Keberanian yang Tumbuh dari Iman dan Kasih

Keberanian yang Tumbuh dari Iman dan Kasih

(Sir. 47:2-11; Mzm. 18:31,47,50,51; Mrk. 6:14-29 dan pesta Santo Paulus Miki, dkk)

Saudara/ri terkasih dalam Kristus,

Hari ini, Gereja mengajak kita merenungkan satu hal sederhana tapi kuat: bagaimana kita bisa tetap setia, berani, dan bersukacita mengikuti Tuhan, meski hidup ini penuh tantangan. Kisah-kisah dalam Kitab Suci hari ini, ditambah teladan Santo Paulus Miki dan kawan-kawannya yang menjadi martir di Jepang, saling menyambung seperti benang merah yang menghangatkan hati. Pesannya sangat dekat dengan kehidupan keluarga kita sehari-hari.

Dalam bacaan pertama yang diambil dari Kitab Sirakh, kita diingatkan pada Daud. Ia bukan hanya pemberani karena mengalahkan Goliat, tapi lebih lagi karena hatinya melekat pada Tuhan. Ia memuji Tuhan dengan tulus dan mencintai-Nya sepenuh hati. Inilah akar keberanian sejati: hubungan yang hangat dengan Tuhan.

Begitu juga dalam keluarga. Ketika rumah kita dibangun di atas rasa syukur dan pujian (seperti saat kita berdoa bersama sebelum makan, atau merayakan hari Minggu dengan sukacita) maka keluarga itu menjadi kuat, seperti rumah di atas batu karang.

Tapi setia pada Tuhan tidak selalu berarti hidup mulus tanpa masalah. Injil Markus menceritakan Yohanes Pembaptis yang berani menegur Raja Herodes: “Tidak benar engkau mengambil istri saudaramu!” Ia memilih jujur, meski tahu risikonya besar. Akibatnya, ia dipenjara dan akhirnya dipenggal kepala.

Yohanes mengajarkan kita: keberanian iman sering kali berarti berani berkata jujur, membela yang benar, dan tidak kompromi pada hal yang salah, bahkan dalam keluarga sendiri atau lingkungan sekitar.

Meski demikian, melalui Mazmur hari ini kita dihibur: “Allah jalan-Nya sempurna… Ia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya.” Keyakinan inilah yang menguatkan para martir. Pada tahun 1597, di Nagasaki, Jepang, Santo Paulus Miki bersama 25 orang lain, ada imam, biarawan, bahkan anak-anak, disalibkan karena iman mereka.

Tapi lihatlah, dari atas kayu salib yang menyakitkan itu, Paulus Miki tidak mengutuk. Ia justru berkhotbah dengan tenang, mengampuni, dan bersaksi tentang Yesus. Di sanalah keberanian Daud dan keteguhan Yohanes Pembaptis bertemu: dalam pengorbanan yang penuh damai. Mereka menunjukkan bahwa iman yang hidup bisa mengubah salib (penderitaan) menjadi mimbar kasih.

Apa artinya bagi keluarga kita hari ini?

Keluarga adalah “sekolah kecil” tempat kita belajar berani setiap hari. Melalui bacaan-bacaan dan peringatan orang kudus hari ini kita belajar tiga hal:

Pertama, seperti Daud, keluarga adalah tempat kita belajar bersyukur. Tidak perlu ritual rumit. Cukup ucapkan “terima kasih” bersama sebelum makan, ceritakan satu hal baik yang terjadi hari ini, atau nyanyikan lagu rohani sederhana di mobil. Di sanalah kekuatan rohani keluarga bertumbuh diam-diam.

Kedua, seperti Yohanes Pembaptis, keluarga adalah tempat kita belajar jujur. Orangtua memberi teladan dengan tidak berbohong demi keuntungan kecil. Anak-anak didukung untuk berkata benar, meski takut dimarahi. Keluarga berani memilih film yang baik ditonton bersama, atau menolak ikut menyebarkan gosip, meski dianggap “ketinggalan zaman”. Keberanian moral dimulai dari meja makan.

Ketiga, seperti Paulus Miki dan kawan-kawan, keluarga adalah tempat kita belajar mengampuni dan bersaksi. Martir di Nagasaki itu beragam: imam, biarawan, bahkan anak kecil. Artinya, setiap kita (tanpa kecuali) dipanggil menjadi saksi Kristus.

Caranya sederhana: senyum pada tetangga, jujur saat bekerja, atau bercerita pada anak tentang pengalaman Tuhan menjaga kita. Dan yang paling penting: keluarga adalah tempat pertama kita belajar memaafkan (setelah bertengkar, kecewa, atau tersakiti) seperti Kristus yang mengampuni dari salib.

Doa sederhana hari ini:
Tuhan, beri kami keberanian untuk setia pada-Mu dalam hal kecil sehari-hari: bersyukur, berkata jujur, dan mau memaafkan. Amin.

Misi kita untuk hari ini:
 Seperti Daud: ucapkan satu syukur spesial bersama keluarga.
 Seperti Yohanes Pembaptis: pilih satu hal benar hari ini, meski tidak mudah.
 Seperti para martir: lakukan satu kebaikan diam-diam, atau ucapkan “aku maafkan kamu” pada seseorang.

Alfred Jogo Ena

Alfred Jogo Ena

Seorang editor yang suka menulis dan guru agama di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta. Ia juga melayani pelatihan dan konsultasi penulisan buku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *