DIAMBANG SUNYI( Renungan tentang Kematian)

DIAMBANG SUNYI( Renungan tentang Kematian)

Jumat Agung adalah peristiwa bagsimana Yesus menjemput dan memeluk kematian dengan tegar dan iklas sebagai bagian dari panggilan hidup-Nya.
Ada saatnya manusia berhenti berlari.
Bukan karena tujuan telah tercapai,
melainkan karena ia sadar:
segala yang dikejar akan ditinggalkan.
Kematian tidak pernah benar-benar jauh.
Ia diam, setia menunggu di ujung waktu,
tanpa tergesa, tanpa ancaman,
namun pasti.
Bagi Jean-Paul Sartre, kematian adalah penutup sunyi—
tirai terakhir yang tidak menyisakan apa-apa.
Dan justru karena itu, hidup ini menjadi genting:
setiap detik adalah kesempatan terakhir
untuk menjadi diri sendiri.
Namun di sisi lain, Søren Kierkegaard berbisik lembut:
bahwa kematian bukan kehampaan,
melainkan panggilan pulang—
sebuah lompatan iman menuju Pribadi yang menanti.
Di antara dua suara itu,
manusia berdiri:
rapuh, gelisah, dan mencari.
Sering kita takut pada kematian,
bukan karena kita tahu apa itu,
tetapi karena kita belum sungguh hidup.
Kita menunda kasih,
menyimpan maaf,
dan menangguhkan kebaikan—
seolah waktu adalah milik kita.
Padahal waktu adalah anugerah yang mengalir,
bukan sesuatu yang bisa digenggam.
Augustinus pernah mengakui,
bahwa hati manusia gelisah
sampai beristirahat dalam Tuhan.
Maka mungkin,
kematian bukanlah musuh,
melainkan cermin—
yang memperlihatkan apakah kita sudah pulang
bahkan sebelum kita benar-benar pulang.
Kematian mengajar kita diam.
Dalam diam, kita belajar mendengar:
detak hidup yang sederhana,
suara hati yang lama diabaikan,
dan bisikan kasih yang memanggil tanpa henti.
Jika suatu hari kematian mengetuk,
ia tidak akan bertanya:
berapa banyak yang kau miliki,
atau sejauh mana engkau dipuji.
Ia hanya akan menyentuh pelan dan berkata:
“Sudahkah engkau mencintai?”
Dan pada saat itu,
segala topeng akan runtuh,
tinggallah diri yang paling jujur.
Maka hiduplah hari ini
seolah ini adalah jawaban terakhir
yang akan kau berikan kepada hidup.
Kasihilah tanpa menunda.
Ampunilah tanpa syarat.
Hiduplah tanpa kepalsuan.
Karena pada akhirnya,
kematian bukanlah akhir dari cerita,
melainkan pintu
yang mengungkapkan
apakah hidup kita sungguh berarti.
Dan dalam terang iman,
kita percaya:
di balik pintu itu
bukan kegelapan yang menelan,
melainkan Pelukan
yang menyambut pulang.

Paul Subiyanto

Dr.Paulus Subiyanto,M.Hum --Dosen Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Bali ; Penulis buku dan artikel; Owner of Multi-Q School Bal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *