Menembus Batas demi Sang Cinta: Memaknai Madah 3-5 dalam Jejak Kerendahan Hati Nazareth (3)
Di manakah Tuhan bersembunyi ketika dunia terasa bising dan penuh penderitaan? Santo Yohanes dari Salib menjawabnya dengan ajakan untuk tidak berdiam diri, melainkan “keluar” mencari-Nya secara aktif. Jika Madah 1 dan 2 dari Kidung Rohani merupakan jeritan kerinduan jiwa yang terluka, maka Madah 3, 4, dan 5 merupakan langkah nyata dari perziarahan tersebut. Ketika kita memadukan bait-bait mistik ini dengan spiritualitas Vénérable Jean-Baptiste Berthier, puisi ini menjelma menjadi sebuah peta jalan apostolik yang sangat aktual: sebuah panggilan untuk melintasi batas-batas duniawi dengan meneladani kerendahan hati Yesus, Maria, dan Yosef.
Madah 3: Meninggalkan Zona Nyaman dan Melintasi Perbatasan
“Mencari kekasihku, aku akan pergi ke gunung-gunung dan tepi-tepi sungai; aku takkan memetik bunga-bunga, takkan takut pada binatang buas, dan akan melewati benteng-benteng dan perbatasan.”
Pada Madah 3, jiwa menyadari bahwa untuk menemukan Allah, rintihan dan doa saja tidaklah cukup. Jiwa harus mengambil langkah aktif melalui latihan keutamaan dan mortifikasi, menolak untuk berhenti pada kenikmatan duniawi (tidak memetik bunga), serta memiliki keberanian untuk menaklukkan musuh-musuh rohani dan godaan daging (tidak takut pada binatang buas, dan melewati perbatasan).
Dalam kacamata Jean-Baptiste Berthier, Madah ke-3 ini adalah nyanyian panggilan seorang misionaris sejati. Berthier sendiri melintasi “perbatasan” yang sangat sulit pada zamannya ketika ia mendirikan Kongregasi MSF pada tahun 1895.
Ia mendobrak benteng penolakan institusional dengan merangkul “panggilan-panggilan terlambat” (pria-pria sederhana atau yang sudah berumur) yang sebelumnya tidak diterima di seminari tradisional untuk dijadikan imam dan misionaris.
Semangat Madah 3 ini mewujud nyata dalam tindakan para misionaris MSF yang berani meninggalkan kenyamanan (“bunga-bunga” duniawi) untuk pergi ke daerah-daerah misi yang terpencil dan paling diabaikan, membawa rekonsiliasi bagi keluarga-keluarga yang hancur. Ini adalah komitmen bahwa cinta kepada Allah harus diwujudkan dalam tindakan tanpa rasa takut melintasi segala perbatasan geografis maupun eksistensial manusia.

Madah 4 dan 5: Jejak Keindahan Sang Kekasih pada Ciptaan
“Oh hutan dan belukar, yang ditanam oleh tangan Kekasih! Oh padang rumput yang hijau, berhiaskan bunga-bunga! Katakan, apakah Ia telah melewati kalian?” (Madah 4)
“Menaburkan seribu rahmat, Ia melewati belukar ini dengan bergegas, dan, sambil memandang mereka, hanya dengan wajah-Nya, Ia meninggalkan mereka berbalut keindahan.” (Madah 5)
Setelah memurnikan diri, jiwa kini mampu memandang alam ciptaan untuk menemukan jejak Sang Pencipta,. Ciptaan (hutan, belukar, padang rumput) pun menjawab bahwa Allah telah melewati mereka dengan bergegas, dan melalui “wajah-Nya” (yakni Sabda yang Menjelma, Yesus Kristus), Allah mengangkat dan membalut seluruh alam semesta dengan keindahan dan martabat yang ilahi.
Dalam teologi J.B. Berthier, “wajah” Allah yang membalut dunia dengan keindahan itu menemukan tempat perhentiannya yang paling agung dan membumi di rumah Nazareth. Allah melewati sejarah manusia dengan menempatkan Diri-Nya dalam realitas sebuah keluarga biasa.
Berthier mengajarkan bahwa keindahan rahmat Allah tidak hanya ditemukan di atas altar, melainkan di dalam “padang rumput” kehidupan sehari-hari: dalam kasih sayang suami istri, dalam pendidikan anak, dan dalam pekerjaan tangan.
Para misionaris MSF diutus untuk menyingkapkan jejak keindahan ilahi (rahmat yang ditaburkan) yang sering kali tertutup oleh penderitaan, kemiskinan, dan krisis di dalam keluarga-keluarga masa kini.
Spiritualitas Nazareth: Belajar Kerendahan Hati dari Keluarga Kudus
Inti dari pencarian mistik Yohanes dari Salib dan visi misioner J.B. Berthier bertemu secara sempurna dalam spiritualitas Keluarga Kudus. Berthier merevolusi pemahaman kesucian pada abad ke-19 dengan menegaskan bahwa “kontemplasi yang diinfuskan” adalah sesuatu yang biasa dan bahwa kesucian dapat dicapai oleh setiap orang dari berbagai status kehidupan melalui pelaksanaan tugas-tugas sehari-hari.
Bagi Berthier, keluarga Nazareth (Yesus, Maria, Yosef) adalah sekolah utama untuk menggembleng jiwa. Di sana, kerendahan hati, ketaatan, dan keheningan menjadi napas hidup.
Sebagaimana jiwa dalam Kidung Rohani mengosongkan diri untuk bisa dipenuhi oleh Allah, kerendahan hati Maria yang menyimpan segala perkara di dalam hatinya, kesunyian Yosef yang taat dan bekerja keras, serta penyerahan diri Yesus yang tersembunyi di Nazareth, menjadi metode “Latihan Rohani” yang paling sejati.
Berthier mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kesempurnaan tertinggi tidak terletak pada hal-hal yang luar biasa, melainkan pada kehendak untuk menyatukan pekerjaan harian kita dengan kehendak Allah secara penuh cinta.
Kesimpulan: Nazareth sebagai Puncak Perjumpaan
Pesan aktual dari Madah 3-5 Yohanes dari Salib yang dibingkai dengan karisma J.B. Berthier memberikan tantangan segar bagi keluarga Kristen dan para misionaris hari ini: kita semua dipanggil untuk terus mencari Allah dengan keberanian melintasi batas kelemahan kita sendiri. Kita diutus untuk memandang sesama dan dunia sebagai ciptaan yang telah “dibalut keindahan” oleh inkarnasi Kristus.
Pada akhirnya, rumah kita, tempat kerja kita, dan komunitas kita dipanggil untuk menjadi “Nazareth-Nazareth” baru. Dengan meneladani kerendahan hati Yesus, Maria, dan Yosef, kita membuktikan bahwa cinta mistik yang paling luhur bukanlah pelarian dari dunia, melainkan keterlibatan yang mendalam untuk membawa kasih, kesembuhan, dan keselamatan ke tengah-tengah rutinitas hidup manusia.

