#06 – Belajar Bermurah Hati
SERIAL DIUBAH DAN MENGUBAH DIRI
Pernyataan: Artikel ringkas berupa serial (bersambung) ini sebagai ungkapan syukur yang menghadirkan catatan pengalaman perubahan diri, karena penulis meyakini sejatinya tiap pribadi “dilahirkan baik adanya”. Oleh sebab itu, diri sendiri, pergaulan, sekolah, lingkungan, dan keluarga punya kontribusi menjaga setiap pribadi agar baik adanya bagi sesama.
Saat baru duduk menghadap dan akan membahas penulisan salah satu bab skripsi, dosen pembimbing langsung menukas “Ada masalah apa, kok bab ini kacau idemu?” Pertanyaan yang tak terduga itu pun saya jawab tanpa pikir panjang, “Seminggu lagi batas membayar uang kuliah, di tangan saya baru separo…” Lalu beliau menarik dompet dari sakunya mengeluarkan sejumlah duit yang mesti segera saya lunasi, pun menyuruhku bergegas membayarkan di kasir bank di deretan kantornya lantai 2 Kampus Sanata Dharma Mrican.
Satu “terminal rahmat” bagi saya adalah berjumpa dosen pembimbing yang murah hati. Dia begitu lihai membidik akar masalah, bukan sekadar gejala yang tampak pada kalimat sekaligus alinea yang kacau di skripsi. Biang kekacauan pikiran mahasiswa sebenarnya kian terpepet dengan kejaran batas akhir melunasi pembayaran uang kuliah. “Sekarang bereskan bab ini, masalahmu sudah selesai!”, usai saya menunjukkan kuitansi bukti pembayaran uang kuliah. Murah hati itu sejatinya sebalik keping mata uang yang berupa peka kebutuhan orang lain.
Berbalik dari ruang pembimbing saat itu, selain kuk di pundak saya terangkat – secara perlahan dan pasti saya dididik olehnya menjadi murah hati. Sebagai calon guru, saya dibekali amunisi bahwa kemurah-hatian itu membahagiakan, sembari membatin: saya akan belajar terus menjadi pendidik yang murah hati. Mendidik murid (juga mahasiswa) dengan intimidatif, bergaya penindas, atau berlagak merendahkan hanya akan mencetak lebih banyak lagi penindas-penindas yang gila kehormatan. Biarlah kebaikan saja yang akan diteruskan oleh banyak murid.
Murah hati tak mesti berwujud jumlah rupiah. Saya masih menyaksikan sebagian kolega muda guru yang menyempatkan menjumpai – mendengarkan – membimbing – bersemuka dengan murid di luar jam kerja yang semestinya. Itu wujud kemurah-hatian. Tak sedikit orang saya jumpai di kampung atau kegiatan gereja yang “seolah” punya saldo waktu yang sejatinya hanya 24 jam tiap hari, toh bisa melayani banyak hal. Betapa bahagianya mengalami, menyaksikan, dan menghidupi kemurah-hatian. ***


Kisah yang menguatkan. Bereskan akar masalahnya. Lainnya biarkan urusan Tuhan, kira-kira bisa saya tambahkan demikian. Terima kasih OmGuru
terima kasih, OmBro Alfred – tambahan yang makin membulatkan refleksi