Dedikasi Gereja

Dedikasi Gereja

Paroki Ratu Rosari Jagakarsa Jakarta Selatan

Selasa, 5 Mei 2026 pukul 18.00

Tadi malam saya hadir dalam pemberkatan atau dedikasi Gereja Ratu Rosari Jagakarsa. Sudah 32 tahun umat merindukan Gedung gereja yang baik untuk dapat menikmati kenyamanan dalam beribadah kepada Tuhan. Tetapi baru kemarin sore secara resmi akhirnya bisa memiliki Gedung gereja sendiri yang cukup megah. Gereja ini diletakkan di bawah naungan Bunda Maria. Sub Tutela Matris.

Hujan lebat yang turun sebelum dan ditengah perayaan Pemberkatan Gereja ini, tidak menyurutkan semangat umat Paroki yang hadir utuk turut merayakan kegembiraan dalam Pemberkatan Gereja mereka. Terbukti tempat parkir penuh dengan kendaraan motor dan mobil. Banyaknya melebihi hari Raya Paskah dan Natal.

Panitia sudah bekerja keras untuk mempersiapkan segalanya dalam persiapan dan perlaksanaan pemberkatan ini. Gereja yang dapat memuat 1200 orang di dalamnya. Di lantai utama 800 orang. Di balkon 400 orang. Masih ditambah tenda-tenda yang diatur rapi dipersiapkan di kanan dan depan gereja. Umat paroki yang hadir kebanyakan ditempatkan di luar gereja ini. Saya berada tenda di sisi kanan bersama dengan mereka. Saya hadir sebagai umat biasa dan bukan bagian panitia.

Di bagian utama untuk para undangan terhormat. Para donatur dan Romo-romo MSF khususnya yang pernah berkarya di paroki ini. Juga romo-romo yang sering membantu asistensi memimpin perayaan Ekaristi di sini. Saya melihat sejumlah Romo MSF yang hadir antara lain: Rm. Yuli sebagai wakil dari Profinsial MSF Jawa. Romo MSF yang pernah berkarya di sini yang hadir adalah Rm. Parso Subroto, Rm. Ibnu Fajar Muhamad, Rm. Anton Gunardi, Rm. Kris Winarto, Rm. Tiyo ( datang dari Larantuka), Rm. Andi Sainyakit, Pr (dari keuskupan Amboina yang sedang studi S-3 di Universitas Sahid Tebet dan tinggal di Paroki Pasar Minggu yang sering asistensi di sini, Rm. Wahyu Pr KAJ yang tinggal di Seminari Wacana Bakti. Informasi awal akan hadir sekitar 60-80 Romo yang diundang – ternyata tidak sebanyak informasi awal yang bisa. Romo yang hadir tidak semua naik ke panti imam. Yang menjadi konselebran utama adalah Bapak Uskup Kardinal Suharyo, Rm. Bimo Handorko sebagai Pastor Kepala dan Rm. Sulis dan Rm. Ivan. Rm. Yuli dan satu lagi romo yang namanya tidak saya kenal. Romo yang lain duduk di bangku depan altar bersama undangan terhormat lainnya. Dari Komunitas Bruder Budi Mulia dan Suster-suster RSCJ dan Suster OP. Di Tengah para donatur dari gereja paroki lain di Keuskupan Agung Jakarta ini dan juga para anggota Dewan Pleno dan Lansia. Sayangnya banyak undangan terhormat yang tampaknya tidak hadir. Sehingga kursi utama di dalam gereja tampaknya masih banyak yang kosong. Mungkin banyak diantara tamu undangan itu tinggalnya di tempat yang jauh dari paroki-paroki se Keuskupan Agung Jakarta ini. Saya tidak melihat apakah di Balkon yang kapasitasnya dapat menampung 400 orang terisi atau tidak.

Bapak Kardinal memberikan homili yang sangat menarik. Dikaitkan dengan bacaan Injil dari Yohanes 19: 25-27. Umat diajak untuk bertumbuh kepada kesempurnaan kasih seperti bunda Maria. Dihubungkan juga dengan Yohanes 2:1-11 kehadiran bunda Maria pada persitiwa di Kana. Sebagai mukjijat pertama. 2:11 Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. Kalau ini disebut yang pertama dari tanda kemuliaan-Nya mana tanda terakhir dari kemuliaan Yesus itu? Tanda terakhir itu adalah yang yang ada pada Yohanes 19: 25-11 itu. Di atas salip. Lebih mudah melihat tanda kemuliaan-Nya seperti dalam kisah mukjijat air berubah menjadi anggur. Tetapi bunda Maria terus belajar seumur hidup bersama Yesus. Bunda Maria mampu melihat kemuliaan Yesus itu saat hadir di bawah salip-Nya. Bapak Kardinal juga mengambil salah satu relief di candi Borobudur yang mengisahkan tentang seekor monyet yang membawa pisang, seekor berang-berang yang membawa ikan, seekor serigala yang membawa susu, dan seekor kelinci yang tidak membawa apa-apa. Ke empat binantang ini bertemu dengan seorang musafir lansia yang tampak lelah. Lalu masing-masing binatang mempersembahkan apa yang mereka bawa. Pisang, ikan, susu. Sedang kelinci yang tidak memiliki apa-apa yang dibawanya. Mempersembahkan diri sebagai kurban. Pesannya sampai. Kelinci ini seperti Yesus yang menyerahkan diri. Umat diajak untuk meneladan bunda Maria Ratu Rosari yang sepanjang hidup terus menyerahkan diri untuk mengikuti kehendak Tuhan.

Baru pertama kali ini saya ikut hadir dalam pemberkatan gereja. Tata liturginya seperti tahbisan Imam. Setelah homili. Menyusul Doa Aku percaya dan Litani orang Kudus yang dinyanyikan. Tentu ada pemberkatan lain seperti pemberkatan rumah. Khusunya altar, taber nakel ruangan dalam gereja, dinding gereja, lokasi-lokasi di luar gereja seperti halaman – taman. Patung Maria Ratu Rosari yang ditempatkan di depan gedung gereja. Berhubung gereja ini berlokasi di Jakarta Selatan – dekat dengan situs pelestarian Budaya Betawi – Setu Babakan, maka Panitia juga merancang liturgi dengan tarian Gaya Betawi saat Pembukaan dan Persembahan, Ordinarium: Tuhan Kasihanilah kami, Kemuliaan, Kudus, Anak Domba dalam Gaya Betawi juga. Penutup dengan lagu yang disiapkan untuk menggerakkan umat Katolik di Keuskupan Agung Jakarta dalam terlibat membangun relasi dengan lintas Agama dan Masyarakat.

Setelah selesai, umat dibagi menjadi 3 lokasi juga. Kelas VVIP di ruang bawah gereja (Basement) sebagai tempat pesta. Gedung Destra di belakang Kapel yang tempat kami merayakan Ekaristi sebelum adanya Gedung gereja yang baru ini. Dan di bawah tenda di bagian atas pintu gerbang masuk ke Gua Maria. Di Sebelah belakang bagian dari Gua Maria itu juga ada Gedung khusus untuk Adorasi Sakramen Maha Kudus. Sungguh kami umat Paroki Jagakarsa merasa lengkap dengan berbagai fasilitas doa untuk terus merasa dekat dengan Tuhan dan Bunda Maria Ratu Rosari ini.

Makanan yang disediakan oleh Panitia pun semua bernuansa Betawi. Saya karena menjadi umat biasa justru dapat menikmati ini tahap demi tahap. Kupon kertas berwarna merah ditukar dengan bir plethok ( minuman hangat campuran dengan jahe merah – sayangnya bir ini malah dicampur es), kupon kertas warna putih ditukar dengan makanan kerak telor dan kue ranggi, kupon kuning ditukar dengan makanan berupa taoge goreng ( baru pertama kali saya makan makanan jenis ini – ternyata isinya taoge dan mie yang dicampur dengan seperti sambel pecel), dan terakhir yang paling laris – maka antrinya paling panjang adalah kupon warna hijau – ditukar dengan Soto Betawi – yang membuat sungguh kenyang. Sebenarnya sampai pada tahap ke tiga saja saya sudah merasa kenyang. Tetapi rasanya masih penasaran untuk menyelesaikan sampai tuntas ke empat kupon yang sudah saya terima ini. Saya baru sungguh menyadari inilah yang Panitia upayakan untuk membuat para tamu undangan  merasakan nuansa Betawi dalam acara ini. Terima kasih.

Sambil menikmati soto Betawi saya berdiri di jendela samping ruang basement. Sambil melihat anak-anak yang sedang menari dihadapan para tamu terhormat. Saya sebenarnya ingin bertemu dengan romo Anton yang dulu pernah membimbing saya saat Tahun Orientasi Pastoral Di Paroki Temanggung – Parakan – dan Romo-romo lainnya yang saya kenal – sekedar berjabat tangan saja. Tetapi saya harus tahu diri karena ternyata Romo Anton dan romo-romo MSF yang lain duduk di bagian tengah dekat panggung Bersama Bapak Uskup. Selesai makan soto Betawi dan kenyang dalam kondisi yang masih gerimis tipis-tipis saya segera pulang dan berharap besok pagi masih dapat bertemu di pastoran. Ternyata pagi ini informasi dari Sekretariat di pastoran tidak ada Romo tamu yang bermalam di pastoran. Semua Romo sudah kembali ke tempat tugasnya masing-masing.

Sebelum uji coba Gedung gereja di hari Kamis, 30 April 2026, kami umat Paroki yang terdiri dari 13 Wilayah 41 Lingkungan dan tersebar dalam 3 tempat ibadah: Di bahtera Kasih – Cilandak KKO, Kapel Universitas Pancasila, dan Kapel Desa Putera diajak untuk menyiapkan diri secara Rohani dalam Triduum ( 3 hari refleksi bersama di lingkungan masing-masing) secara serentak di hari Senin. 27 April, Selasa 28 April, dan Rabu 29 April 2026 dari pukul 19.30 – selesai Topik dari Triduum adalah “ Bersama Maria, 32 Tahun Paroki Jagakarsa Lahir, Bertumbuh, dan Berbuah. Dan masing-masing dibagi menjadi Sub Topik hari pertama : “Lahir dari Satu Iman” – Kita lahir dari latar belakang yang berbeda, tetapi Dalam Kristus kita dilahirkan kembali dalam satu iman yang sama. Hari Kedua “ Bertumbuh Dalam Persekutuan Kasih” – Iman yang hidup tidak berjalan sendiri – ia bertumbuh dalam kasih – ketika kita saling merangkul sebagai satu keluarga dalam Tuhan. Hari Ketiga: “ Berbuah Dalam Pelayanan” – Iman sejati tidak berhenti di hati – ia berbuah dalam tangan yang mau melayani dan hidup yang rela memberi.

Dalam Triduum itu saya sebagai salah satu Prodiakon di Lingkungan Setu Mangga Bolong menyediakan diri untuk menjadi pemandu dalam ke dua topik di hari Pertama dan Kedua. Di topik hari ke 3 disampaikan oleh Ibu Vica (Prodiakon di lingkungan yang sama dengan saya) – karena tempat pelaksanaan Triduum di hari ke 3 ada di rumah saya.

Orang biasa bisa menjadi istimewa jika ia mampu menjadi rendah hati – selalu bisa melihat rahmat Tuhan dalam hidupnya dimanapun ia ada dia bisa menyerahkan diri seperti kelinci – sebagaimana diilustrasikan dalam homili Bapa Kardinal dalam Perayaan Ekaristi ini.

Sambutan Romo Bimo Handoko MSF selaku pastor Kepala dan Rm. Yuli MSF mewakili Provinsial MSF Jawa yang tahun ini memasuki 100 tahun karya MSF di Indonesia juga menyinggung inti dari topik refleksi 32 tahun Paroki Jagakarsa itu selain ucapan terima kasih dari Romo Bimo terhadap Bapa Kardinal pemrakarsa berdirinya Gedung Gereja di Kompleks Komunitas Bruder Budi Mulia ini, dan Profisiat Dari Romo Yuli kepada umat Paroki Jagakarsa agar terus menerus belajar seumur hidup dari Bunda Maria Ratu Rosari sehingga tidak hanya bertumbuh dan berakar dalam iman – tetapi juga berbuah dalam kehidupan. Menjadi rukun dalam kasih.

Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan

Rabu 6 Mei 2026

Ansgarius Hari Padma Wijaya

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *