Tanda-Tanda Harapan di Tengah Badai
Oleh M. Unggul Prabowo
Renungan Jumat, 28 November 2025
Para sedulur terkasih dalam Kristus,
Hari ini kita mendengarkan bacaan Injil Lukas 21: 29 – 33. Kita mendengar Tuhan Yesus mengajak para murid untuk memperhatikan pohon ara: ketika daunnya mulai bertunas, kita tahu musim panas sudah dekat. Demikian pula, ketika tanda-tanda tertentu tampak di dunia, kita diajak untuk memahami bahwa Kerajaan Allah semakin mendekat.
Yesus tidak menuntut kita menjadi peramal masa depan, tetapi menjadi ‘umat yang peka’, yang mampu membaca realitas hidup dengan iman. Di tengah situasi sosial Indonesia saat ini, ketegangan politik menjelang pemilu, polarisasi sosial, kenaikan harga kebutuhan pokok, isu lingkungan hidup, serta kemunduran etika public, kita mudah terjebak dalam rasa cemas dan pesimis. Banyak orang merasa lelah oleh perdebatan, hoaks, saling curiga, dan maraknya ujaran kebencian. Namun Injil hari ini mengingatkan bahwa bahkan dalam situasi kelam, selalu ada ‘tunas-tunas’ yang menandakan harapan.
Tuhan Yesus berkata, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi sabda-Ku tidak akan berlalu.” Yesus mengajak kita untuk menempatkan pegangan hidup bukan pada arus berita, opini publik, atau suhu politik yang naik turun, tetapi pada Sabda Tuhan yang teguh dan tidak berubah. Sabda Tuhan adalah fondasi yang membuat kita tidak mudah digoyahkan oleh ketakutan kolektif.
Sekarang ini kita bmsai melihat tanda tanda kebaikan yang ada di Masyarakat. Seperti munculnya banyak komunitas kecil yang bergerak menolong sesama, dari gerakan berbagi pangan, piring kasih, relawan pendidikan, hingga kampanye lingkungan, adalah tunas-tunas Kerajaan Allah. Di tengah berita negatif, ada begitu banyak kebaikan yang bekerja secara senyap.
Juga kita mendengar generasi muda semakin berani menyuarakan keadilan, transparansi, dan integritas. Mereka menolak politik identitas dan menginginkan bangsa yang bersatu. Ini pun adalah tanda harapan.
Dalam keluarga-keluarga Katolik yang tetap setia membangun doa bersama, kejujuran, dan solidaritas menjadi saksi bahwa nilai-nilai Injil tetap hidup, meski dunia bergerak cepat.
Kita diajak Yesus untuk ‘tidak takut’, tetapi berjaga dan berharap. Gereja dipanggil untuk menghadirkan harapan: bukan dengan retorika, tetapi melalui tindakan nyata yang menyalakan semangat persaudaraan, keadilan, dan kasih.
Semoga setiap dari kita menjadi pohon ara yang menghadirkan tunas kehidupan bagi lingkungan sekitar: di rumah, kantor, gereja, maupun masyarakat luas. Ketika kita memilih kasih daripada kebencian, persatuan daripada polarisasi, dan kebaikan daripada ketidakpedulian, Kerajaan Allah sungguh semakin dekat.
Doa : † Bapa yang pernuh Kasih, jadikanlah kami umat yang peka membaca tanda-tanda zaman. Di tengah kegelisahan bangsa, tanamkanlah dalam hati kami keberanian untuk berharap dan kekuatan untuk menyalakan kebaikan. Semoga Sabda-Mu menjadi pegangan hidup kami dan membawa damai bagi masyarakat sekitar. Demi Yesus Kristus Pengantara kami. Amin. †

