Jalan Salib atau Jalan Kuasa?

Jalan Salib atau Jalan Kuasa?

Oleh M. Unggul Prabowo

Renungan harian, Rabu 4 Maret 2026
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Mat 20:26)

Sahabat-sahabat Yesus yang dikasihi Tuhan.

Dalam Injil Matius 20:17-28, Yesus sedang berjalan menuju Yerusalem. Ia tahu penderitaan dan salib menanti-Nya. Namun di tengah suasana serius itu, justru muncul permintaan yang sangat manusiawi: ibu dari anak-anak Zebedeus meminta agar kedua anaknya mendapat posisi terhormat dalam Kerajaan Yesus. Para murid lainnya pun menjadi marah. Mengapa? Karena mereka juga menginginkan hal yang sama.

Betapa dekat kisah ini dengan kehidupan kita hari ini.

Di berbagai organisasi, baik komunitas rohani, lembaga sosial, bahkan pelayanan Gereja, konflik sering bukan soal visi, tetapi soal posisi. Siapa yang memimpin? Siapa yang lebih didengar? Siapa yang mendapat panggung? Demikian pula dalam dunia politik: perebutan kekuasaan, saling menjatuhkan, intrik, dan ambisi pribadi sering lebih dominan daripada semangat melayani rakyat.

Yesus tidak memarahi mereka dengan keras. Ia justru memberikan paradigma baru tentang kepemimpinan. “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi… Tidaklah demikian di antara kamu.” Bagi Yesus, kebesaran tidak diukur dari kursi, jabatan, atau popularitas, melainkan dari kesediaan untuk melayani dan berkorban.

Yesus sendiri memberi teladan: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Ia tidak hanya berkata, tetapi menghidupi kata-kata-Nya sampai di kayu salib.

Sering kali konflik dalam organisasi muncul karena kita lupa tujuan awal. Kita mulai dengan semangat pelayanan, tetapi perlahan ambisi pribadi menyusup. Kita mulai membangun bersama, tetapi akhirnya sibuk membangun nama sendiri. Kita berbicara tentang kebaikan bersama, tetapi diam-diam menginginkan pengakuan.

Injil hari ini mengajak kita bercermin: Apakah aku melayani atau sedang mencari dilayani? Apakah aku bekerja demi misi, atau demi posisi?

Dalam politik, kita sering kecewa melihat perebutan kekuasaan yang mengorbankan persatuan. Namun sebelum menunjuk keluar, Injil mengajak kita melihat ke dalam. Sikap haus kuasa bisa tumbuh di mana saja: dalam keluarga, lingkungan kerja, komunitas doa, bahkan di hati kita sendiri.

Yesus menawarkan jalan berbeda: jalan salib. Jalan ini tidak populer. Jalan ini tidak menjanjikan tepuk tangan. Tetapi justru di sanalah terletak kemuliaan sejati. Kepemimpinan Kristiani bukan tentang mengendalikan orang lain, melainkan menguatkan, mendengarkan, dan berani berkorban.

Bila setiap pemimpin, entah di organisasi, Gereja, atau negara, menghayati prinsip ini, konflik tidak akan lenyap sepenuhnya, tetapi akan dikelola dengan semangat pelayanan, bukan ambisi. Perbedaan tidak lagi menjadi ancaman, melainkan kesempatan untuk saling melengkapi.

Hari ini, Yesus mengajak kita minum dari “cawan” yang sama dengan-Nya: cawan pengorbanan, kerendahan hati, dan kasih yang tulus. Mungkin kita tidak memimpin negara. Tetapi kita selalu memimpin sesuatu: keluarga, kelompok kecil, atau setidaknya diri kita sendiri.

Semoga kita memilih jalan yang benar: jalan pelayanan.

Doa : Allah Bapa yang penuh Kasih, Putera-Mu, Tuhan Yesus, datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Mu bagi kami. Ampunilah kami ketika hati kami lebih haus akan jabatan daripada pengorbanan, lebih mencari kehormatan daripada kerendahan hati. Bentuklah kami menjadi pemimpin yang melayani, yang rendah hati, dan berani berkorban demi kebaikan bersama. Semoga dalam setiap konflik, kami memilih jalan kasih dan bukan ambisi. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

M. Unggul Prabowo

Orang biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *