NOMEN EST OMEN

NOMEN EST OMEN

Penulis FA Adihendro

Renungan Harian, 3 Januari 2026

HARI RAYA NAMA YESUS YANG TERSUCI

Bacaan : Yoh 1:29-34

“Dan aku melihatnya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah” (Yoh 1:34)

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

NOMEN est Omen, satu pepatah Latin yang berarti nama itu adalah pertanda. Bayangkan misalnya orang tidak mempunyai nama? Akan sulit kita memanggilnya. Tetapi nama juga merupakan suatu harapan. Dalam masyarakat Jawa orang tua memberikan nama kepada anaknya bukan sekadar pertanda untuk membedakan anak satu dengan dengan lainnya, melainkan juga suatu harapan  anak yang dilahirkan kelak menjadi apa. Nama juga merupakan perutusan, suatu misi. Paus Fransiskus pernah mengatakan, “Coba ambil perutusan seseorang, maka ia tidak akan mempunyai apa-apa lagi. Tanpa makna”.

Contohnya, nama “Slamet”, orang tua mengharapkan bahwa ada keselamatan dalam diri anak tersebut. Nama “Suripno”, yang terdiri dari tiga suku kata “Su=baik”, “Urip=hidup”, dan “No-ono=Ada”, diharapkan kelak anak ini akan mendapatkan hidup yang baik. Suatu perutusan, suatu misi baik untuk anak yang dilahirkan. Tetapi pada jaman milenial ini, nama-nama yang dipilih hanya sekadar mengejar enak didengar dan dituliskan, artinya embuh, misalnya: Axelle, Blaise, Elard, Zarowky…dll, meskipun mempunyai arti tetapi asing dalam telinga Jawa.

Sedangkan nama “Yesus” bukan sembarang nama. Menurut Kitab Suci, nama itu diberikan oleh Allah sendiri melalui mulut malaikat Gabriel kepada Maria, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan melahirkan seorang Anak laki-laki, dan hendaknya engkau menamai Dia Yesus” (Luk 1:31). Sedangkan dalam Bahasa Ibrani kata Yesus itu adalah Yeshua (singkatan dari kata Yehoshua) yang berarti “Yahwe (Tuhan) adalah keselamatan” atau “Yahwe menyelamatkan”. Ada nuasa perutusan, suatu misi yang dibawa oleh Yesus. Biasanya yang mengakui tafsiran dan makna suatu nama adalah justru orang lain. Mereka membenarkan atau malah mempertanyakan.

Dalam Bacaan Injil hari ini orang Yahudi dari Yerusalem telah salah menangkap arti kedatangan Yohanes, “Siapakah engkau? Elia?” (bdk Yoh 1:20). Tetapi Yohanes  membantahnya, “Bukan!” Kemudian Yohanes meluruskan anggapan mereka dan menunjuk Yesus, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” dan lanjutnya, “Aku telah melihatnya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah”. Makna “anak domba” adalah sesuatu yang harus dikorbankan untuk penyelamatan. Yesus telah mengorbankan Diri-Nya untuk menyelamatkan umat manusia. Kata “Anak Allah” menunjuk asal usul Yesus sendiri, Allah yang menjelma menjadi manusia. Yohanes telah memberikan kesaksian penting, karena ia sendiri telah melihatnyya. Kesaksian orang yang telah melihatnya dengan mata kepala  dan mengalami sendiri menjadi otentik dan tak terbantahkan.

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Kita, sebagai umat kristiani, merasa telah disentuh oleh Tuhan Yesus. Kita mengalami dan merasakan bahwa Tuhan telah memberikan Berkah dan Rahmat-Nya yang berlimpah kepada kita, maka kita wajib bersyukur. Tetapi bersyukur saja tidak cukup! Kita harus berani seperti Yohanes, memberi kesaksian akan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Umat Kristiani seharusnya bisa menjadi saksi-saksi hidup akan kehadiran Allah di tengah-tengah manusia.

Doa Penguat:

Bapa, Allah yang Maha kasih, buatlah kami menjadi saksi-saksi hidup akan datangnya Kerajaan Kasih-Mu kepada orang-orang di sekitar kami. Sehingga kami boleh menjadi bagian untuk membagi Berkah bagi banyak orang. Demi Kristus, Tuhan dan Junjungan kami. Amin.

FA Adihendro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *