Yang Menajiskan Adalah yang dari Dalam

Yang Menajiskan Adalah yang dari Dalam

Oleh: D. Nursih Martadi

Bacaan dan Renungan Hari Rabu 11 Februari 2026, Pekan Biasa ke-V, St. Perawan Maria Lourdes, Hari Orang Sakit Sedunia (Hijau)

Pengantar:

Saudara saudara terkasih dalam Kristus, pada hari ini Gereja mengajak kita untuk  memperingati  Santa Perawan Maria dari Lourdes, dan Hari Orang Sakit Sedunia.

Santa Perawan Maria dari Lourdes

Merupakan perayaan peristiwa Bunda Maria menampakkan diri kepada Bernadetha Soubirous di gua Misabielle, Lourdes, Perancis pada tanggal 11 Februari 1858. Perayaan ini semoga mempertebal iman kepercayaan dan menyemangati kita untuk ikut di dalam karya penyelamatan Kristus. Untuk itu mari kita menyegarkan ingatan kisah peristiwa iman itu.

Bernadetha Soubirous adalah seorang gadis desa yang sederhana, miskin dan buta huruf. Ketika  sedang menggembalakan domba-dombanya, tiba-tiba ia melihat seorang wanita cantik berdiri di mulut gua itu. Wanita itu tersenyum manis dan sangat ramah kepadanya. Dalam keheranan dan ketakutannya, Bernadetha merasakan kegembiraan yang mendalam. Tak lama kemudian wanita itu menghilang dari pandangannya. Bernadetha pulang ke rumah dengan gembira bercampur rasa takut.

Pada tanggal 25 Februari, wanita cantik itu menampakkan diri lagi kepada Bernadetha. Kali ini wanita itu menyuruhnya minum dan mencuci mukanya. Tetapi darimana ia mendapatkan air untuk minum dan mencuci mukanya? Ia tidak membawa air dari rumah. Sumber-sumber air tak ada di bukit yang kering dan berbatu-batu itu. Lalu wanita itu menyuruhnya menggali tanah di depan gua. Bernadetha mengikuti suruhan wanita tak dikenal itu. Belum seberapa dalam lubang galian itu, mengalir air. Dengan air itu Bernadetha minum dan membasuh mukanya. Tak lama kemudian wanita itu menghilang dari pandangannya.

Pada tanggal 25 Maret, Bernadetha kembali ke gua Masabielle. Ia menyaksikan lagi penampakan wanita cantik itu. Kali ini Bernadetha memberanikan diri untuk menanyakan nama wanita cantik itu. “Siapakah Engkau?”, tanya Bernadetha. Jawab wanita itu,” Akulah yang dikandung tanpa noda dosa asal”. Bunda Maria menampakkan diri kepada Bernadetha sebanyak 18 kali. Bunda Maria berpesan agar semua orang Kristen berdoa untuk orang-orang berdosa agar mereka bertobat dari cara hidupnya yang sesat. Bunda Maria meminta agar di tempat itu didirikan sebuah biara dan diadakan ziarah.

Atas perintah Uskup Lourdes, kejadian ini diselidiki dengan seksama. Akhirnya pada tahun 1862 peristiwa penampakan dinyatakan benar dan sah. Pada tahun 1864 sebuah patung Maria ditempatkan di gua itu, dan pada tahun 1876 dibangunkan gereja yang megah. Setiap tahun lebih dari satu juta orang berziarah ke Lourdes. Banyak orang sakit yang berziarah menjadi sembuh secara ajaib. Demikian pun setiap peziarah yang mengunjungi Lourdes merasakan kedamaian jiwa dan kebahagiaan batin. Sebuah biro penyelidikan didirikan untuk meneliti penyembuhan-penyembuhan yang terjadi atas orang-orang sakit yang berkunjung ke sana. Semoga hari raya penampakan Bunda Maria di Lourdes ini mendorong kita untuk menghormati Bunda Maria dengan tulus sebagai Bunda yang selalu menghendaki keselamatan kita.

HARI ORANG SAKIT SEDUNIA

Vatikan melalui Press Office resmi mengumumkan tema Hari Orang Sakit Sedunia ke-34 yang diperingati pada 11 Februari 2026.

Tema yang dipilih Paus Leo XIV adalah “The compassion of the Samaritan: loving by bearing the pain of the other” atau “Belas kasih orang Samaria: mengasihi dengan menanggung penderitaan sesama”.

Tema ini terinspirasi dari kisah Injil tentang orang Samaria yang baik hati, yang menolong seorang korban perampokan dengan penuh kasih dan kepedulian.

Melalui kisah itu, Gereja menekankan bahwa kasih sejati tidak berhenti pada kata-kata, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata, ikut merasakan penderitaan orang lain, terutama mereka yang sakit, miskin, terasing, atau kesepian.

Dalam penjelasannya, Dikasteri untuk Promosi Pembangunan Manusia Seutuhnya menegaskan bahwa Hari Orang Sakit Sedunia, pertama kali ditetapkan oleh Santo Yohanes Paulus II pada tahun 1992, merupakan saat istimewa bagi Gereja dan masyarakat untuk berdoa, merenung, dan menunjukkan kedekatan rohani kepada saudara-saudari yang sakit dan rentan.

“Seperti orang Samaria yang membungkuk untuk merawat orang yang terluka di jalan, demikian pula komunitas Kristiani dipanggil untuk berhenti, mendekat, dan melayani mereka yang menderita, menjadi saksi Injili dalam pelayanan kasih,” tulis Dikasteri tersebut.

Bacaan:

Bacaan I – 1Raj. 10:1-10

Ketika ratu negeri Syeba mendengar kabar tentang Salomo, berhubung dengan nama TUHAN, maka datanglah ia hendak mengujinya dengan teka-teki.

Ia datang ke Yerusalem dengan pasukan pengiring yang sangat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal. Setelah ia sampai kepada Salomo, dikatakannyalah segala yang ada dalam hatinya kepadanya.

Dan Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu.

Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya,

makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, minumannya dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah ratu itu.

Dan ia berkata kepada raja: “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh setengahnyapun belum diberitahukan kepadaku; dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar.

Berbahagialah para isterimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu!

Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran.”

Lalu diberikannyalah kepada raja seratus dua puluh talenta emas, dan sangat banyak rempah-rempah dan batu permata yang mahal-mahal; tidak pernah datang lagi begitu banyak rempah-rempah seperti yang diberikan ratu negeri Syeba kepada raja Salomo itu.

Bacaan Injil – Mrk. 7:14-23

Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” (Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!)

Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.

Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Renungan:

Tuhan Yesus menegaskan bahwa yang membuat manusia najis bukan apa yang masuk ke dalam tubuh, melainkan apa yang keluar dari hati. Ia berkata, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskan dia.” Pesan yang hendak disampaikan adalah bahwa dosa bukan berasal dari makanan atau hal lahiriah, tetapi dari pikiran, perkataan, dan tindakan atau perbuatan yang lahir dari hati yang tidak murni.

Tuhan Yesus menyebutkan hal-hal yang keluar dari hati manusia: niat jahat, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, penipuan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebebalan. Hal-hal ini menunjukkan bahwa akar persoalan ada di dalam hati manusia. Maka, yang perlu dibersihkan bukan sekadar tubuh atau ritual lahiriah, melainkan hati yang adalah pusat kehidupan.

Renungan hari ini mengingatkan kita bahwa iman sejati menuntut pembaruan hati. Kita dapat dan sah-sah saja rajin beribadah, mengikuti tradisi, dan melakukan ritual, namun bila hati ini /penuh kebencian, iri, atau kesombongan, maka hidup tetap jauh dari Allah. Sebaliknya, hati yang murni akan memancarkan kasih, kejujuran, dan kebaikan dalam setiap tindakan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajak untuk memeriksa isi hati, mawas diri. Apakah kata-kata kita membangun atau justru melukai? Apakah tindakan kita mencerminkan kasih atau egoisme? Tuhan Yesus mengingatkan bahwa kebersihan hati lebih penting daripada sekadar kebersihan lahiriah.

Oleh karena itu, mari kita memohon agar Roh Kudus selalu membersihkan hati, agar yang keluar dari perilaku hidup adalah kasih, pengampunan, dan kebaikan. Dengan hati yang murni, kita dapat menjadi saksi nyata akan kasih Allah di tengah dunia.

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau yang mengenal isi hati kami, bersihkan segala niat jahat, iri hati, dan kesombongan dari dalam diri kami. Jadikan hati kami murni, sehingga setiap kata dan tindakan kami memancarkan kasih-Mu. Ajar kami untuk tidak hanya menjaga penampilan luar, tetapi memperbarui hati agar selaras dengan kehendak-Mu. Semoga hidup kami menjadi kesaksian akan kebaikan dan belas kasih-Mu, sehingga banyak orang merasakan kehadiran-Mu melalui kami. Amin.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *