PERTOBATAN ADALAH KEMBALI PULANG
Oleh FA Adihendro
Renungan Harian Sabtu 7 Maret 2026
Bacaan Injil: Luk 15: 1-3.11-32
Isi Bacaan Injil hari ini sudah akrab di telinga kita. Ada yang memberi judul “Anak yang Hilang”, ada yang lebih sreg dengan judul “Bapa yang Baik Hati”, ada yang mengkaitkan dengan pertobatan karena perikopa ini diletakkan pada Masa Prapaskah. Ringkasan ceritanya menarik. Seorang Bapa mempunyai dua anak putra. Ia membagikan harta waris kepada anak-anaknya. Anaknya yang bungsu menjual seluruh harta warisnya, dan pergi ke kota, berfoya-foya dan hidup senang. Ketika terjadi bencana kelaparan, ia teringat akan rumah Bapanya, yang sejahtera. Maka ia kembali ke rumah Bapa. Tetapi anak sulung (kakaknya) sangat marah, karena anak bungsu yang telah menghabiskan harta warisnya disambut Bapanya dengan sambutan yang luar biasa penuh cinta.
Kisah perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus itu sebenarnya untuk menjawab orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut mengapa Yesus bergaul dengan para pendosa.
Marilah kita mengupas kisah perumpaan yang sangat menarik ini.
Pertama, Bapa itu memberikan harta warisan kepada kedua anaknya tanpa membeda-bedakan, tidak pilih kasih. Semua mendapat bagian yang sama. Ini menunjukkan kebijaksanaan dan kebaikan hati Bapa yang memberikan harta warisan yang sama tanpa memandang apakah si sulung lebih baik daripada si bungsu, atau sebaliknya. Bagaikan matahari yang menyinari bumi untuk semua orang, termasuk yang jahat. Atau hujan yang jatuh untuk orang baik dan jahat. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sering membeda-bedakan, pilih kasih terhadap anak-anak: anak yang pinter dan sempurna lebih disayang daripada anak yang nakal dan tidak menurut. Kita sering bersikap pilih kasih kepada tetangga, berbaik-baikan dengan tetangga yang sering menyapa daripada tetangga yang jutek, tidak pernah senyum.
Kedua, dalam menyikapi rahmat Tuhan –harta warisan– yang diberikan Tuhan, kita diberikan kebebasan untuk memanfaatkan. Anak sulung memilih menjaga dan merawat harta warisan, sedangkan si bungsu menjual semua harta warisannya untuk bisa hidup berfoya-foya di kota. Kita pun juga diberikan kebebasan untuk “menggunakan” harta warisan yang diberikan kepada kita: tubuh yang gagah, wajah yang ayu, karier yang cemerlang, kesehatan yang prima, kekayaan yang tidak terbatas. Pertanyaannya, bagaimana kita menggunakan “harta-harta warisan itu”?
Ketiga, anak yang bungsu setelah mendapat warisan, menjual harta warisan lalu meninggalkan rumah bapanya, Ia pergi menjauh dari bapanya untuk hidup berfoya-foya, mencari kesenangan pribadi, dan seakan-akan melupakan asal usulnya. Di sinilah mulai nampak pangkal segala dosa yakni menjauh dari kasih Allah, meninggalkan zona damai yang disediakan Allah. Hati-hati dengan sikap kita sendiri, apabila kita sudah melupakan asal-usul kedamaian dan kebahagiaan, dan mulai meninggalkan kasih Allah, dan lebih mengejar kesenangan pribadi, maka inilah pangkal segala dosa kita.
Keempat, ketika anakbungsu ini mengalami musibah kelaparan dan hidup menderita, ia mulai ingat akan bapanya. Tumbuh dalam hatinya untuk kembali ke rumah bapanya, di mana selalu ada kebahagian dan suka cita. Ini adalah sesal yang membuahkan pertobatan: ingin kembali pulang ke rumah bapanya. Apakah dalam masa Prapaskah ini terpecik keinginan kita untuk kembali pulang ke kebahagiaan Allah Bapa? Rupanya pertobatan adalah keinginan tak tertahankan untuk kembali pulang ke Rumah Bapa.
Kelima, Bapa menyambut dengan gembira penuh suka cita anaknya yang telah kembali pulang. Bapa itu bukan hanya baik hati, tetapi mempunyai hati yang sangat lapang, tanpa memperhitungkan kesalahan-kesalahan anaknya yang sungguh menyakitkan hati. Semua terhapus dalam kegembiraan, bagai hujan yang menghalau teriknya matahari. Demikianlah, Bapa yang di surga akan bersuka kita apabila pada masa prapaskah ini kita mau kembali pulang dalam pelukan kasih-Nya.
Doa: Bapa, Allah yang maha baik, tumbuhkanlah dalam hati kami rasa sesal yang sejati, agar kami didorong oleh Roh Kudus, melakukan tobat melalui sakramen rekonsiliasi, sehingga kami bisa kembali menikmati rasa damai dan suka cita, terlebih dalam mempersiapkan Hari Raya Paskah yang akan datang. Amin.

