In Memoriam Romo Petrus Santosa Ponco Prasetyo, MSF

In Memoriam Romo Petrus Santosa Ponco Prasetyo, MSF

Pak Bos” yang Mengajar Kami Arti Melayani

Setahun di Novisiat bersama Romo Petrus Santosa Ponco Prasetyo, MSF adalah perjalanan yang tidak hanya membentuk disiplin hidup membiara, tetapi juga cara saya memahami arti menjadi manusia yang melayani. Saya mengenalnya bukan sekadar sebagai magister, tetapi sebagai “Pak Bos” yang dekat, tegas sekaligus penuh humor—seorang gembala yang berjalan bersama, bukan hanya memberi instruksi dari jauh.

Salah satu kenangan yang selalu mengundang senyum adalah momen volley bersama. Romo tidak pernah segan ikut bermain, meskipun kadang gerakannya justru menjadi sumber kelucuan dan tawa. Ada saat ketika pertandingan terasa terlalu serius, beliau justru mencairkan suasana dengan candaan sederhana, mengingatkan bahwa persaudaraan lebih penting daripada kemenangan. Dari lapangan sederhana itu saya belajar: hidup rohani tidak mematikan sukacita—justru menumbuhkan kebersamaan yang tulus.

Dalam pembagian tugas harian, Romo juga punya gaya khas. Tugas berat dan ringan dibagikan dengan adil, tetapi selalu disertai refleksi kecil: “Kowe sinau opo muk?”– panggilan akrab saat di Novis. Spontan selalu saya jawab “kesel pak bos” dan beliau selalu menjawab “Oooo cah Bodong!!!”

Kadang saya mengeluh, kadang merasa tidak adil, tetapi beliau mengajak saya melihat tugas sebagai sarana pembentukan hati. Bahkan dalam bimbingan rohani, beliau tidak pernah memaksakan jawaban. Ia lebih sering bertanya, mengajak saya masuk lebih dalam pada motivasi dan kejujuran diri. Saya diajak belajar mendengarkan suara Tuhan – bukan sekadar memenuhi aturan.

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika saya berdiskusi panjang bersama beliau tentang seekor anjing liar keturunan golden, yang akhirnya boleh dipelihara dan diberi nama Popo. Awalnya hanya muncul dari rasa kasihan, tetapi Romo mengajak saya melihat lebih jauh: apakah tindakan memelihara itu sekadar emosi sesaat, atau wujud tanggung jawab nyata?

Diskusi rohani berlangsung hangat – tentang belas kasih, tanggung jawab, dan konsekuensi pilihan. Ketika Popo memiliki anak dan akhirnya Popo mati diracun, saya turut merasakan duka yang mendalam. Namun Romo mengajak saya untuk tidak berhenti pada kesedihan dan emosi; beliau mengajak untuk mengadopsi dan merawat anak Popo yang tersisa sebagai bentuk komitmen terhadap kehidupan. Dari seekor anjing kecil itu, saya belajar bahwa kasih tidak berhenti pada kata-kata – ia menuntut kesetiaan dalam tindakan.

Tidak semua perjalanan berakhir dengan cara yang sama. Ada masa ketika saya harus mengambil keputusan untuk mundur. Itu bukan keputusan mudah, dan Romo mendampingi proses itu dengan penuh kebapakan. Tidak ada penghakiman – yang ada justru ruang dialog, doa, dan penerimaan. Ketika akhirnya saya pulang ke Solo, beliau mengantar saya dengan hangat bersama teman angkatan, Mas Aldy, Mas Yudis, dan Romo Ferry MSF. Bahkan anjing kecil yang selama ini dirawat ikut dalam perjalanan itu dan saya rawat sampai popo juga berpulang ke Sang Pencipta – sebuah simbol kecil dari perjalanan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Hal yang paling menarik ketika saya sudah di Solo adalah, ketika Romo mewajibkan saya untuk setiap malam minggu berkabar dan berefleksi melalui telephone rumah dan sms. Pernah saya menyakan hal ini kenapa harus wajib telephone atau sms. Jawabannya cukup meyayat hati saya: “Ben kowe ora dhewekan, muk. Kadhang sing paling abot kuwi dudu keputusanmu mundur, nanging nalika wengi teka, lan pikiranmu mulai takon regane awakmu dhewe. Aku mung pengin mesthekake yen kowe tetep mlaku, tetep ndedonga, lan tetep percaya yen Gusti ora tau mandheg makarya ing uripmu. Ben kowe ora dadi atheis.”

Kini ketika mengenang beliau, saya menyadari bahwa pelajaran terbesar bukan hanya tentang hidup religius, tetapi tentang menjadi manusia yang hadir bagi sesama. Romo mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan soal kuasa, melainkan keberanian untuk melayani dalam hal-hal kecil: di lapangan olahraga, dalam pembagian tugas, dalam percakapan rohani yang jujur, bahkan dalam merawat makhluk kecil yang terluka.

Romo, terima kasih telah mengajarkan saya arti melayani – bukan melalui kata-kata besar, tetapi melalui hidup yang nyata. Kenangan itu akan terus hidup, menjadi bagian dari perjalanan hidup saya bersama keluarga.

admin

One thought on “In Memoriam Romo Petrus Santosa Ponco Prasetyo, MSF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *