Mentalitas Remah-remah
Oleh Susy Haryawan
Renungan hari Kamis, 12 Februari 2026
Bacaan Injil Markus 7:24-30
Saudara terkaih, pernah nggak sih Anda merasa kayak nggak layak buat minta sesuatu sama Tuhan? Atau mungkin merasa doa kog nggak dijawab-jawab sampai pengen nyerah aja?
Bacaan hari ini, dari Markus 7, kita ketemu sama seorang ibu dari Siro-Fenisia. Dia bukan orang “dalam” (bukan bangsa Yahudi), tapi dia punya nyali buat nyamperin Yesus demi anaknya yang lagi sakit parah.
1. Ujian “Gengsi”
Waktu Yesus bilang soal “ngasih roti ke anjing,” kedengarannya kasar banget ya di telinga kita sekarang? Tapi sebenarnya Yesus lagi ngetes fokus ibu ini. Banyak dari kita kalau digituin mungkin langsung baper, tersinggung, terus cabut sambil bilang, “Ya udah kalau nggak mau bantu!” Tapi ibu ini beda. Dia nggak pakai gengsi. Dia nggak butuh validasi atau pujian, dia cuma butuh kesembuhan anaknya.
Anjing dalam bacaan ini hewan peliharaan, bukan anjing liar, Tuhan tidak sedang bicara sarkas, namun mau tahu, skala prioritas Ibu tersebut. Bagaimana kata-kata yang tidak enak itu, apakah menyurutkan langkahnya.
2. Iman yang Cerdik
Saudara terkasih, jawaban ibu ini luar biasa: “Bener, Tuhan. Tapi anjing di bawah meja pun makan remah-remahnya.” Dia seolah bilang: “Tuhan, aku tahu aku nggak layak. Aku nggak minta seluruh rotinya kok, kasih remah-remahnya aja udah cukup buat bikin hidupku berubah.”
Ibu ini sadar kalau remah-remah dari Tuhan itu jauh lebih berkuasa daripada seluruh pesta dunia. Dia nggak maksa dapet posisi utama, dia cuma percaya kalau sedikit saja kuasa Yesus itu sudah lebih dari cukup.
Hal ini berkaitan dengan konsep umat terpilih kala itu. Merasa bukan orang Yahudi, ia cukup tahu diri. Remah-remah saja cukup baginya dan anaknya yang perlu kesembuhan.
3. Hasilnya?
Saudara terkasih, Yesus kagum atas cara dan iman Ibu ini. Bukan cuma karena dia pintar jawab, tapi karena imannya yang nggak goyah oleh situasi. Di ayat 29, Yesus bilang: “Karena kata-katamu itu, pergilah… setan itu sudah keluar.” Anaknya sembuh tanpa Yesus harus datang ke rumahnya.
Iman dan keyakinannya kepada Tuhan yang tidak berubah, membuat mukjizat itu terjadi. Pelajaran lain yang kita petik juga adalah, kuasa Yesus begitu besar. Penyembuhan tanpa kehadiran-Nya secara langsung, tidak ada sentuhan fisik, namun IA bisa memberikan kesembuhan itu. Iman ibunya, bukan si anak, belas kasih Tuhan tidak terbatas sebagaimana pemahaman manusiawi.
Pelajaran buat kita hari ini:
Saudara terkasih, seringkali kita berhenti berdoa karena kita ngerasa nggak dijawab dengan cara yang kita mau. Atau kita merasa terlalu berdosa buat datang ke Tuhan. Konsep manusia yang diterakan dalam konsep kasih Allah yang tidak terbatas. Kasih-Nya tidak terbatas atau bersyarat sebagaimana pola kita dalam berbuat baik.
Belajar dari ibu ini, datang aja apa adanya. Jangan bawa gengsi di hadapan Tuhan. Kalau kamu merasa cuma layak dapet “remah-remah,” ingatlah bahwa satu tetes kasih karunia Tuhan itu sudah cukup buat nyelesein masalah paling besar dalam hidupmu.
Kasih Allah tidak terbatas ruang dan waktu. Yakinlah, bahwa IA bisa membuat apapun terjadi, sering keterbatasan kita yang diterakan dalam konsep kebaikan Tuhan. Padahal tidak demikian.
Doa : “Tuhan, ajar aku punya iman yang gigih kayak ibudari Siro Fenesia,agar kami tidak gampang menyerah dan selalu percaya kalau kuasa-Mu, sekecil apa pun itu dalam pandanganku, sanggup memulihkan hidupku. Amin.”
Salam JMJ

