Dari Kesetiaan Hati Menuju Kesempurnaan Kasih
Bacaan I Ulangan 26:16-19
“Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya. Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya.”
Injil Matius 5:43-48:
Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Sahabat Brayat Minulya yang terkasih,
Tanpa terasa, waktu telah membawa kita ke ambang pintu bulan Maret. Februari segera pergi, meninggalkan jejak langkah kita, baik yang ringan karena sukacita, maupun yang berat karena beban.
Di penghujung bulan ini, liturgi hari ini tidak sekadar mengajak kita membaca firman, melainkan mengetuk pintu hati yang paling dalam: Siapakah kita di hadapan Allah? Apakah kita hanya umat yang rutin datang ke gereja, atau jiwa yang benar-benar hidup dan berdenyut dalam Allah?
Lebih Dari Sekadar Perjanjian di Atas Kertas
Kitab Ulangan mengingatkan kita bahwa hubungan kita dengan Tuhan bukanlah transaksi dagang, melainkan sebuah kovenan, ikatan cinta yang saling memeluk. Tuhan telah memilih kita menjadi umat kesayangan-Nya. Itu adalah anugerah yang cuma-cuma. Namun, cinta yang sejati selalu menuntut respons.
Seringkali, kita menggoda diri sendiri bahwa kita sudah setia karena sudah rutin berdoa atau bertugas di gereja. Padahal, kesetiaan yang Tuhan rindu bukan sekadar rutinitas tangan dan kaki, melainkan kejujuran hati.
Seperti doa pemazmur yang merindu, “Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu!”, mari kita jadikan kehendak Tuhan sebagai kompas, bukan sekadar ban serep yang baru dipasang saat kita sedang “ban bocor” atau dalam masalah. Kesetiaan sejati tumbuh saat kita memilih Tuhan, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Mengasihi Tanpa Batas, Seperti Bapa
Namun, perjalanan iman tidak berhenti di ketaatan. Yesus, dalam Injil Matius, menarik garis kasih kita lebih lebar lagi. Dunia mengajarkan logika timbal balik: “Saya baik pada kamu, kamu baik pada saya.” Itu wajar. Itu manusiawi.
Tetapi Yesus bertanya, “Apa lebihnya kamu?”
Jika kasih kita hanya diberikan pada mereka yang menyenangkan hati kita, di mana letak kemiripan kita dengan Allah? Kesempurnaan yang diminta Yesus bukanlah kesempurnaan tanpa cela, di mana kita tidak pernah salah. Bukan itu. Kesempurnaan di sini adalah tentang keluasan hati.
Coba lihat matahari di pagi hari. Ia tidak bertanya apakah manusia itu baik atau jahat sebelum menyinari mereka. Hujan tidak menolak membasahi tanah orang yang tidak bersyukur. Demikianlah kasih Bapa.
Dan kita, anak-anak-Nya, dipanggil untuk meniru denyut jantung Bapa: mengasihi tanpa pilih kasih. Mengasihi ketika sakit hati, mengasihi ketika dikhianati, dan mengasihi ketika dunia menyuruh kita membenci.
Di sanalah letak kemurnian iman kita; saat kita mampu merangkul “musuh” sebagai sesama yang juga dikasihi Tuhan.
Menutup Februari dengan Hati yang Lapang
Sahabat, sebelum kita melangkah ke bulan baru, mari sejenak kita hening. Tanyakan pada diri sendiri dengan lembut: Masih adakah sudut di hatiku yang terkunci rapat? Masih adakah nama seseorang yang jika disebut, dada kita terasa sesak oleh dendam atau kekecewaan?
Kasih kita diuji bukan saat kita berada di lingkaran kenyamanan bersama sahabat, melainkan saat kita berhadapan dengan orang-orang yang sulit kita terima. Melepaskan pengampunan mungkin terasa berat, tetapi menyimpan dendam jauh lebih melelahkan.
Mari kita tutup bulan Februari ini dengan meletakkan beban itu. Jadilah “umat kudus” bukan karena kita suci tanpa dosa, tapi karena kita berani mengasihi seperti Bapa mengasihi.

