
diangkat menjadi PNS. Kepada saya dia sampaikan jika saya bersedia menggantikan mengajar atas
namanya sebagian gajinya akan diberikan kepada saya. Kami berdua bertemu dengan Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah berbicara dan bertindak dengan bijaksana. Penolakannya sangat halus. Jika saya
mendapat surat tugas dari dinas Pendidikan – saya dapat diterima sebagai guru di Sekolah itu. Saya tahu
bahwa itu tidak mungkin – sehingga akhirnya saya pamitan untuk melanjutkan perjalanan menjajagi
kemungkinan berikutnya. Bertemu dengan Suster Pengelola Sekolah Katolik di Blora. Sampai di Susteran
– saya diminta membuat lamaran dengan kertas Folio dan melampirinya dengan Foto Copy dan Ijazah
Akta IV karena bulan itu Suster dan pengelola Yayasan milik Keuskupan Surabaya akan mengadakan
rapat di Sarangan – Tawangmangu. Setelah surat lamaran dan lampirannya saya serahkan kepada Suster
– saya pulang ke Yogyakarta. Kalau datangnya dari arah Rembang – kembalinya ke Yogya dari Blora saya
menuju ke Purwodadi – Solo dan kemudian ke Yogyakarta.


Panggilan kerja menjadi guru di St. Louis Cabang Cepu
Sebulan kemudian di bulan Oktober 1992 saya mendapat panggilan wawancara bukan ke Blora – tetapi
ke Cepu. Singkat cerita lamaran saya diterima dan saya akan ditempatkan di SMEA St. Louis
Randublatung – satu kecamatan di wilayah Kabupaten Blora. Dari Blora ke arah Selatan sejauh 26 Km.
Kalau dari Blora ke Cepu ke arah Tenggara 27 km. Blora- Cepu – Randublatung ini membentuk peta
Segitiga sama sisi. Dari cepu ke Randublatung ke arah Barat sejauh 27 km juga. Saya diterima sebagai
guru di tempat itu dan menunggu waktu sampai semester baru. Saya menggantikan guru Agama Katolik
di SMEA St. Louis Randublatung yang diterima menjadi Guru PNS, dan akan melaksanakan tugas di awal
semester baru yang dimulai pada tanggal 4 Januari 1993.


Dari bulan Oktober sampai Desember 1992 saya tinggal di rumah Tempel. Pekerjaan menjadi guru sudah
tinggal menunggu waktu. Kisah selama menjadi Guru dari Tahun 1993-1995 tidak perlu saya ceritakan di
sini. Saat saya mengajar di Randublatung alm. Mas Prasojo yang berada di Timor Timur mengirimkan surat kepada saya untuk datang ke Timor Timur menjadi guru di sana. Tetapi Bapak ibu di Tempel mengatakan tidak usah pergi ke sana. Kalau di sini sudah menjadi guru – mengapa harus ke Timor Timur untuk pekerjaan yang sama. Apalagi Timor Timur suasananya kemananannya tidak selalu kondusif.
Saya akan melompat ke cerita terkait dengan teman-teman Bramin yang menjadi satu bagian di bawah
naungan Kementerian Agama.


Tentang mas Singgih sudah saya ceritakan sebelumnya. Tentang mas Untung, mas Nursih dan mas Ismul,
akan saya singgung sepintas di sini. Teman-teman ini bisa menceritakan masing-masing kisahnya saat
bergabung dengan kementerian agama- sebelum dan sesudahnya bagaimana tentu akan menjadi lebih
akurat jika yang bersangkutan menceritakannya sendiri.

Tahun 2000 di Departemen Agama (nama Departemen Agama berubah menjadi Kementerian Agama
terjadi di tahun 2010). Saya sudah menjadi Kepala Sub Bagian Kepegawaian. Sudah 5 tahun saya menjadi
pegawai pusat. Tahun itu terdapat formasi lebih dari 2400-an untuk seluruh Indonesia, semuanya untuk
guru Agama Katolik tingkat SD. Di Jawa Tengah mendapat jatah 170 orang. Pada waktu pemberkasan di
kantor Badan Kepegawaian Negara RI (BKN) di Jl. Majend Sutoyo 12 Cililitan Jakarta Timur – sekretariat
Jenderal Departemen Agama mengalami kesulitan karena banyaknya berkas yang harus di teliti sehingga
unit eselon I dilibatkan. Dari Bimas Katolik saya dan pak Yuniadi – staf pada Subbag kepegawaian
diturunkan ke lapangan untuk membantu di BKN. Saya menemukan berkas mas Untung Aribowo, Mas
Nursih Martadi, Mas Darpo Sumarlono, dan banyak orang yang saya kenal namanya – termasuk Guru
Agama Katolik yang menggantikan saya di Randublatung. Juga OMK dan kenalan waktu TOP Tahun
Pertama di Temanggung Parakan. Atas pertimbangan saya selaku Kasubbag Kepegawaian dan Bapak
Drs. A.I. Sumardjono HS sebagai Sekretaris Ditjen Bimas Katolik, Kabupaten Blora yang menjadi bagian
dari Provinsi Jawa Tengah dari 170 formasi itu mendapat formasi sebanyak 10 Guru Agama Katolik.
Mas Untung dapat tempat di Banjarnegara, Mas Nursih agak prihatin karena keluarga di Semarang dapat
tempat tugas awal di Wonosobo. Saya tidak mengetahui persis berapa yang mengalami permasalahan
seperti yang terjadi di Blora. Dari 10 guru yang ditempatkan di Blora itu akhirnya hanya 2 orang yang
dapat bertahan di Blora karena banyak sekolah Negeri yang diberi penempatan guru Agama Katolik
menolak. 2 Orang yang bertahan itu karena mereka orang-orang yang sudah berkeluarga di sana. Satu di
Randublatung satu lagi di Cepu. Yang lain akhirnya tersebar pulang ke daerah masing-masing. Mereka
malah bersyukur karena tidak ditempatkan di Blora yang jauh dari tempat tinggalnya di Klaten atau di
Solo. Di Jakarta ada 30 formasi juga mengalami persoalan yang sama seperti di Blora. Begitu juga di Jawa
Barat.


Belakangan formasi itu sejak awal selalu menunjuk tempat sekolah dimana mereka akan ditempatkan.
Jadi ada menejemen bottom up. Bukan Top down seperti masa itu. Mas Ismul pada generasi berikut animo menjadi PNS lebih baik. Tidak seperti zaman saya – PNS bukan pilihan. Zaman mas Ismul formasi tidak sebanyak dahulu juga. Di Yogya hanya ada satu formasi penyuluh yang daftar lulusan dari Kentungan lebih dari satu – bahkan bisa jadi lebih dari 10 orang. Saat mas Ismul lulus menjadi calon Penyuluh untuk Yogyakarta sudah medapatkan kepastian, Pembimas DIY pak alm. Sumarwoto – Totok (yang belakangan putranya setelah lulus UGM juga masuk MSF- meskipun tidak
sampai ditahbiskan) menyampaikan kepada saya bahwa yang menjadi calon untuk Yogyakarta adalah
mantan MSF. Saya bertemu dengan mas Ismul saat kenaikan pangkatnya mengalami kesulitan –
Penyuluh yang mestinya jabatan fungsional dapat naik pangkat setiap 2 tahun sekali asal angka
kreditnya terpenuhi – mas Ismul kenaikan pangkat pertamanya harus menunggu sampai 4 tahun. Sama
dengan kenaikan pangkat pegawai administratif.


Saya dapat informasi salah satu calon seangkatan Mas Ismul – juga lulusan dari Kentungan (Bukan dari
MSF). Bahkan sebelum masuk Kentungan sudah lulus S-1 dari UNJ jurusan Sejarah, dia pandai membaca
peta statistik. Karena formasi di Yogya calon yang bersaing banyak sekali sedang yang di Bali formasi 1
orang dan yang mendaftar tidak ada, atas persetujuan keluarganya dia memilih di Bali. Dan langsung
mendapatkannya karena tidak ada pesaingnya. Baru 2 tahun ada konflik dengan keluarganya. Saat ada
kegiatan di Jakarta bercerita kepada saya bagaimana proses perpindahan antar Provinsi itu harus dilalui.
Saya menceritakan persyaratannya. Bahwa sebagai guru di sana dia harus mencari formasi Sekolah yang
akan menerima di Jawa Tengah. Walaupun masih ada syarat lain yang berat: Sudah bekerja di tempat

selama 10 tahun. Namun upayanya berhasil karena doa. Saya katakan kepadanya setiap langkah agar
didukung dengan doa. Begitupun setelah semua persyaratan administratif diperoleh – saat menghadap
kepada aparat di Sekretariat Jenderal yang menandatangani SK mutasinya saya sarankan untuk berdoa.
Karena waktu menunggu penandatangan itu sedang sholat Jumat. Upayanya sungguh mulus karena
tanpa uang pelicin sedikitpun. Rupanya berkat bunda Maria dengan proses yang sangat cepat SK
mutasinya dapat segera terselesaikan. Dia dapat pindah dari Denpasar ke Klaten. Sayang sekali setelah
kembali kepada keluarga – saya mendengar justru istri dan mertuanya menolaknya: istrinya tergoda
dengan pejabat bank atasannya. Saya turut bersedih mendengar berita terakhir dari perjuangannya
yang susah payah dan terberkati itu. Saya tidak mengetahui bagaimana nasib seperti ini bisa terjadi pada
orang yang saleh?

Srengseng Sawah, 2 Desember 2025
Ansgarius Hari 45 Wijaya

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *