Idealisme versus Bisnis
Serial. 10
MENJADI GURU BIASA SAJA
Tahun 2005 kami diperkenalkan dengan pengusaha yang berencana membuka SD, tentu untuk kalangan menengah ke atas, saat itu uang pangkal sudah 25 juta, SPP 2 juta. Akhirnya istri ditawari menjadi manajer operasional untuk merintis sekolah ini. Diterima dengan perhitungan sore masih bisa mengurus kursus di rumah dan aku tetap mendampingi sehingga bertemu owner sekolah. Aku banyak diminta untuk ikut promosi dengan menulis artikel advertisial di koran untuk branding sekolah, juga siaran radio, bahkan lewat tivi lokal. Aku seperti mendapat kesempatan untuk explore tema – tema pendidikan. Istri sangat sibuk karena merangkap marketing untuk mencapai target satu kelas satu. Benar, satu kelas tercapai, dan aku juga semakin terlibat di sekolah ini. Saat itu aku lagi gandrung dengan Teori Multiple Intelligences– nya Howard Gardner. Gayung bersambut, owner menginginkan multi intelligence menjadi trade mark sekolahnya, lalu membranding secara masif. Boleh dikata, sekolah baru ini sukses, bukan karena jasa kami tetapi kerja keras tim dan strategi bisnis owner. Saat itu aku mengambil S2 – Linguistik Universitas Udayana.
Setelah berjalan tiga tahun dengan baik, kelas satu bisa mendapat dua kelas. Aku terbuka pikiran ternyata pendidikan itu bisa jadi lahan bisnis yang subur, bukan sekadar ranah idealisme seperti yang kupersepsikan selama ini.
Mulai terasa owner sudah tidak membutuhkan kami, toh semua sudah berjalan baik. Aku juga sering berbeda pendapat antara orientasi idealismeku dengan bisnis punya owner. Demi pencitraan, nama istri juga tidak dicantumkan dalam struktur sekolah karena cuma tamatan SMA, bukan sarjana –padahal de facto ia bekerja keras di balik layar. Rupanya ini ” membekas” sehingga nantinya memotivasi untuk kuliah lagi, bahkan sampai S2.
Aku sadar sekolah ini bukan punyaku, aku hanya kuli, semua terserah sang majikan. Kami pun resign. Jujur memang sakit di awal, tetapi justru timbul mimpi ” Andai aku bisa punya sekolah sendiri! ” Rupanya Tuhan punya rencana lebih besar kepadaku. Tangan-Nya menghantarku ke rumput hijau..

