Susi Namaku: Perjalanan Berdamai dan Penerimaan Diri
Sebuah Proses
Nama “Susi” ini pernah menjadi sumber sakit hati, luka batin, dan ketidaknyamanan selama kurang lebih tiga dekade. Kemarin, dalam sebuah kolom komentar di media sosial, seorang rekan menyapa saya dengan sebutan “Ibu Susy”. Dengan santai saya menjawab, “Saya laki-laki, Bang. Hanya saja diberi nama feminin oleh mendiang orang tua.”
Saat mengetik jawaban itu, perasaan saya biasa saja. Tidak ada kemarahan, kejengkelan, apalagi sakit hati. Rasanya sangat normal, seolah tidak ada lagi gejolak rasa di dalamnya. Namun, apakah sejak dulu saya sedamai ini? Jelas tidak.
Saya teringat tahun 2003, saat masih kelas dua dan mengikuti retret di Paroki St. Yusup, Pati. Sebelum pembukaan, kami diajak mengikuti misa oleh Rama Paroki dan diperkenalkan sebelum berkat penutup. Usai misa, kami kembali ke pastoran di lantai dua. Di depan ruang makan (refter), kami berbincang dengan suster komunitas setempat.
Tiba-tiba, salah satu suster memanggil nama saya: “Susiiiiii…” dengan nada yang saya anggap sangat genit. Saat itu, saya masih menyimpan amarah. Secara refleks, saya membalasnya dengan umpatan tiga huruf. Teman-teman seangkatan langsung tertawa terbahak-bahak melihat reaksi saya. “Wah, Susi ngamuk nih!” goda mereka.
Kejadian serupa berlanjut sore berikutnya. Saat sedang merenung, seorang misdinar perempuan berkomentar, “Kata Mama, Frater cantik deh, apalagi kalau pakai jubah.” Padahal saat itu rambut saya cepak, alias gundul, tidak lebih dari tiga sentimeter. Saya hanya bisa membayangkan, jika anak itu melihat rambut saya yang sekarang sudah panjang, komentar apa lagi yang akan ia lontarkan?

Berdamai dengan Keadaan
Sejak di biara, saya sering dipercaya menjadi pembimbing rekoleksi—bahkan lebih sering dibanding rekan seangkatan atau senior. Peran sebagai “tukang rekoleksi” ini terus berlanjut bahkan setelah saya tidak lagi di biara.
Dalam setiap sesi, perkenalan adalah poin mendasar. Saya menyadari bahwa dengan menyebut nama “Susi”, para peserta akan jauh lebih mudah mengingat saya. Ini adalah sebuah keuntungan. Lantas, mengapa saya harus tetap jengkel?
Sejak saat itu, saya justru sering menantang peserta, “Ayo, siapa yang paling genit, coba ucapkan nama Susi!” Nama itu kini menjadi sarana untuk memperkenalkan diri dengan akrab dan riang.
Suatu kali, seorang cucu keponakan yang baru berkenalan bertanya dengan heran, “Opa Susi? Lho, kok Opa namanya Susi?” Saya hanya tersenyum. Pertanyaan itu tidak lagi membuat saya meradang. Kedamaian itu akhirnya tiba.
Saya belajar bahwa menerima hal-hal yang tidak bisa diubah jauh lebih mudah dan membahagiakan daripada terus mempersoalkannya. Terkadang, menertawakan keadaan yang “tidak baik-baik saja” adalah sebuah bentuk komedi kehidupan yang menenangkan.
Penerimaan Diri yang Utuh
Dahulu, saat duduk di bangku SMP, seorang guru menyarankan saya mengganti nama panggilan menjadi “Haryawan”. Namun, hal itu malah memicu kebingungan. Saat ujian, saya menulis nama Haryawan, guru saya bingung mencari siapa pemilik kertas tersebut, dan saya sendiri tidak menoleh saat dipanggil dengan nama baru itu.
Bahkan saat Rektor Seminari Menengah Mertoyudan menyarankan saya untuk mengganti nama secara resmi, saya dengan tegas memilih untuk tetap pada nama asli saya. Ini adalah pemberian orang tua. Meski mungkin tidak ideal di mata orang lain, toh tidak ada yang salah dengan nama itu.
Ada satu cerita menggelikan tentang mendiang kakak saya. Saat ia mengikuti lomba balita sehat, juri bertanya apakah adiknya laki-laki atau perempuan. Ia menjawab perempuan. Ketika ditanya siapa namanya, ia menjawab dengan mantap, “Susi Lestari.” Para juri yang mengenal orang tua kami langsung tertawa terbahak-bahak. Kakak saya pun gagal memenangkan lomba gara-gara jawaban itu.
Butuh waktu 33 tahun bagi saya untuk bisa menerima nama ini dengan sepenuh hati. Hal ini berbeda dengan kondisi rambut saya yang sudah beruban sejak usia 23 tahun. Dipanggil “Pak Uban”, “Simbah”, atau “Boleng” tidak pernah menjadi masalah bagi saya. Sebaliknya, itu membuat suasana jadi lebih akrab. Setiap kali tukang cukur menawarkan semir hitam, saya selalu bercanda, “Mahalan mana semir hitam atau putih?” Kalau mereka menjawab putih, saya akan menimpali, “Ya sudah, biar saja putih, daripada mahal-mahal menyemir putih.”
Menerima diri apa adanya itu lebih murah dan menyenangkan. Bayangkan jika rambut putih harus selalu dicabuti atau diwarnai; saat mulai tumbuh kembali, warnanya akan belang seperti zebra. Hati pun akan uring-uringan jika sedang tidak punya uang untuk mewarnai rambut.
Begitu pula dengan nama. Kini, nama “Susi” adalah bahan bercandaan yang menciptakan keakraban. Mengapa harus sewot, jika menerima diri bisa membuat hidup jauh lebih ringan?
Salam JMJ
Susy Haryawan

