Dialogis dan Semanak Semedulur
Siang hari di gedung megah dan ruang yang sejuk, Kamis, 5 Februari 2026. Saya dan beberapa teman sedang membahas pelaksanaan Pesta Paduan Suara Kabupaten Sleman dan Bina Anak Katolik Kabupaten Sleman. Romo Petrus Santosa Panca Prasetya MSF “tilar donya”. Demikian kabar yang saya terima melalui whatsapp.
Saya tertegun. Sejenak menyisihkan jeda waktu.
Ruang Komisi C gedung DPRD Kabupaten pun serasa ikut menghantar saya mengenang perjumpaan dengan beliau.
Dalam proses pembinaan yang pernah dialami,
Romo Santosa mengajarkan materi Kitab Suci. Saya rajin mencatat apa yang beliau sampaikan pada lembar halaman Kitab Suci. Ketika saya belajar, saya berharap bisa lebih cepat mengetahui dan mengingatnya. Kelak pasti ada manfaatnya.
Benar saja. Saat ujian tiba. Romo Santosa bertanya banyak hal dan dengan cepat pula, saya menjawabnya. “Mesti nyonto iki,” katanya kepada saya. Saya tak berusaha menbantah perkataan beliau. Saya malah menunjukkan catatan kecil yang saya tulis pada ruang kosong, di antara teks yang ada. “Jian pinter tenan kowe Le!” kata beliau. Ungkapan familiar. Saya tahu, meskipun Romo Santosa berkumis tebal, tetapi beliau tidak sesangar visualnya. Beliau pribadi yang baik, ranah, ceplas ceplos dan humoris.
Masa Tahun Orientasi Pastoral menjadi cuplikan pengalaman saya bersama Romo Santosa. Waktu itu, saya menjalani masa TOP di Yayasan Sosial Soegijapranata Semarang. Saya terlibat dalam pendampingan belajar bagi anak-anak jalanan, panti cacat ganda, klinik kesehatan,
panti wredha dan karya sosial lainnya. Sementara berkarya di YSS, saya nunut tinggal di Paroki Santo Petrus dan Paulus Sendangguwo. Saya bersama Romo B. Haryasmara MSF, Almarhum Romo FX. Martawiyana MSF dan Almarhum Romo Agustinus Suwartana Susila MSF. Akhir masa TOP, saya mendapat berkah berupa in pecuniam. Meskipun tidak sangat berlimpah, tetapi saya mencoba belajar menghidupi panggilan ugahari. Saya matur kepada Romo Santosa dan menyerahkan apa yang saya dapatkan selama menjalani masa orientasi. Sebagai Romo Ekonom Propinsi, Romo Santosa menyambut sangat baik dan bijak kehadiran saya. Beliau menerima apa yang saya peroleh, tetapi juga “nyangoni” saya secukupnya.
Sekian tahun berikutnya. Perjalanan dalam proses pembinaan tidak selalu mulus dan sesuai harapan. Pada satu tahap, saya memutuskan untuk tidak meneruskan “panggilan”.
Setelah makan siang, Romo Santosa merangkul saya. Beliau mengajak saya ke ruang tamu yang dihiasi penyu raksasa. Suasana dialogis terjadi. Romo Santosa tampaknya menggetahui proses keputusan saya. Saya tak heran. Saya sering juga menyebut beliau, “bapa mahatahu”. Masih dengan gaya semanak dan semedulur, beliau bertanya apakah saya benar-benar akan mengundurkan diri. Saya melihat mimik muka beliau ketika mendengarkan jawaban saya. Tampak kecewa, ya….tetapi juga memberikan kebebasan bagi saya untuk memilih apa yang akan saya jalani selanjutnya. “Yang penting sudah dipikirkan dan dilewati prosesnya dengan benar,” kata beliau.
Sekelebat pengalaman menarik bersama Romo Santosa juga terjadi ketika saya menghadiri acara Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF). Sapaan yang hangat, ceria dan tetap selalu bertanya, “Anakmu kelas piro?” “Wes tambah durung?”. Ungkapan-ungkapan yang secara verbal tak muncul lagi dalam perjumpaan, ketika saya hadir acara di tarekat. Dalam doa, ya!
Swarga langgeng Romo Petrus Santosa Panca Prasetya MSF. Matur nuwun segala persahabatan dan persaudaraannya. Salam Jesus, Maria dan Yosep. *

