Ia Harus Makin Besar, Tetapi Aku Harus Makin Kecil

Ia Harus Makin Besar, Tetapi Aku Harus Makin Kecil

Penulis : Paul Subiyanto

Renungan Harian – Sabtu, 10 Januari 2026
Bacaan Injil: Yohanes 3:22–30

Ringkasan
Tampak adanya semacam dualisme kepemimpinan antara Yohanes Pembaptis dan Yesus. Keduanya sama-sama membaptis dan memiliki banyak pengikut, sehingga menimbulkan kebingungan di kalangan orang Yahudi. Namun dengan tegas Yohanes menegaskan bahwa dirinya bukan Mesias. Ia hanyalah utusan yang membuka jalan bagi Sang Mesias, Yesus dari Nazaret. Perikop ini ditutup dengan ungkapan yang bijak dan penuh kerendahan hati: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Renungan
Seandainya Yohanes memiliki ambisi pribadi, inilah saat yang sangat strategis untuk meraih popularitas, bahkan memasuki dunia politik dan kekuasaan. Ia memiliki banyak pengikut yang meyakini dirinya sebagai Mesias yang akan membebaskan Israel. Namun Yohanes tidak tergoda oleh itu semua. Ia sadar akan panggilan dan batas perannya. Kesadarannya itu bahkan membawanya pada kepatuhan pada “hukum langit”: kepalanya dipenggal oleh Herodes, tepat sebelum Yesus tampil dan berkarya, agar tidak ada “matahari kembar” di langit Israel.

Di dunia yang semakin kompetitif dan pragmatis, kita kerap mendengar semboyan yang dianggap sebagai kebenaran mutlak: “kesempatan tidak datang dua kali.” Semboyan ini sering memicu sikap serakah dan kemaruk, seolah segala cara dibenarkan demi mempertahankan posisi dan kekuasaan.

Padahal setiap orang memiliki peran dan batasnya masing-masing. Membiarkan “Ia makin besar dan aku makin kecil” adalah sikap yang bijak dan manusiawi. Sebaliknya, upaya melanggengkan kekuasaan melalui nepotisme, membangun dinasti dengan mengutak-atik hukum, merupakan sikap primitif yang digerakkan oleh nafsu-nafsu brutal, bahkan tak jarang dengan menyingkirkan para pesaing.

Ketika kita menduduki posisi tertentu—baik dalam karier maupun dalam pelayanan gerejawi—pesan Injil “biarlah Ia makin besar dan aku makin kecil” menjadi dasar bagi proses regenerasi yang sehat. Kesempatan perlu diberikan kepada generasi yang lebih muda, dan kita belajar mengundurkan diri dengan legawa. AMDG (Ad Maiorem Dei Gloriam) menjadi kriteria tertinggi: demi kebesaran dan kemuliaan Tuhan semata.

Doa
Tuhan, berilah kami keberanian untuk bersikap bijak dengan menyadari keterbatasan diri.
Ajarlah kami untuk berani melepaskan jabatan dan kekuasaan dengan hati yang bebas.
Amin.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *