IBADAH SEJATI TIDAK MENIADAKAN KEWAJIBAN DAN TANGGUNGJAWAB, TETAPI MENYEMPURNAKANNYA

IBADAH SEJATI TIDAK MENIADAKAN KEWAJIBAN DAN TANGGUNGJAWAB, TETAPI MENYEMPURNAKANNYA

Oleh Ansgarius Hari 45 Wijaya

Renungan, Selasa10 Februari 2026
Bacaan Injil Markus 7: 1-13

Saudara sekalian,

Bacaan Injil hari ini mengisahkan teguran Yesus kepada orang-orang Farisi dan Ahli Taurat yang datang dari Yerusalem dan mengadukan para murid kepada Yesus karena murid-murid Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan. Tanggapan Yesus kepada mereka sangat menohok, karena ada 2 hal yang mereka putar balikkan.


Pertama memelihara adat-istiadat sebagai sesuatu yang utama melebihi yang esensial dalam hidup, dan yang kedua memanfaatkan ibadat seolah-olah sebagai perintah Allah yang harus diutamakan tetapi melupakan kewajiban dan tanggung jawab merawat orangtuanya. Dalam hal ke dua mereka berlindung pada perintah Allah. Sebagai tempat menyembuyikan diri dari kewajiban yang harus dikerjakan. Menjadikan perintah Allah sebagai kedok pembenaran saja.
Mengapa para murid tidak mencuci tangan lebih dahulu sebelum makan? Karena mereka sedang fokus membersihkan hati sehingga lupa membersihkan tangan. Lagi pula yang membuat najis bukan tangan yang kotor tetapi niat yang kotor. Tangan yang kotor hanyalah kurban yang menjadi
tertuduh. Mereka sedang mengikuti Yesus bukan mengikuti orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka sudah sangat lapar, mereka tidak sedang menghadapi ujian kebersihan. Lagi pula hand sanitizer belum diperkenalkan pada waktu itu dan belum ada wastafel untuk memudahkan mencuci tangan.


Orang Farisi dan Ahli Taurat sebenarnya merasa kesulitan untuk mengoreksi hati karena lebih rumit dan tidak tampak. Maka mereka memperhatikan hanya yang tampak saja. Tangan yang belum dicuci.
Yesus mengetahui persoalan itu sehingga jawabannya sangat tepat. Karena Yesus memberikan penegasan untuk beberapa hal: bahwa ketaatan kepada Allah tidak boleh bertentangan dengan kasih dan tanggung jawab. Yesus melihat bahwa mereka menjalankan aturan adat-istiadat untuk menghindari kewajiban, mempertahankan harta sendiri, tetap berharap mereka terlihat saleh di mata orang lain. Yesus menegaskan bahwa ibadah sejati selalu menghasilkan kasih, tanggung jawab, dan keadilan, bukan sekadar aturan agama yang menguntungkan diri sendiri.


Yesus menjawab seperti itu bukan untuk menolak persembahan kepada Allah, tetapi untuk meluruskan kesalahan besar: ketika agama dipakai untuk membenarkan ketidaktaatan pada kewajiban – tanggung jawab dan kurangnya kasih.

Doa: Tuhan bantulah kami untuk fokus kepada kebenaran dan kejujuran dengan hati yang tulus. Jadikan hidup kami berdampak baik bagi orang lain.

Jakarta, 9 Februari 2026

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *