Yudas Iskariot, Rasul Yang “Mata Duitan”

Yudas Iskariot, Rasul Yang “Mata Duitan”

Oleh Andre Sumariyatmo

Renungan Tgl 30 Maret 2026
Injil Yohanes 12 : 1 -8

“Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus :”Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku” (ayat 6 -7).

Ibu bapak dan saudara-saudari terkasih dalam Kristus.

Bicara tentang uang rupanya sangat menggoda terhadap siapapun entah dia seorang romo, suster, bruder atau awam. Uang memang selalu menarik untuk dilirik kalau ada peluang yang menguntungkan bagi kantong pribadi. Pengalaman di komunitas katolik sudah membuktikan bahwa sungguh terjadi pencurian atau korupsi atas keuangan milik keuskupan, paroki atau yayasan tarekat. Kerugiannya bisa mencapai puluhan Milyard. Pertanyaannya mengapa bisa terjadi? Apakah iman katolik tidak menjamin lagi untuk menjadi pribadi yang tahan godaan dan menolak mencuri uang atau korupsi?

Injil Yohanes kali ini begitu gamblang menceritakan karakter pribadi Yudas Iskariot yang ternyata mata duitan atau materialistis. Keluarga Maria, Marta dan Lazarus mengadakan perjamuan/syukuran untuk Tuhan. Marta begitu sibuk mempersiapkan perjamuan tersebut. Lazarus ikut makan bersama dalam perjamuan tersebut. Sementara Maria mengungkapkan cinta dan rasa sukacita dengan meminyaki kaki Yesus menggunakan minyak narwastu yang mahal harganya dan menyekanya dengan rambutnya. Bagi Maria inilah cara dia menghormati dan mengungkapkan cintanya yang mendalam kepada Yesus. Cinta lebih bernilai daripada uang atau harta.

Ungkapan sukacita dan cinta kepada Tuhan bisa kita wujudkan dengan iman kepercayaan dan kesetiaan pada ajaran Tuhan. Bagaimana sikap dan penilaian Yudas Iskariot atas tindakan Maria ini? Di sinilah kita bisa belajar dari tindakan Yudas yang hanya menilai dari sudut pandang uang atau materi. Dia merasa sayang (“eman-eman”) minyak narwastu yang mahal hanya dipakai untuk meminyaki kaki Yesus. Dia berpikir kalau dijual akan mendapatkan banyak uang untuk mengisi kas dan bisa membantu orang-orang miskin. Dia tidak jujur. Dia tidak berpikr untuk membantu orang miskin. Ternyata terungkap bahwa Yudas sering mencuri dan mengambil uang kas. Karakter materialistis inilah yang juga mendorong dia tega dan nekad “menjual” Yesus kepada para imam dan kaum Parisi untuk mendapat imbalan (“fee”) banyak uang dan kepingan emas. Yudas memang bendahara yang korup.

Tuhan Yesus prihatin dan tidak setuju atas usulan Yudas supaya minyak narwastu dijual. Tuhan tetap menerima dan membiarkan Maria meminyaki kaki-Nya dengan minyak narwastu. Bagi Tuhan apa yang dibuat Maria ini sungguh menghibur dan mengingatkan semakin dekat datangnya kesengsaraan dan kematianNya.

Marilah ibu bapak dan saudara-saudari terkasih, kita meneladani Marta dan Maria untuk berbuat aksi nyata sebagai wujud menghormati dan mencintai Tuhan Yesus. Semoga Paskah menjadi penanda bahwa kita berupaya untuk tetap setia pada kehendak Tuhan dan mau hidup lebih baik serta jujur meskipun ada godaan mencuri atau korupsi. Amin. Tuhan memberkati.

Doa : Tuhan Yesus Kristus, sering kali kami punya niat mau hidup jujur dan menolak mencuri atau korupsi. Kami mengakui bahwa kami lemah dan niat tersebut tidak kami lakukan dengan sungguh-sungguh karena kami masih egois, tidak mau hidup apa adanya, mudah tergoda mengambil uang atau mencuri. Semoga berkat bimbingan Roh Kudus kami berani hidup jujur dan menolak godaan untuk menumpuk kekayaan dan harta karena korupsi. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *