Belajar dari Banjir Sumatera

Belajar dari Banjir Sumatera

Kala Lingkungan jadi Budak Ekonomi

Prihatin dengan saudara-saudara di Sumatera, yang mengalami banjir bandang. Bencana alam yang tidak sepenuhnya karena alam murka. Yang terjadi adalah mekanisme alam untuk  menegur manusia yang telah abai akan ibu bumi. Laudato Si yang terabaikan.

Pembukaan hutan tanpa mikir Panjang. Sekadar berpikir mengenai ekonomi, bisnis, dan keuntungan sekelompok pihak, dan  abai kepentingan umum. Tidak ada yang salah dengan sawit, namun perlu juga memikirkan bagaimana hutan dibutuhkan. Akar-akar tanaman besar penting menampung dan menahan air.

Minyak dari sawit juga penting bagi hidup manusia. Pembukaan lahan yang bijaksana tentu tidak akan menimbulkan masalah seperti saat ini. Ekonomi menjadi panglima, lingkungan sekadar menjadi alat, budak, dan perahan manusia tamak.

Sebuah tulisan sangat bagus, ketika ekonomi di atas lingkungan, coba saja tahan nafas sambil menghitung uang.  Orang pada lupa, bagaimana alam itu telah menyediakan banyak hal. Namun ketamakan membuat itu semua kurang. Masih saja seenaknya sendiri mengggunduli hutan dan diganti dengan kepentingan manusia serakah.

Konteks kecil, jadi ingat dan merenungkan, bagaimana tetangga pada berlomba-lomba menggali atau mengebor sumur untuk menjual air. Ada yang disalurkan pada tetangga, ada yang menjual dengan truk tangki, yang lain mengantar air dengan mobil bak terbuka yang diperlengkapi dengan toren.

Mirisnya mereka banyak yang rumahnya tidak ada pohon sama sekali. Bagaimana mereka selalu memanen air, namun tidak mau menyiapkan penyimpannya.

Lebih parah lagi, banyak lahan terbuka hijau, bahkan sawah dikeringkan dan diganti dengan bangunan permanen, program negara lagi. Gencar pendirian koperasi dengan target dua bulan berdiri, pada Maret tahun depan aka nada 80.000 gedung koperasi. Bayangkan berapa tanah yang dikorbankan menjadi gedung.  Melengkapi puluhan ribu dapur umum untuk program MBG.

Seolah hal yang sederhana, kan hanya 1000-an m2 bayangkan jika dikalikan puluhan ribu, berapa saja tanah subur ini jadi hutan beton? Program yang tidak pernah dipikirkan secara holistic, sekadar proyek sesaat.

Apa yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat itu adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang tidak seharusnya terjadi. Bisa dihindari jika ada pemikiran bijak dari para pemangku kebijakan yang lebih besar. Sayang, bahwa itu semua tidak terjadi. Pemerintah telah abai.

Minimal yang bisa dilakukan adalah  pilihan pribadi untuk mencintai dan merawat lingkungan. Apa yang bisa dilakukan, Jalani. Menanam pohon, mengurangi penggunaan plastic, tidak membuang sampah sembarangan,  meminimalisasi penggunaan kendaraan bermotor.

Salam JMJ

Susy Haryawan

Susy Haryawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *