#05 – Belajar Berterima Kasih
SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI
#05 – Belajar Berterima Kasih
Oleh St. Kartono
Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar baik adanya bagi sesama.
– 0 –
Usai makan pagi, gadis kecilku pasti berucap, “Terima kasih ya, Buk, sarapannya.” Sejauh saya mampu mengingat, anak-anak diajari untuk mengucapkan terima kasih ketika diberi sesuatu atau dibantu oleh orang lain. Namun, selalu mendengar ucapan terima kasih untuk ibunya, bapaknya, atau siapapun yang serumah, dari seorang anak adalah tidak lazim – bagi sebagian orang bisa jadi dianggap berlebihan.
Saling-membantu di rumah atau melakukan pekerjaan rumah yang dianggap rutinitas harian acapkali terlewati oleh ucapan “terima kasih”. Setelah berulang-kali mendengar yang dilakukan gadis kecil di rumah, saya pun mulai membiasakan kepada istri – ketika dibukakan pintu pagar, disiapkan makan, diantar belanja, atau apapun yang saya terima darinya. Hingga kini, kepada anak-anak yang berkirim sesuatu ke rumah, pasti saya berikan respon terima kasih lewat gawai.
Sejauh menyelisik beberapa pustaka budaya, ucapan “terima kasih” sejatinya sebagai ungkapan rasa syukur. Syukur atas kebaikan, pemberian, atau kemurah-hatian dari keluarga, sesama, lembaga, bahkan Tuhan Sang Mahacinta. Lantas, yang memberi akan menjawab “sama-sama”, atau “sami-sami”, atau “kembali”, yang berarti ungkapan syukur itu akan diberikan juga dalam proses “saling”. Di sanalah ada relasi saling-memberi, saling-memberkati, atau saling-mendoakan akan kebaikan.
Di zaman kini, mengucapkan terima kasih menjadi keutamaan yang mesti dibiasakan, berulang-ulang diajarkan. Jika tidak sedang bersemuka, ucapan bisa disampaikan lewat gawai, sebuah proses yang gampang. Toh, hal itu tidak mudah dilakukan oleh banyak pihak. Di kelas-kelas mahasiswa pun, berulang-ulang saya lakukan menunggu mahasiswa mengucapkan terima kasih setelah menerima kertas kerja.
Seseorang yang tidak bisa mengucapkan terima kasih, ya memang tidak diajari atau dibiasakan. Menganggap apapun yang diterimanya akan datang dengan sendirinya. Lewat ucapan terima kasih yang dibiasakan, anak-anak akan memiliki tabungan rasa syukur di masa depan. Setelah mereka bekerja, kami membiasakan berdoa demi kebaikan lembaga atau perusahaan tempatnya berkarya – berterima kasih menjadi perantara rezeki. ***

