AIR HIDUP: DAMBA KEABADIAN

AIR HIDUP: DAMBA KEABADIAN

Gen paling primitif ( versi Darwinian dan Freudian) adalah dorongan untuk melanjutkan kehidupan ( survival) dan berpengaruh pada keinginan untuk hidup selamanya, menolak penuaan dan kematian ( anti aging). Peradaban kuno seperti Mesir mengenal pengawetan jenazah ( mummi) agar nanti bisa hidup kembali, yang mati dibekali berbagai harta untuk menjalani hidup selanjutnya, demikian pula pada makam- makam Cina. Orang-orang kaya moderen ketika mati mayat disimpan dengan peralatan canggih agar tetap utuh dengan harapan suatu saat kalau teknologi kedokteran sudah mampu menemukan obat atau teknik tertentu bisa menyembuhkan penyakitnya dan hidup kembali. Intinya, manusia ingin hidup selamanya, abadi!
Dalam pewayangan Jawa, ada kisah Bima mencari Banyu Perwita Sari, Tirta Amerta,Air Kehidupan, menyelami dasar samudera untuk mendapatkannya dengan keyakinan kalau meminumnya membuatnya tidak bisa mati. Di sana Bima bertemu sosok kecil mirip dirinya, Dewa Ruci.
Dewa Ruci mengajarkan bahwa air hidup sejati bukanlah air fisik, melainkan pengetahuan tentang hakikat diri dan persatuan dengan Sang Ilahi. Makna Filosofis, kisah ini mengandung pesan spiritual:
Air hidup melambangkan pengetahuan sejati tentang diri dan Tuhan.
Perjalanan Bima melambangkan perjalanan manusia mencari kebenaran.
Pertemuan dengan Dewa Ruci menunjukkan bahwa kebenaran sejati ditemukan dalam kedalaman batin.
Karena itu, dalam pewayangan Jawa, air hidup tidak dipahami secara harfiah sebagai air yang membuat orang tidak mati, tetapi sebagai simbol kesadaran spiritual dan kesempurnaan hidup.
Menariknya, simbol “air hidup” juga muncul dalam tradisi Injil Yohanes ketika Yesus Kristus berbicara tentang air hidup kepada perempuan Samaria (Yohanes 4). Berbeda dari kaum Judaisme Farisi, yang mengembangkan konsep kebangkitan dan hidup kekal, orang Samaria hanya menekankan hukum Taurat Musa. Memang muncul pengharapan akan datangnya sosok semacam. Mesias, yang mereka sebut Taheb.
Dalam Injil Yohanes 4, Yesus berbicara kepada perempuan Samaria dan berkata:
“Barangsiapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.”
Walaupun memiliki kemiripan tentang Air Hidup versi Yohanes dan filsafat Kejawen ( Dewa Ruci), namun ada perbedaan yang substansial.
Menurut Kejawen, Air hidup adalah pengetahuan batin atau pencerahan. Sedangkan menurut Injil Yohanes ,Air hidup adalah rahmat Allah yang memberi hidup kekal. Menurut Kejawen, Kesempurnaan hidup dicapai melalui laku spiritual dan pencarian diri sementara menurut Yohanes Air Hidup diberikan oleh Yesus sebagai anugerah.
Tirta Amerta bersifat mistik-filosofis sedangkan Air Hidup dari Yedus bersifat relasional: hubungan dengan Allah
Tujuan Tirta Amerta adalah kesempurnaan batin sementara Tujuan Air Hidup Yesus adalah kehidupan kekal dengan Allah.
Semoga dengan bacaan Injil hari ini tentang Air Hidup, iman kita kepada Yesus semakin diteguhkan sebagaimana dialami orang- orang Samaria yang akhirnya dicerahkan walaupun awalnya kelihatan naif dan polos. Amin

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

2 thoughts on “AIR HIDUP: DAMBA KEABADIAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *