Duck Syndrome di Kalangan Mahasiswa
Sebut saja Rina, seorang mahasiswa tahun pertama di universitas ternama. Di media sosial, ia sering mengunggah foto dengan senyum dan wajah ceria, aktif berorganisasi. Teman-temannya kagum dan mengira ia mahasiswa βsempurnaβ: pintar, populer, dan selalu tampak bahagia.
Namun, di balik tampilan luarnya yang “perfect” itu, sesungguhnya ia merasa cemas setiap kali membandingkan dirinya dengan teman-teman yang tampak lebih pintar. Ini membebani dirinya, bahkan menjadikannya overthinking. Ia jarang curhat ke orang lain demi menjaga citranya, karena takut dianggap lemah. Akibatnya, ia mulai mengalami insomnia, kelelahan, dan kecemasan berlebih, meski tetap tersenyum di luar.
Inilah gambaran Duck Syndrome: Seperti itik yang tampak “mengapung dengan tenang”, padahal di bawah permukaan ia “berenang dengan panik” untuk bertahan.
π Faktor penyebab pada mahasiswa
- Tekanan akademis β persaingan nilai, tugas menumpuk.
- Tuntutan sosial β ingin terlihat aktif di organisasi, gaul, dan sukses.
- Perfeksionisme β takut gagal atau mengecewakan orang tua, ingin hasil sempurna.
- Media sosial β merasa harus selalu tampil bahagia di mata banyak orang, dengan mendapat banyak ” like” dan pujian.
π Dampak pada mahasiswa
+ Burnout (kelelahan akademik).
+ Rasa kesepian meski punya banyak teman.
+ Gangguan kecemasan atau depresi.
+ Penurunan prestasi belajar jika terus berlanjut.
π Cara mengatasinya bagi mahasiswa
+ Membuka diri: berani curhat ke sahabat, keluarga, atau konselor kampus.
+ Manajemen waktu: belajar menyeimbangkan kuliah, dan organisasi.
+ Self-acceptance: menerima bahwa tidak harus selalu sempurna.
+ Hidup sehat: tidur cukup, olahraga ringan, kurangi kopi & begadang.(Paul S)

