Apalah Artinya Sehelai Rambut?

Apalah Artinya Sehelai Rambut?

“Apalah Artinya Rambut”: Kisah lucu & reflektif pria 50 tahun yang memilih gondrong dan ubanan.

Berbicara mengenai rambut sebenarnya adalah hal yang lumayan menggelikan bagi saya. Belakangan ini, saya memutuskan untuk memelihara rambut hingga hampir menyentuh punggung. Jika ditanya apa maknanya, jujur saja, hampir tidak ada arti filosofis yang mendalam atau misi ideologis tertentu. Ya, sekadar ingin saja.

Selama dua dekade awal kehidupan, mulai dari masa sekolah hingga awal kuliah, rambut saya sebenarnya biasa saja. Teksturnya yang keriting membuat panjang rambut tidak terlalu kentara karena ia tumbuh melingkar, bukan jatuh menjuntai. Namun, sejak tahun 1997, saya mulai akrab dengan gaya cepak, pendek, bahkan botak plontos. Tiap bulan saya rutin ke tukang cukur. Rasanya praktis: hemat sampo, irit sisir, dan waktu mandi pun jadi jauh lebih singkat.

Panggilan Kebebasan di Usia Senja

Dua dekade berlalu dengan kepala yang hampir selalu rapi, tiba-tiba muncul keinginan untuk memanjangkan rambut kembali. Mungkin karena sekarang sudah tidak ada lagi sosok Bapak. Dulu, ketika beliau masih ada, melihat rambut saya sedikit berantakan saja beliau langsung bertanya, “Ra duwe dhuwit po? Kana nek arep cukur,” (Tidak punya uang ya? Sana kalau mau potong rambut), sambil menyodorkan beberapa lembar uang. Sekarang, tidak ada lagi “sensor” dari otoritas tertinggi di rumah itu.

Keputusan memanjangkan rambut ini sama sekali bukan bentuk afirmasi diri yang terlambat atau pemenuhan ego masa muda yang belum kesampaian. Saya hanya merasa ingin bebas berekspresi. Namun, ternyata menjadi gondrong itu ada harganya. Saya baru sadar bahwa mengurus rambut panjang itu cukup merepotkan. Ritual menyisir kini memerlukan waktu lama. Penggunaan sampo jadi jauh lebih boros, dan durasi mandi pun otomatis bertambah. Bahkan, jika saya malas menyisir beberapa hari saja, rambut akan mulai menggumpal dan menjadi gimbal kecil di beberapa bagian.

Label yang Menempel: Dari Seniman Hingga “Preman”

Rambut panjang ini membawa banyak kisah lucu yang mewarnai keseharian saya, sekaligus menunjukkan betapa subjektifnya penilaian manusia. Istri dari seorang rekan kuliah, misalnya, berkomentar dengan nada maklum, “Namanya juga seniman, wajar kalau gondrong…” Ia berkata begitu karena tahu aktivitas saya adalah menulis. Di matanya, rambut panjang adalah bagian dari estetika dunia kreatif.

Namun, pandangan berbeda muncul dari sudut pandang yang lebih “kaku”. Pernah suatu kali, seorang dosen dari sebuah perguruan tinggi keamanan memberikan komentar yang cukup menohok. Melihat rambut saya yang menjuntai liar, ia berujar bahwa gaya seperti ini terlihat “gondrong seperti preman”.

Menarik melihat bagaimana sehelai rambut bisa memicu dua label yang bertolak belakang: Seniman atau Preman. Ternyata, pandangan orang itu memang sangat bergantung pada siapa mereka, di lingkungan apa mereka bergaul, dan seberapa akrab mereka dengan kita. Bagi yang paham dunia literasi, saya dianggap nyentrik; bagi yang terbiasa dengan disiplin ketat keamanan, saya dianggap ancaman ketertiban. Semuanya hanyalah soal perspektif.

Antara Ondel-ondel dan Reaksi Teman Lama

Momen yang paling menggelikan terjadi saat rambut saya belum terlalu panjang dan masih dibantu dengan pomade serta sirkam agar tetap rapi. Saat itu, ada seorang anak kecil yang sedang digendong ayahnya. Si anak tiba-tiba menunjuk saya dan berkata polos, “Omnya kayak ondel-ondel!” Si Bapak tampak panik dan segera mendekap anaknya sambil bergegas pergi. Saya? Alih-alih melotot, saya malah tersenyum lebar melihat kejujuran bocah itu.

Kisah lain datang saat saya bertemu dengan kawan-kawan lama masa SMA. Setelah dua puluh tahun tak bersua, pemandangan yang tersaji sungguh kontras. Teman-teman saya rata-rata mulai kehilangan rambut alias botak total, sementara saya justru tampil dengan rambut yang makin panjang, meski warnanya sudah memutih penuh oleh uban. Jadilah kami bahan candaan: yang lain kehilangan mahkota karena usia, saya justru sibuk merawatnya sebagai kompensasi masa muda yang terlalu rapi.

Drama di Lingkungan Gereja

Namun, tidak semua tanggapan berakhir dengan tawa. Ada pula sisi yang sedikit “tragis” saat saya menjadi pelayan Misa. Di lingkungan tersebut, ada empat orang yang kebetulan berambut gondrong: koordinator umum, koordinator wilayah, dan dua anggota biasa termasuk saya. Suatu ketika, seorang ibu menegur salah satu anggota karena rambutnya yang panjang dianggap kurang pantas untuk pelayan altar.

Mendengar teguran itu, kedua koordinator tadi merasa sungkan dan akhirnya memutuskan untuk potong rambut. Lucunya, si ibu tetap melempar komentar aneh tentang saya kepada orang lain, “Oh, yang itu tidak mau potong rambut ya?” Padahal, secara langsung tidak ada satu pun instruksi resmi atau teguran yang dialamatkan kepada saya untuk memangkas rambut. Setiap kali berpapasan, ibu itu hanya melempar senyum dan sapaan normatif, meskipun di belakang ia masih menyimpan tanda tanya besar.

Masalah rambut ini bahkan sampai dibawa-bawa dalam sesi pembekalan bersama Uskup Emeritus. Pertanyaan mengenai pantas tidaknya pelayan altar berambut panjang pun mengemuka. Jawaban Monsignur saat itu sangat bijak dan normatif, “Itu keputusan Romo Paroki, Bu.” Ketika saya bertemu Romo Paroki sendiri, beliau justru tidak mempermasalahkan panjang rambut saya. Beliau hanya mengomentari uban saya sambil berkelakar, “Lhah kok ngoyak aku ngunu,” (Lha kok warnanya ngejar uban saya begitu), merujuk pada warna rambut kami yang sama-sama memutih.

Merayakan Uban dan Anugerah Tuhan

Baru-baru ini, seorang tetangga muda juga terkejut saat mengetahui usia saya sudah menginjak setengah abad. Melihat rambut ubanan yang panjang, ia berkomentar, “Pas kok, Mas. Tidak kelihatan usianya. Coba kalau rambutnya dicat hitam, pasti kelihatan muda banget.”

Saya memang tidak pernah berniat mewarnai rambut. Logika saya sederhana: uban itu tanda rambut yang sudah mulai rapuh, mengapa harus dirusak lagi dengan bahan kimia? Menerima uban ternyata tidak sesulit yang dibayangkan orang. Dulu, saat rambut saya masih cepak dan sering ke salon, penata rambut hampir selalu menawari saya cat hitam.

Saya biasanya menjawab dengan pertanyaan balik, “Mbak, mahalan semir putih atau hitam?” “Ya mahal semir putih lah, Mas,” jawabnya bingung. “Ya sudah, ini sudah disemirkan Tuhan warna putih yang mahal, masa mau saya ganti dengan warna hitam yang murah?”

Penata rambut itu biasanya hanya bisa tersenyum kecut karena gagal mendapatkan uang tambahan. Namun bagi saya, itu adalah prinsip. Menerima anugerah Tuhan—apapun bentuknya—adalah kunci ketenangan hidup. Kadang memang berat jika apa yang diberikan tidak sesuai dengan keinginan atau standar sosial, tapi saya sudah terbiasa dengan rambut putih sejak usia 20-an.

Pada akhirnya, rambut hanyalah rambut. Memilikinya dalam keadaan panjang, pendek, hitam, atau putih hanyalah soal cara kita merayakan hidup dan kebebasan berekspresi. Kesadaran untuk menerima diri sendiri menjadi sangat penting. Semuanya baik adanya.

Jika suatu hari nanti rambut ini rontok dan saya harus kembali botak, saya tidak akan menyesal. Setidaknya saya pernah merasakan pengalaman menjadi “seniman”, “preman”, hingga “ondel-ondel” dalam satu rupa yang sama. Hidup jadi jauh lebih ringan saat kita berhenti mencoba memenuhi ekspektasi orang lain dan mulai mensyukuri apa yang tumbuh di kepala kita sendiri. Sesederhana itu.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

2 thoughts on “Apalah Artinya Sehelai Rambut?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *