Memaknai Madah 1 dan 2 Yohanes dari Salib dalam Semangat Misionaris J.B. Berthier (2)
Di tengah dunia yang kerap terasa sunyi dan terasing dari sentuhan Ilahi, jiwa manusia tak henti-hentinya merintihkan kerinduan akan Sang Pencipta. Rintihan mistik yang dilantunkan oleh Santo Yohanes dari Salib dalam Madah Rohani bukanlah sekadar pelarian eksklusif ke alam baka, melainkan sebuah panggilan keras untuk bertindak. Jika kita meneropong Madah 1 dan 2 melalui kacamata spiritualitas Vénérable Jean-Baptiste Berthier kidung cinta ini menjelma menjadi sebuah manifesto misionaris yang membumi, di mana pencarian akan Allah dan jeritan jiwa melebur dengan peluh keringat pengabdian di kehidupan sehari-hari.
Madah 1: Keberanian Keluar Menyongsong Sang Kekasih di Keseharian
“Di manakah Engkau bersembunyi, / Kekasih, dan meninggalkanku dalam rintihan? / Engkau lari bagaikan rusa, / setelah melukaiku; / aku keluar berlari mencari-Mu sambil berseru, namun Engkau telah pergi.”
Dalam Madah pertama ini, Santo Yohanes dari Salib melukiskan jiwa yang terluka oleh cinta, menyadari ketidakhadiran Allah secara nyata, lalu memutuskan untuk “keluar” melangkah mencari Sang Kekasih dan melepaskan segala kenyamanan dirinya. Pencarian ini didorong oleh cinta yang tak sabar, sebuah luka batin yang hanya bisa disembuhkan oleh kehadiran Allah.
Bagi Jean-Baptiste Berthier, teologi “keluar mencari Allah” ini tidak menuntut kita untuk mengurung diri di balik tembok biara (atau rumah tangga) yang ketat. Berthier justru mengajarkan bahwa kontemplasi yang diinfuskan adalah jalan yang “biasa” (ordinary) dan dapat diraih oleh setiap orang melalui kesetiaan pada tugas-tugas keseharian dan keadaan hidup mereka (devoir d’état).
Dalam semangat misionaris MSF, jeritan jiwa yang mencari Allah diwujudkan dengan berani “keluar” menuju realitas dunia yang terluka (misi kepada mereka yang jauh). Luka jiwa dalam madah Yohanes dari Salib bergema selaras dengan air mata Bunda Maria di La Salette yang ditangisi Berthier, sebuah duka atas dunia yang acuh tak acuh dan kehilangan arah.
Semangat misionaris menuntut kita untuk keluar merengkuh mereka yang “jauh”, membawa terang rekonsiliasi ke dalam keluarga-keluarga yang hancur, dan menjadikan kesibukan bekerja, mengasuh anak, serta dinamika rumah tangga sebagai “Nazaret” yang baru, sebuah ruang kontemplasi suci tempat kita akhirnya menemukan Sang Kekasih yang bersembunyi.
Madah 2: Para Gembala dan Panggilan Menjadi Mediator Cinta
“Hai para gembala, yang mendaki / bukit menuju kandang-kandang, / jika kebetulan kalian melihat / Dia yang paling kucintai, / katakan pada-Nya bahwa aku sakit, menderita, dan mati.”
Pada Madah kedua, jiwa menyadari keterbatasannya dan memanggil “para gembala” (pastores) untuk menjadi perantara. Santo Yohanes menjelaskan bahwa para gembala ini melambangkan afeksi, hasrat, dan juga para malaikat serta pelayan Tuhan yang membawa rintihan jiwa ke puncak bukit (ketinggian Allah). Jiwa meminta para gembala ini untuk menyampaikan penderitaan cintanya kepada Tuhan.

Jika dibaca melalui visi J.B. Berthier, “para gembala” ini adalah cerminan langsung dari panggilan para misionaris, imam, dan kaum awam di tengah dunia.
Berthier mendirikan MSF pada tahun 1895 secara khusus untuk merangkul “panggilan-panggilan terlambat”, pria-pria dari latar belakang sederhana atau usia lanjut yang rindu menjadi “gembala” namun ditolak oleh struktur tradisional.
Berthier membentuk mereka untuk mendaki “bukit kehidupan” dan menjadi jembatan antara umat manusia yang sakit (terasing secara spiritual) dan Allah.
Dalam konteks keluarga dewasa ini, semangat Madah ke-2 mengajak setiap orang tua, pendidik, dan pelayan pastoral untuk bertindak sebagai “gembala”. Kita diutus untuk membawa keluh kesah, penderitaan, dan jeritan anak-anak muda serta keluarga-keluarga modern ke hadapan Allah.
Kita juga dipanggil untuk membawa kasih Allah yang menyembuhkan turun dari bukit ke tengah-tengah padang gurun duniawi. Cinta mistik Yohanes dari Salib tidak berhenti pada kebahagiaan pribadi, melainkan meluap menjadi aksi sosial; sebuah kesadaran bahwa kita harus saling menjadi “utusan cinta” bagi sesama.
Penutup: Mistik Aksi di Ladang Dunia
Memadukan Madah Rohani dengan spiritualitas J.B. Berthier mengingatkan kita bahwa mistik tertinggi dan panggilan misionaris berakar pada satu hal yang sama: Cinta yang merindu dan bertindak. Kita tidak perlu menjadi rahib di puncak gunung yang sepi untuk mempraktikkan kontemplasi.
Pesan aktualnya bagi keluarga dan para pencari Tuhan dewasa ini sangatlah indah: Jadikanlah meja makanmu, rutinitas kerjamu, dan senyum lelahmu sepulang bekerja sebagai bait-bait puisimu sendiri untuk mencari Tuhan. Dan ketika engkau melihat sesamamu yang “sakit, menderita, dan mati” karena kehilangan harapan, jadilah “gembala” yang menuntun mereka menemukan kembali Sang Cinta di dalam hangatnya keluarga kudus Nazaret.

