“Lahir dari Roh, Hidup dalam Kasih”
Oleh Susy Haryawan
Renungan Selasa, 14 April 2026
Saudara yang Terkasih,
Hari ini kita diajak merenungkan sabda Tuhan yang membawa kita pada inti dari kehidupan setelah Paskah: Transformasi Batin. Yesus berkata kepada Nikodemus, “Kamu harus dilahirkan kembali.” Kalimat ini mungkin terdengar membingungkan. Termasuk Nikodemus sendiri juga menyatakan kebingungannya. Namun melalui bacaan pertama, kita melihat bagaimana wujud nyata dari orang-orang yang sudah “dilahirkan kembali” itu. Bacaan ini mengantar pemahaman hidup baru yang memerlukan kelahiran baru pula.
Ada beberapa hal menarik yang bis akita renungkan dan jadikan pedoman hidup sehari-hari.
1. Menjadi “Manusia Baru” (Injil)
Saudara Terkasih, Yesus menjelaskan bahwa kelahiran dari Roh itu seperti angin—kita tidak tahu dari mana datangnya dan ke mana perginya, tapi kita bisa merasakan dampaknya. Lahir kembali bukan berarti kembali ke rahim ibu, melainkan membiarkan Roh Kudus mengambil alih kendali hidup kita.
Seringkali kita merasa sudah cukup menjadi Katolik hanya dengan pergi ke Gereja atau berdoa secara rutin. Namun, Yesus menantang kita untuk melampaui itu. Kelahiran kembali adalah perubahan perspektif: dari yang egois menjadi penuh kasih, dari yang terpaku pada hal duniawi menjadi percaya pada hal-hal surgawi.
Mengalahkan kedagingan dan mengarahkan diri pada yang adikodrati, lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang lebih bernilai, bernuanss spiritual, dan mau berkorban. Keluar dari kedirian, memberikan diri pada sesama.
2. Kesatuan Hati dan Jiwa, belajar dari Bacaan Pertama
Saudara Terkasih, dampak dari Roh Kudus yang bekerja sangat nyata dalam jemaat perdana. Mereka hidup “sehati dan sejiwa”. Luar biasanya, tidak ada seorang pun yang merasa bahwa apa yang ia miliki adalah miliknya sendiri. Kepemilikan pribadi beralih menjadi milik bersama, senasib sepenanggungan.
Ini adalah standar yang sangat tinggi, terutama bagi kita di zaman modern yang sangat menjunjung hak milik pribadi. Namun, jemaat perdana menunjukkan bahwa ketika seseorang sungguh-sungguh percaya pada kebangkitan Kristus, keterikatan terhadap materi akan luntur dan digantikan oleh kepedulian terhadap sesama. Tokoh Barnabas menjadi teladan nyata bagaimana ia memberikan miliknya untuk kepentingan bersama.
Hari-hari ini, kita disuguhi drama kehidupan yang hanya berfokus pada mencari keuntungan sendiri, atau kelompok. Tidak ketinggalan juga orang-orang Katolik yang terjebak pada glamornya dunia. Kebangkitan membawa pembaruan, bagaimana hidup baru itu, berani meninggalkan kemewahan dan kepemilikan, lebih mengerikan lagi, ketika cara mendapatkan materi itu dengan cara buruk. Merugikan pihak lain, berlaku curang, dan mengorbankan pihak lain demi materi yang berlimpah.
3. Salib sebagai Sumber Hidup
Saudara Terkasih, di akhir Injil, Yesus mengingatkan tentang Anak Manusia yang harus ditinggikan (disalibkan), sama seperti Musa meninggikan ular tembaga di padang gurun. Bagi kita, memandang Salib bukan lagi memandang penderitaan, melainkan memandang kasih yang menyelamatkan. Iman kepada Yesus yang disalibkan dan dibangkitkan inilah yang memberi kita kekuatan untuk lahir baru setiap hari.
Kerap kali orang mencibir dan mencemooh karena Salib, namun di dalam Yesus itu adalah kemuliaan. Hidup baru dan itu adalah hidup kekal. Tanpa Salib dan pengorbanan Yesus, kita masih berkubang di dalam dosa.
Sebagai bahan permenungan lebih lanjut, layak kita melihat lebih dalam,
Refleksi Diri untuk Hari Ini:
- Apakah aku masih sering merasa berat hati ketika harus berbagi dengan orang lain yang berkekurangan?
- Dalam hal apa saja aku merasa perlu “dilahirkan kembali” (mungkin dari sifat pemarah, egois, atau kurang percaya, sikap tanggung jawab, atau bahkan mungkin mengorbankan orang lain untuk kepuasan kita)?
- Sudahkah Roh Kudus menjadi “angin” yang menggerakkan setiap keputusan dan tindakanku hari ini? Ataukah mengandalkan diri dengan segala kemampuanku sendiri?
Doa: Ya Bapa, utuslah Roh Kudus-Mu ke dalam hatiku. Ubahlah aku menjadi pribadi yang lebih peka terhadap kebutuhan sesama, agar hidupku sungguh mencerminkan kasih-Mu dan menjadi kesaksian akan kebangkitan Putra-Mu. Ajarlah aku lebih peka melihat rancangan-Mu yang kadang terhalang oleh egoismeku atau kesombonganku sendiri. Doa ini aku sampaikan dengan pengantaraan Kristus Tuhan dan Juru Selamat, kini dan sepanjang masa.Amin.
Salam JMJ

