#03 – Merasa Dimiliki – Sebagai Aset Yayasan

#03 – Merasa Dimiliki – Sebagai Aset Yayasan

SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI

Oleh St. Kartono

Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar baik adanya bagi sesama.

Usai berbicara di forum para suster di Kawasan Bogor, Jawa Barat – saya diantar seorang sahabat sekaligus kolega suster. Beberapa suster melepas saya di halaman rumah retret, sebelum berkendara dan jendela masih terbuka, suster pimpinan setengah berseru, “Hati-hati, lho, Pak, membawa Pak Kartono, ini aset Yayasan!” Saya pun berseloroh balik dan dijawab suster, “Ya, aset banyak yayasan, di mana saja!”

Tak jauh waktu berselang di Yogya, setelah menerima buku terbaru, romo rektor sekaligus ketua pengurus yayasan tempat saya mendidik menepuk pundak di lorong perpustakaan, “Yayasan merasa memiliki Anda!” Sebuah ungkapan yang menuntut komitmen dalam waktu panjang.

Menjadi “aset” dan “dimiliki” adalah dipercaya, memunculkan perasaan berharga. Di lain sisi ada tuntutan kesediaan diformat, dibentuk, diarahkan, bahkan kemauan untuk bersama memeluk tujuan baik. Merasa dibutuhkan semestinya beriringan dengan sikap kerendah-hatian. Di banyak pengalaman, seseorang yang merasa dibutuhkan acap menepuk dada, bahkan sulit diatur, semau sendiri.

Di awal tulisan ini, suster pimpinan dan romo rektor berdiri di satu terminal pertumbuhan pribadi saya. Mereka sebagai representasi yayasan pendidikan menyalakan rambu-rambu penting yang menjaga arah pelayanan seorang guru. Rambu akan berdampak jika guru menghadirkan diri sebagai pribadi yang terbuka, hingga guru tidak melihat karyanya hanya sebagai cara memperoleh penghasilan untuk hidup.

Apa yang membuat saya sepanjang 30 tahun selalu bergegas bangun di pagi hari dan menyiapkan diri? Karena saya dibutuhkan oleh murid-murid. Mereka menunggu saya, membutuhkan saya. Saya dimiliki oleh murid-murid. Perasaan optimistik setiap hari itu menguar di setiap kelas sepanjang hari. ***

St. Kartono

St. Kartono

St. Kartono – Kolumnis pendidikan mengkorankan lebih dari 650 artikel, pembicara di lebih dari 750 forum, dosen, penulis 15 buku diantaranya Sekolah Bukan Pasar (Buku KOMPAS, 2009), Menjadi Guru untuk Muridku (Kanisius, 2011), Menjadi Guru Berjiwa Merdeka (Aseni, 2024).

3 thoughts on “#03 – Merasa Dimiliki – Sebagai Aset Yayasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *