LAWAN KATA CINTA ADALAH KETIDAKTAATAN

LAWAN KATA CINTA ADALAH KETIDAKTAATAN

Renungan Harian, Selasa, 24 Maret 2026

Bacaan: Pertama Bil 21:4-9; Injil: Yoh 8:21-30

Saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

APA sebenarnya yang menjadi kehendak Allah  terhadap ciptaan-Nya, terutama manusia sebagai citra-Nya? Sebenarnya sangat sederhana namun tegas. Allah telah menyatakan Diri-Nya sebagai Sumber Cinta, bahkan Allah adalah Cinta (Deus est Caritas). Maka dengan Cinta-Nya, Allah menghendaki semua ciptaan-Nya adalah  “baik adanya”. Semua bisa hidup bahagia dalam Kerajaan-Nya (lih Kej 1-2).

Manusia diberikan angurah kebebasan, sebagai anak-anak Allah, bisa memilih hidup bahagia atau tidak, mau menjadi baik atau tidak, mau menaati aturan dari Allah atau tidak. Setan mengetahui anugerah ini, maka ia tergerak menggoda manusia. Manusia tergoda dan memilih tidak taat pada aturan dan perintah Tuhan, alias menolak cinta yang diberikan Tuhan kepadanya. Inilah dosa Adam dan Hawa, tidak menaati pertintah Allah untuk tidak memakan buah pengetahuan baik dan jahat. Dan inilah yang disebut dosa asal: manusia cenderung tidak menaati perintah Allah, dan menolak tawaran cinta Allah.

Jadi lawan kata dari cinta, bukan benci. Melainkan ketidaktaatan.

Ketika bangsa Israel dibawa Musa keluar dari situasi perbudakan di Mesir, menuju suatu situasi yang lebih baik dan membahagiakan, adalah suatu anugerah cinta Allah yang diberikan kepada bangsa terpilih ini (lih Bacaan Pertama Bil 21:4-9). Namun karena manusia cenderung  lebih menyukai ketidaktaatan, mereka tidak mempercayai Musa dan mulai memprotes Musa. Sehingga Allah akhirnya menghukumnya dengan mendatangkan ular-ular tedung dan mematuk banyak orang Israel hingga mati. Dengan “pukulan” ini bangsa Israel bertobat, dan mau berbalik menaati perintah-perintah Tuhan.

Ketika jaman Yesus hadir, bangsa Yahudi sudah mengenal hukum utama, yakni “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37 par), namun mereka hanya berhenti pada mengetahui hukum saja, tetapi tidak mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Nyatanya, ketika Allah hadir dalam wujud manusia Yesus, mereka menolak-Nya dan tidak mau mendengarkan dan menaati ajaran-ajaran Yesus. Padahal sosok Yesus adalah bukti nyata akan Cinta Allah kepada manusia, agar manusia yang sudah jauh terjerumus dalam dosa bisa diselamatkan. Mereka malah tidak (mau) mengenal Yesus, sehingga Yesus berkata, “Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu? Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu.Akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya itulah yang Kukatakan kepada dunia.” (Yoh 8:25-26).

Ketidaktaatan kepada perintah Allah tidak hanya terjadi pada jaman dahulu kala. Jaman sekarang pun masih berlangsung: tindak kekerasan, mengutak-atik anggaran sehingga korupsi menjadi tersamar,merasionalisikan tindak kecurangan sehingga terasa bukan dosa, tidak mempercayai adanya neraka, mempertanyakan eksistensi surga, tidak menghormati lagi Ekaristi, meragukan sakramen-sakramen (termasuk pengakuan dosa), dst. Apakah kita termasuk golongan ini?

Doa singkat: : Allah Bapa, yang Maha murah dan Maha Cinta, kami mohon ampun atas segala keteledoran kami, dan hanya menuruti keinginan pribadi kami, tanpa mendengarkan bisikan halus-Mu dalam sanubari kami. Semoga Engkau membangkitkan rasa sesal dan tobat kami, sehingga kami boleh kembali kepada-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan Jujungan kami. Amin.

FA Adihendro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *