MINGGU PALMA DARI PERSPEKTIF POLITIK
Seorang politisi yang mengincar kursi presiden tentu tidak diam saja, tahun- tahun sebelum Pemilu ia akan berjuang keras membangun citra yang baik di mata rakyat. Ia intensif membuat konten- konten yang berupa perbuatan baik kepada rakyat lalu diviralkan, menyebar buzzer untuk memberitakan hal baik tentang dirinya dan membela jika ada yang menyerangnya. Tak mustahil juga berupaya menyingkirkan pesaing yang potensial. Muaranya ia akan dipilih rakyat yang mendambakan pemimpin yang ideal. Yesus pun selama 3 tahun berkarya mewartakan kabar gembira di tengah rakyat dari desa ke desa dari kota ke kota: menyembuhkan yang sakit, memberi makan, membela yang lemah. TujuanYesus membangun citra bahwa Dia Mesias, Anak Allah sebagaimana dinubuatkan para nabi. Boleh dikatakan Yesus berhasil memikat hati rakyat yang memang dalam kondisi tertindas. Yesus menjadi sosok pemimpin yang berbeda 180° dari para pemimpin yang ada yang tidak memikirkan kepentingan rakyat. Minggu Palma ketika Yesus memasuki Yerusalem naik unta dielu- elukan ribuan orang dengan sorak sorai Hosana. Mereka bersuka karena harapannya akan Raja Israel yang adil dan bijak, yang akan mampu mengubah nasib mereka segera terwujud. Kondisi ini yang membuat penguasa Israel gundah dan merasa kursinya terancam. Mereka pun merencanakan menjegal jalan Yesus menuju puncak kekuasaan. Andai Yesus menggunakan modal sosial ketenarannya di mata rakyat lalu menerima desakan untuk menjadi raja, besar kemungkinan akan berhasil. Risiko, akan terjadi pertumpahan darah antara pengikut Yesus dan para penguasa Yahudi. Tentu penguasa Romawi tidak ingin terjadi kekacauan. Kata-kata Imam Agung Kayafas menegaskan kondisi kegentingan politik ini, ” Biarlah kita korbankan satu orang demi kebaikan bangsa” padahal Pilatus dengan tegas menyatakan” Aku tidak menemukan kejahatan apa pun pada orang ini”.
Namun ternyata Yesus tidak sedang mengejar tahta, justru menjalani takdir ilahi, menyerahkan diri untuk disalib sebagaimana digambarkan liturgi Minggu Palma, setelah umat berarak meriah sambil melambaikan daun palma dan berseru ” Hosana”, begitu memasuki gereja justru kita akan mendengarkan Passio, Kisah Sengsara Yesus.
Mesias bukan raja duniawi yang menggenggam kuasa, Ia manusia tak berdaya yang teraniaya. Dengan cara itu Ia masuk ke dalam penderitaan manusia, merasakannya, bahkan mengalami puncak penderitaan, kematian. Hosana itu sementara… disusul teriakan lebih keras Salibkan Dia!

