Tuhan, Penerang Hidup

Tuhan, Penerang Hidup

Oleh CB. Ismulyadi

Renungan Harian, Minggu, 1 Maret 2026

Bacaan Injil
Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!” Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”

Renungan

Bacaan Injil hari ini mengajak kita masuk ke dalam momen pribadi yang dialami Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Tepat sebelum mempersiapkan renungan ini, saya diingatkan tentang kisah Daniel dan penglihatannya tentang Anak Manusia (Kitab Daniel 10). Saya melihat adanya kesamaan yang jelas antara peristiwa-peristiwa tersebut. Hal itu mengingatkan saya bahwa sebagai orang Yahudi, para murid pasti sudah familiar dengan penglihatan Daniel, dan ini akan membantu mereka memahami signifikansi dari apa yang mereka alami di gunung itu. Bapa sedang menyatakan Yesus kepada mereka sebagai seseorang yang lebih besar dari Musa atau Elia, bahwa Dia sebenarnya adalah Anak Manusia seperti yang dinyatakan dalam kitab Daniel, Mesias yang telah mereka nantikan sepanjang hidup mereka.

Para murid mengalami perjumpaan ini di atas gunung-gunung adalah tempat pertemuan antara Tuhan dan umat-Nya dalam Perjanjian Lama, ada begitu banyak contoh tentang hal ini dan tentu saja, baik Elia maupun Musa bertemu dengan Tuhan di atas gunung. Yesus menyuruh mereka untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun sampai setelah ‘Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati’. Jadi mereka sekarang tidak lagi berilusi bahwa Yesus berbicara tentang diri-Nya sendiri karena mereka sekarang mengerti bahwa Yesus sebenarnya adalah sosok misterius yang digambarkan dalam Kitab Daniel.

Momen ini, ketika Yesus wafat di kayu salib, adalah momen yang ditunjukkan oleh transfigurasi. Saat Yesus wafat di kayu salib, ada kegelapan, namun pada saat Yesus wafat, terang menerobos: “…dan seluruh negeri itu gelap gulita sampai jam kesembilan…” (Lukas 23:44). Jadi, terang memang telah mengalahkan kegelapan, hidup telah mengalahkan kematian, karena tiga hari kemudian Yesus bangkit menuju kehidupan baru. Sekilas gambaran Yesus yang dimuliakan di gunung itu kini menjadi kenyataan – Dia adalah terang sejati yang telah mengalahkan kegelapan, Tuhan terang. Dia memanggil kita untuk datang kepada-Nya, untuk menyerahkan dosa dan kerapuhan kita kepada-Nya dan untuk menerima hidup baru-Nya.

Doa
Ya Tuhan, Engkau adalah sumber segala terang dan kebenaran. Aku datang ke hadirat-Mu dengan hati yang terbuka, menyadari bahwa tanpa cahaya-Mu, aku berjalan dalam kegelapan.
Tuhan, terangilah diriku. Berkatilah setiap langkah kakiku, pekerjaan tanganku, dan keputusan-keputusan praktis yang kuambil setiap hari. Berikanlah kesehatan bagi tubuhku agar aku dapat melayani-Mu dengan baik. Di saat aku menghadapi kebuntuan dalam masalah duniawi, ekonomi, maupun relasi, pancarkanlah cahaya-Mu agar aku melihat jalan keluar yang sesuai dengan kehendak-Mu.
Utuslah Roh Kudus-Mu untuk membimbing batin dan nuraniku. Singkirkanlah kegelapan dosa, keraguan, dan keputusasaan dari jiwaku. Berilah aku hikmat untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, serta keberanian untuk setia pada ajaran Kasih-Mu. Biarlah hidupku menjadi cermin kecil dari cahaya Kristus bagi sesama di sekitarku.Ya Yesus, Engkau adalah Terang bagi hidupku. Amin.***

C. IsmulCokro

C. IsmulCokro (CB. Ismulyadi), tinggal Sleman. Pernah studi di Fak Teologi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (Fakultas Teologi Wedha Bhakti) dan Ilmu Religi Budaya USD. Sampai saat ini masih berkarya sebagai ASN. Giat dalam dunia penulisan sebagai writerpreneur, editor freelance, redaksi salah satu tabloid dan memotivasi berbagai kalangan yang akan berproses menulis dan menerbitkannya. Email: cokroismul@gmail.com. FB. Carolus ismulcokro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *