CATATAN – PERTEMUAN PBMN REGIO JAKARTA-BOGOR-TANGERANG-BEKASI

CATATAN – PERTEMUAN PBMN REGIO JAKARTA-BOGOR-TANGERANG-BEKASI


MINGGU 17 MEI 2026 PUKUL 10.30 – 14.00
BAGIAN 3 – SELESAI

Pada pukul 12.00 setelah 1,5 jam sharing dan update informasi anggota PBMN yang hadir, Misa dimulai dengan lagu pembukaan Haec Dies. Menyusul secara beruntun pernyataan tobat yang diawali oleh kata pembukaan dari Romo terkait dengan topik Keluarga Kudus Membangkitkan Semangat Pelayanan Bagi Kita. Potongan sharing bahwa kita semua menyadari sebagai orang berdosa diangkat oleh romo sebagai awal pernyataan doa tobat. Bacaan Hari Minggu Paskah VII Hari Komunikasi Sedunia. Bacaan I dan II dibacakan oleh Aji, putra ke 2 Mas Andre. Masmur Antar Bacaan 039 Aku Percaya Akan Melihat dan Bait Pengantar Injil 960 dinyanyikan oleh Mas Thomas Suharjono Injil dari Yohanes 17 dibacakan oleh Romo Purnomo, beliau membuka homili dengan berkelakar, karena sudah mendengarkan sharing lama sekali maka homili tidak diperlukan lagi. Namun karena hadir juga anak-anak ( ada Ezekiel, Vidi dan Vici yang duduk di bagian depan) supaya mereka tidak mempertanyakan Hari Minggu kok Romo tidak homili maka homili singkat akan dilakukan untuk melengkapi sharing.

Romo berangkat dari pengalamannya dalam pertemuan dengan orang-orang besar di Roma. Para duta besar khususnya dengan Bapak Trias Kuncahyono yang menjadi Dubes Vatikan dari Indonesia saat ini. (Beliau adalah Eks Mertoyudan dan ternyata Kakak sepupu Mas Widi Djadmiko yang aslinya dari Bantul). Rm. Purnomo menyatakan ada perasaan tidak nyaman jika namanya selalu disebut oleh Bapak Dubes dihadapan orang-orang besar itu. Tetapi sebagai pimpinan tertinggi Kongregasi mau tidak mau memang harus bergaul dengan semua lapisan dari yang tertinggi sampai yang paling rendah.

Yang Romo Pur akan sharingkan adalah terkait dengan pengalaman dengan orang pada pada tataran yang rendah. Seorang ART di Vatikan. Orang Indonesia dari Yogyakarta. Namanya mbak Warni (nama samaran saja). Orangnya sangat murah hati. Gajinya sebagai ART di Vatikan dalam mata uang Lyra bisa jadi 30 kali lipat gaji guru di Indonesia. Kesukaannya jika baru menerima gaji selalu datang ke Asrama Mahasiswa para Romo yang berasal dari Indonesia. Membawa makanan apa saja yang bisa disukai para Romo. Bahkan juga pernah mentraktir Romo-romo untuk nonton sepakbola yang harga tiketnya sangat mahal. Itulah kebahagiaannya selalu memberi dengan murah hati. Tetapi Rm. Purnomo, Rm. Bagyo, Rm. Purbo Tamtomo yang masih mahasiswa pada waktu itu mengingatkan agar mbak Warni tidak terus menerus melakukan pemborosan gajinya untuk para Romo. Romo-romo mengancamnya. Tidak boleh berkunjung ke Romo-romo, dengan membawa oleh-oleh apapun. Boleh berkunjung jika dia tidak membawa oleh-oleh. Tentulah mbak Warni merasa sangat sedih – karena kebahagiaannya untuk berbuat baik dilarang oleh Romo-romonya. Romo-romo mengingatkan agar dia juga memikirkan masa depannya jika nanti sudah tua. Seperti para lansia yang hadir di sini – baik secara ekonomi maupun kesehatan di masa tua pasti ada kemunduruan. Romo -Romo tadi malah mewajibkan kepadanya agar setiap bulan dia harus menyerahkan uang ke rekening Rm. Purbo Tamtomo sebesar 500 lira. Diam-diam Romo -Romo menabungkan uangnya yang disetorkan itu. Pada saat dia memasuki pensiun dan kembali ke Indonesia uangnya tadi sudah banyak sekali jumlahnya. Uang yang ditabung itu diserahkan kembali kepadanya sehingga sampai di Yogyakarta ia dapat membangun rumah orangtuanya. Itulah bahagianya para Romo karena bisa membantu orang lain dengan cara yang sederhana. Memikirkan masa depan orang lain yang kadang tidak menyadari potensinya.

Contoh sederhana lain untuk membuat Bahagia diceritakan tentang pengalamannya waktu kecil. Membeli bola dengan cara mengkoordinir teman-temannya. Melalui iuran. Anak-anak yang orangtuanya cukup mampu diminta memberika donasi lebih besar. Ada yang memberi uang 10.000 atau 5000 atau 250 rupiah. Bahkan jika tidak mampu sama sekali tidak perlu membayar. Ini prinsip seperti kehidupan para Rasul pada bacaan pertama tadi. Ketika keinginan Bersama untuk membeli bola dan bermain Bersama terwujud. Dihati terasa Bahagia. Dan kebahagiaan itu menjadi milik bersama.

Terkait dengan hari Komunikasi Sedunia yang menjadi topik Perayaan Gereja Hari ini Minggu Paska ke VII dari Injil Yohanes 17, Romo Jenderal mengangkat Pertemuannya dengan Para Pembesar – Jenderal-Jenderal Ordo/Konggregasi di Roma. Apakah dengan menjadi Pimpinan tertinggi Tarekat otomatis kemampuan komunikasi para Pimpinan ini sudah sempurna? Ternyata tidak. Setiap pribadi perlu belajar berkomunikasi seumur hidup. Begitupun para pimpinan tertinggi Tarekat ini. Dalam pertemuan itu untuk belajar bersama dalam komunikasi dipanggilah Narasumber untuk memaparkan soal kemampuan berkomunikasi yang baik. Seperti disampaikan dalam Sharing pak Broto sebelum Misa tadi. Kunci utama komunikasi adalah kemauan untuk mendengarkan. Selain itu juga kerendahan hati. Inilah yang saya ingat dari homili Romo Jenderal. Saya merasa masih banyak lagi kalimat yang Romo sampaikan tetapi saya mencoba mengingatnya Kembali tidak muncul lagi. Mungkin teman-teman yang masih ingat apa yang disampaikan dalam Homili Romo Purnomo dapat melengkapi bagian yang saya lupakan. Misalnya yang disampaikan kepada Ezekiel dan Vici putra dari mas Kamil – terapan dari Bacaan Misa apa? Saya tidak ingat lagi.

Dalam Yoahanes 17 Bahagia itu seperti Yesus yang bisa menyelesaikan tugas dengan tuntas. “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada”.
Bahagia dengan memuliakan Tuhan dan membahagiakan orang lain.
Saya menafsirkan setelah mendapat keterangan dari mas Heru untuk pertanyaan kepada Ezekiel dan Vici. Kalimat itu kemudian diterapkan dalam praktek melalui pertanyaan kepada Ezekiel dan Vici, apakah pernah diminta tolong oleh orangtua? Mereka menjawab pernah. Apakah mau? Dijawab mau. Dengan mau dimintai pertolongan oleh orang tua itulah salah satu konteks sederhana bagimana anak-anak dapat membahagiakan orang lain yang pasti juga akan membuat mereka bahagia.

Doa umat dibacakan oleh Ezekiel dan Vici yang dipandu pelan-pelan oleh Mas Heru, Rm. Purnomo dengan sabar mendengarkan.

Lagu lain yang dinyanyikan dalam Misa ini adalah Santapan Peziarah dan Regina Caeli. Pada saat komuni Rm. Purnomo yang berkeliling dari tempat duduk ke tempat duduk yang lain. Bukan kami berbaris untuk menyabut kamuni. Pada blok di sekitaran saya Romo mulai memecah Hosti yang akan diterimakan karena kuatir masih ada yang tidak kebagian. Tetapi ternyata di bagian belakang – akhirnya hosti yang sudah dikonsekrasi yang diterimakan masih tersisa sehingga keberuntungan yang menerima di akhir-akhir karena bisa menerima hosti lebih dari satu.

Lagu Mars PBMN dinyanyikan saat menunggu Rm. Purnomo berganti Kasula dan Albanya di kamar dengan baju biasa. Saya merasa kita semua belum juga hafal. Bahkan notasinya hampir lupa. Syukurlah Organis dapat mengiringinya dengan baik. Tampaknya lagu ini perlu terus menerus dinyanyikan agar semakin hafal. Kalau perlu dilombakan….Berawal dari niat Mulya – mengikuti panggilan-Nya…

Setelah Misa selesai dilanjutkan dengan penerimaan Sakramen Minyak Suci. Beberapa orang yang maju ke depan khususnya para lansia. Ini tampaknya yang kemudian memberi inspirasi akan dilakukan juga nanti di Pertemuan Akbar Bulan Oktober. “Kapitel” PBMN di Sarangan. Saya kemarin sempat share bacaan tentang Sakramen Perminyakan orang Sakit dan Lanjut Usia untuk dibaca-baca dan kembali direnungkan fungsinya sebagai bahan pertimbangan dan pembelajaran. Kemarin saya berharap mas Widi Djatmiko yang “mesinnya” tinggal satu – ikut maju untuk memperoleh kekuatan lebih dari Sakramen itu. Tetapi tampaknya mas Widi belum merasa perlu. Saya tetap berdoa bagi semua anggota PBMN yang mengalami kemunduran kesehatan dan perlu perawatan kesehatan lebih ekstra Mas Gunawan, Mas Bagyo, Mas Widi, Pak Broto, Ibu Riries, ibu Titik Minarto, ibu Yani, mas Andre, Mas Heru, yang kemarin maju dan juga yang tidak maju menerima Sakramen Minyak Suci tetap selalu sehat – penuh berkat dan perlindungan dari Tuhan yang Maha Kasih. Khususnya adik Dhymphna puteri dari mas Heru Susanto yang dalam catatan sebelumnya sudah saya sampaikan, kita doakan secara khusus melalui Pater Berthier agar memperoleh karunia mukjijat kesembuhan. Mungkin masih banyak teman-teman lain di yang belum disebut dan tidak sempat hadir pada hari ini Mas Hendra Kusna, Bapak JD Herman dalam kondisinya semoga selalu sehat. Juga di Regio Semarang, Solo, Yogya Magelang, Surabaya-Denpasar, NTT, Kalimantan kita doakan agar melalui pater Berthier semua dalam perlindungan Tuhan. Yang memerlukan mukjijat diberikan mukjijat.

Mas Adihendro, tidak dapat hadir karena ada acara di Paroki yang tidak dapat ditinggalkan. Bapak Herman tidak bisa hadir karena tiba-tiba putranya yang akan mengantarkannya ada acara yang lain. Dari postingannya di WA tampak sangat merindukan pertemuan dengan anggota PBMN lainnya. Semula saya sangat berharap Mas Adihendro dapat menolong pak JD Herman untuk turut hadir. Ternyata mas Adihendro juga ada acara yang membuatnya tidak bisa hadir. Mas Subiyanto Suwitopranjono tidak bisa hadir karena ada acara. Sebelum hari H menyampaikan pesan lewat WA begini: Hari dan tanggal tersebut ada reuni mantan Pengurus PPI dan mahasiswa Melbourne University yg sudah dirancang sejak bbrp bulan lalu, sejak tahun 1989 baru akan temu muka. Salam hangat temen-temen PBMN semoga acaranya berjalan aman, lancar dan sukses. Berkat Tuhan melimpah untuk kita semua. Bro John Jagaduli Kraeng ada acara dan mengirim WA seperti ini: Selamat pagi para sedulur. Dengan sangat menyesal saya mohon maaf karena tidak bisa hadir diacara sua darat bersama sedulur dan Romo Jenderal. Karena pagi ini saya masih ikut acara peringatan ulang tahun paroki St Albertus Agung ke 11. Terus nanti sore misa jam 17.30 saya ada tugas prodiakon. Dan tidak mengurangi rasa hormat, saya titip salam hormat dan sukacita kepada Romo Jenderal yg berkesempatan hadir, para senior, mas Anton, pak Kamil, dan keluarga serta saudara²ku semua. Semoga acaranya lancar penuh persaudaraan dlm ikatan kasih keluarga Kudus Nasaret – YMY. Sekali lagi salam hormat…sampe ketemu diacara temu kangen nasional bln Oktober nanti.

Untuk Pertemuan Akbar bulan Oktober Nanti di Domus Mariae Sarangan – Sesudah Misa – Mas Andre sempat menyampaikan kepada Romo Jenderal agar berkenan memberikan sambutan dalam temu akbar nanti dalam bentuk rekaman video yang dapat dilihat Bersama di sana.

Setelah foto bersama, kita makan siang dengan menu aneka macam seperti terlihat dalam foto yang sudah di share. Tentu makanan-makanan itu sudah disiapkan oleh ibu-ibu sebelum Misa dimulai. Kita tahu the power of Emak-emak. Ada emak-emak yang hadir menemani – perut akan menjadi kenyang. Biar menimbulkan rasa kepingin saya buatkan list menunya di sini: Sate Ayam – Babi Kecap – Bakso B2 – Mie Goreng yang minyaknya tercampur minyak B2 – Bakwan Udang – Tahu Tempe – Tahu Bakso – Kerupuk Babi. Krupuk Bandung. Oseng-oseng daun papaya yang mak nyus cocok dengan daging B2 – Serabi Notosuman, Lemper, Sosis Solo, Roti Coklat, Risoles, Jajanan Pasar: Thiwul lupis dll lengkap, Kroket, Kemplang Palembang, Cendol Dawet. Es Selasih – Teh- kopi, Puding Mangga – Buah Jeruk – buah pisang Ambon. Makanan yang tersisa banyak sekali. Mas Anton Heru berkomentar dari 2 Ikan 5 Roti sisa 12 bakul. Tetapi akhirnya habis di bungkus untuk dibawa pulang!

Mas Andre harus pulang lebih dahulu karena harus menghadiri undangan acara pernikahan. Saat itu Mas Kamil Inglan berbicara sebentar sebagai tuan rumah. Tetapi saya tidak mendengarnya karena saya bersiap mengantarkan keluarga Mas Andre yang pulang lebih dahulu ke tempat parkir – takut parkirnya terhalang mobil yang tadi saya parkir dibelakangnya. Menyusul Mas Kamil yang mengantar sampai gerbang garasi. Saat kami kembali yang sedang berbicara sepintas mbak Dewi (Noviana Puspa Dewi) isteri Mas Kamil yang menceritakan ketertarikan putranya yang terkecil Vici untuk menjadi pastor, karena pernah satu mobil dengan pastor dan di bagian belakang mobilnya penuh dengan kue-kue dan makanan. Kesimpulannya “ Enak ya jadi pastor itu” maka dia ingin menjadi pastor.

Ibu Riries menceritakan putra-putri dan cucunya yang turut hadir memeriahkan acara ini. Dan sungguh luar biasa dengan kehadiran putra putrinya karena membuat acara menjadi lebih meriah. Terlebih menjelang pulang putrinya yang kedua – Mbak Shinta – bercerita menanggapi 2 ikan 5 roti dari komentar mas Heru, dia ingat akan cadaaan Papanya Mas Martaji, memberikan tebakan kepadanya. Ikan dan roti itu dari seorang anak kecil – anak kecil itu aslinya dari mana? Mereka tidak bisa menebak dan mas Martaji yang menjawab sendiri pertanyaannya. Anak itu berasal dari Manado. Jadi Roti Panada (makanan asli Manado yang berupa roti berisi ikan cakalang) itu sudah ada mulai sejak zaman Kitab Suci. Mbak Deitje Tundo istri Mas Tatak yang berasal dari Manado-Tomohon menanggapi “Ya memang Panada yang terbuat dari Roti dan Ikan itu enak sekali rasanya!” Shinta masih menunjuk Mamanya bu Riries – begitulah Ma suami lo kalau memberikan tebak-tebakan kepada anaknya. Mamanya menambahkan karena orang-orang itu adalah orang Yahudi maka masih bisa sisa 12 bakul. Coba kalau ibu-ibu sembahyangan lingkungan (ini saya edit supaya tidak rasis terhadap suku tertentu di Indonesia yang jadi bahan canda kelakarnya) pasti tidak ada sisa karena semuanya bawa tas untuk memasukkan sisa-sisanya itu lalu dibawa pulang. Itu juga kelakar berasal dari suaminya – alm. Mas Martaji yang diam-diam cenderung lucu dalam berkomunikasi dengan keluarganya.

Sebelum pulang kami diberi cendera mata Patung Natal yang cantik dari keluarga bu Riries – Martadji Family – bahkan satu keluarga boleh ambil lebih dari satu. Karena cendera mata yang dibawanya masih banyak tersisa. Masih ditambah juga roti-roti yang tersisa. Tidak habis dimakan bersama. Terima kasih.

Sambil ngeloyor pergi Shinta berteriak “Assalaam Muaalaikum”. Kami yang masih berdiri di teras rumah Mas Kamil menjawab kompak. “Waalaiukum Saaalaammm!” sambil tertawa.

Mas Mangun masih sempat berteriak agar Shinta menoleh ke belakang “ Riis jangan pulang dulu- lihat!” – saat Shinta menoleh – mas Mangun memasukkan kepalanya dalam peci haji warna hitam yang bisa molor – sambil berteriak. “Riis…Waalaikum Salam!” Kami semua menjadi tertawa terbahak-bahak.
Ternyata mas Mangun baru sadar hari ini – dia memanggil Riries yang dimaksud memanggil Shinta ternyata Nama Riries itu nama Mama-nya. Di WA dia memohon maaf kepada Ibu Riries atas kekeliruannya.
He he he
Baru tadi pagi, aku tahu dari Nda HarPad bahwa yang aku panggil RIRIS ternyata Bu Martaji. Padahal niatnya panggil si Shinta putrinya.
Ibu Martaji, saya mohon maaf atas kekeliruan dan ketidaksopanan saya.
Semoga tetap nyaman kumpul dengan Brayat Minulyo, pasti Mulyo.

Demikian janji saya untuk menuliskan laporan Temu Darat PBMN Jabodetabek sudah terlaksana.

Mohon maaf permintaan mas Tono Tirto tidak terpenuhi karena karaoke yang direncanakan tidak terekam. Kalau mau tahu ternyata ada bakat terpendam dari suara mas Tatak yang menyanyi di dalam rumah – sementara kami ada di teras. Suaranya bagus – jernih sekali. Sayang tidak direkam.

Tentu kita berterima kasih juga selain kepada mas Kamil Inglan yang rumahnya siap menjadi Base-Camp untuk PBMN Jabodetabek, juga kepada kedua sahabatnya yang telah mengiringi kita dengan keyboard saat Misa dan saat ada yang mau bernyanyi Bro Piter Olasua – satu lagi teman yang juga bernyanyi saat kita jeda makan dan menjadi operator camera saat kita mengambil gambar foto dan video-nya Bro Agus Asang – yang mantan Frater SVD.

Kita juga doakan putri mas Kamil yang besar Mili (Genoveva Militia Milvi Inguliman) yang sudah studi di China, dan akan menyusul kemudian adiknya putri yang kedua Blanca ( Monica Blanca Milvi Inguliman) juga akan berangkat studi ke sana. Kedua adiknya laki-laki masih studi di sini. Vidi (Atanasius Vidi Milvi Inguliman) dan Vici (⁠Gregorius Vici Milvi Inguliman). Semoga mereka semua dapat menempuh studinya dengan lanlancar dan berprestasi. Berdoa juga semoga putranya yang terkecil Vici nanti sungguh terpanggil menjadi pastor mengantikan ayahnya yang belum sempat tertahbis. Ada amin saudara?

PENUTUP
Kalau berangkatnya perjalanan kami bertiga. Pulangnya kami berlima. Saya menjadi driver dan disamping saya bendahara PBMN Periode sekarang ini. Di jok tengah ada mas Manguntiarso, Mas Thomas dan Mbak Monik. Kami pulang ke arah Depok masih ngobrolin tentang keluarga dan anak-anak. Setelah keluar exit toll Kukusan saya antar Mas Thomas dan Mbak Monik ke rumahnya di Jl. Gurame – dekat Gereja St. Herkulanus Depok Utara. Selanjutnya mengantar mas Manguntiarso ke Stasiun Depok Baru untuk kembali ke rumahnya di Gadog. Inilah rasanya persaudaraan PBMN jika bisa berjalan bersama-sama kenapa harus sendiri-sendiri. Dengan jalan bersama begini kita bisa update tentang kondisi keluarga masing-masing untuk bisa saling mendoakan. Agar berkat Tuhan selalu melindungi kita semua. Semoga mukjijat Tuhan dapat terjadi melalui Pater Berthier.

Sudah saya tulis dalam WAG akhirnya saya sampai di rumah menjelang pukul 16.30. Ibu yang di rumah sudah berdandan untuk pergi mengikuti Misa di Gereja pukul 17.00. Saya buru-buru mendorong anak-anak untuk menemani neneknya ke gereja. Kami berdua sudah lelah secara fisik sehingga merasa tidak perlu mengikuti Misa Novena hari ke -3 di Gereja. Karena pada pukul 19.30 kami juga harus pergi lagi untuk mengikuti doa Rosario dengan umat di lingkungan. Maka kata penutup saya pada hari itu saya posted di WA pukul 21.26. Saya sudah lelah secara fisik – tetapi terasa hangat di dalam hati!

Srengseng Sawah Jakarta Selatan, 19 Mei 2026
Ansgarius Hari 45 Wijaya

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *