MENGAPA MANUSIA TAKUT MATI?
1. MENGAPA MANUSIA TAKUT MATI ?
Kematian adalah kenyataan dan kepastian dalam hidup yang tak bisa terelakkan. Semua orang mengetahui itu tetapi berpura-pura tidak tahu karena takut menghadapi kenyataan paling pahit ini. Menyadari kematian berarti mengetahui bila hidup ini fana, akan berakhir, akan hilang apa yang dikumpulkan di dunia selama ini sementara apa yang terjadi setelah kematian masih misteri. Hidup menjadi absurd: untuk apa hidup kalau hanya berakhir dengan sia-sia? Berhadapan dengan kepastian akan kematian dan ketidakpastian akan hidup setelah kematian membuat manusia melarikan diri, mencoba melupakan padahal celakanya lagi selain pasti manusia tidak tahu kapan kematian akan terjadi. Kematian tidak hanya mengejar tetapi juga mengancam sewaktu-waktu bisa tiba.
Ketakutan terhadap kematian bukan sekadar ketakutan biologis. Ia menyentuh dimensi terdalam manusia: kesadaran, makna hidup, relasi, dosa, harapan, dan kekekalan. Dari sudut filosofis maupun teologis, ketakutan akan kematian muncul karena manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya sekaligus sadar bahwa dirinya terbatas. Manusia berbeda dari makhluk lain karena ia sadar bahwa suatu hari dirinya akan mati. Kesadaran ini menciptakan kegelisahan eksistensial.
Filsuf eksistensialis seperti Martin Heidegger menyebut manusia sebagai being-toward-death — makhluk yang berjalan menuju kematian. Menurut Heidegger, kematian bukan sekadar peristiwa di akhir hidup, tetapi kenyataan yang selalu hadir dalam keberadaan manusia. Karena sadar hidupnya terbatas, manusia mengalami kecemasan dan kegelisahan:
Apa arti hidup jika semuanya berakhir?
Apakah semua perjuangan akan lenyap?
Apa yang tersisa setelah kematian?
Ketakutan muncul karena manusia ingin tetap ada, tetapi waktu terus mengarah pada akhir.
Salah satu sumber ketakutan terbesar adalah misteri. Kematian tidak pernah bisa sepenuhnya dijelaskan oleh pengalaman manusia yang masih hidup.
Socrates pernah mengatakan bahwa kematian mungkin adalah tidur tanpa mimpi, atau perpindahan jiwa menuju kehidupan lain. Namun manusia tetap takut karena tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi setelah kematian.
Ketidakpastian melahirkan kecemasan,spekulasi, dan rasa kehilangan kendali.
Manusia cenderung takut pada sesuatu yang tidak dapat diprediksi dan dikendalikan.
Filsafat juga melihat bahwa manusia takut mati karena terlalu melekat pada dunia:
harta, kekuasaan,relasi, tubuh dan identitas dirinya. Filsuf Epicurus sebenarnya berusaha menenangkan manusia dengan mengatakan:
“Ketika kita ada, kematian belum ada. Ketika kematian datang, kita sudah tidak ada.”
Namun dalam praktiknya, manusia tetap takut kehilangan orang yang dicintai, mimpi yang belum tercapai, kenyamanan hidup, dan dirinya sendiri. Kematian terasa seperti perampasan atas semua yang telah dibangun sepanjang hidup.
Filsuf seperti Albert Camus melihat bahwa manusia bergumul dengan absurditas: manusia mencari makna, tetapi hidup tampak berakhir dalam kematian. Jika semua akan mati, untuk apa bekerja keras? Untuk apa mencintai? Untuk apa berkorban?
Kematian dapat membuat manusia merasa bahwa hidupnya sia-sia. Karena itu, ketakutan akan kematian sering kali sebenarnya adalah ketakutan bahwa hidup tidak memiliki makna.
Secara alami, manusia memiliki dorongan untuk bertahan hidup. Tubuh manusia diprogram untuk menghindari bahaya dan mempertahankan eksistensi. Karena itu, rasa takut terhadap kematian juga merupakan bagian dari naluri biologis. Namun pada manusia, naluri ini berkembang menjadi refleksi filosofis dan spiritual. Jika hewan menghindari bahaya, manusia memikirkan arti kematian.
Di atas diuraikan bagaimana manusia takut akan kematian secara filosofis, berikut kita akan melihat bagaimana kematian dari perspektif teologi Katolik. Dalam tradisi Kristiani, kematian dipahami sebagai akibat dari dosa manusia. Kitab Kejadian menggambarkan bahwa manusia diciptakan untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah. Dosa merusak hubungan itu, dan kematian masuk ke dalam pengalaman manusia sebagai akibat dosa. Oleh karena itu, secara teologis manusia takut mati karena kematian adalah tanda keterpisahan, tanda keterbatasan dan pengalaman akibat dosa.
Sementara hati manusia sebenarnya merindukan kehidupan kekal, bukan kebinasaan.
Dalam banyak tradisi agama, kematian dipandang sebagai pintu menuju pengadilan ilahi sehingga manusia takut menghadapi sebagai pertanggungjawaban moral,dosa dan konsekuensi hidupnya. Dalam iman Kristiani, kematian bukan akhir, tetapi awal perjumpaan dengan Allah. Kesadaran ini dapat menimbulkan ketakutan sekaligus harapan. Secara teologis, manusia adalah makhluk relasional. Ia hidup dalam kasih keluarga, sahabat, komunitas dan Tuhan. Kematian terasa menyakitkan karena memutus relasi duniawi. Air mata dan kesedihan dalam kematian menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk kasih dan kebersamaan.Yesus pun menangis ketika Lazarus meninggal. Itu menunjukkan bahwa kesedihan terhadap kematian adalah bagian manusiawi dari cinta.
Walaupun manusia takut mati, teologi tidak berhenti pada ketakutan. Dalam iman Kristiani, kematian justru dipahami sebagai pintu menuju kepenuhan hidup.
Kebangkitan Yesus Kristus menjadi dasar harapan bahwa kematian tidak memiliki kata terakhir. Oleh sebab itu, iman tidak menghapus rasa takut secara instan, tetapi memberi makna baru bahwa kematian bukan kehancuran total melainkan perjalanan menuju Allah.
Secara eksistensial, ketakutan terhadap kematian sesungguhnya menunjukkan sesuatu yang mendalam tentang manusia,yakni manusia ingin hidup, ingin dicintai, ingin abadi dan ingin hidupnya bermakna.Di satu pihak, kematian menyingkapkan keterbatasan manusia,di pihak lain, justru karena kematianlah manusia belajar untuk: menghargai waktu, mencintai lebih sungguh, hidup dengan bijaksana dan mencari makna yang melampaui dunia material. Dengan cara demikian,Filsafat membantu manusia memahami kegelisahan akan kematian sedangkan Teologi memberi harapan bahwa kematian bukan akhir dari segalanya. Mungkin manusia takut mati bukan hanya karena ia akan kehilangan hidup, tetapi karena di dalam dirinya ada kerinduan terdalam untuk hidup selamanya.

