Jangan Iri Hati Atas Kasih Karunia yang Diterima Orang Lain
Renungan Harian oleh Ansgarius Hari Patmo Wijaya
Rabu, 20 Agustus 2025
Iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (Mat 20, 1-16)
Sabda Tuhan hari ini menunjukkan kasih karunia Tuhan kepada siapapun sesuai dengan kehendak-Nya. Bukan kehendak manusia. Kita kadang dapat cemburu dan iri hati terhadap berkat yang diterima oleh orang lain, karena ingin mengandalkan jasa atau membandingkan dengan prestasi dan latar belakang hidup yang kita miliki.
Sama seperti dalam kisah bacaan hari ini. Pekerja yang pertama kali dipanggil untuk bekerja pada pagi hari ternyata menerima upah yang sama dengan pekerja yang terakhir kali dipanggil oleh pemilik kebun. Di sore hari saat menerima upah jerih payahnya ternyata dia menerima upah yang sama besarnya dengan pekerja yang dipanggil terakhir kali. Yang tentu saja bekerjanya lebih pendek waktunya dibanding dia yang sudah bekerja dari pagi hari. Dia mengira upahnya akan lebih besar daripada pekerja terakhir.
Namun tuan yang memiliki kebun memberikan jawaban atas pertanyaannyapertama yang akan menjadi yang terakhir. Yang terakhir akan menjadi yang pertama. Aku tidak berbuat tidak adil terhadapmu. Bukankah yang aku janjikan kepadamu sudah aku penuhi?
Kisah ini kadangkala juga dikaitkan dengan kisah panggilan pertobatan. Apakah kita dipanggil saat kita masih muda usia atau sudah tua. Kasih karunia Tuhan yang sama akan kita terima. Kita dipanggil dalam latar belakang perjanjian lama dalam latar belakang panggilan Yohanes Pembaptis atau jaman Yesus Kristus, zaman para Rasul Petrus dan teman temannya atau zaman Paulus dan zaman modern belakangan ini, kasih karunia Tuhan adalah sama. Kita berbagi kehormatan atas kasih karunia yang Tuhan berikan dalam pertobatan. Kasih karunia yang diterima oleh saudara yang lain juga menjadi milik kehormatan kita bersama.
Kita dapat berharap untuk memperoleh upah dari perjalanan dan perjuangan kita mengikuti Tuhan, seperti pertanyaan Petrus dan kawan kawannya. Yesus akan menggunakan kisah ini untuk menjawab pertanyaan mereka dari Matius 19:27 : Lihat, kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau. Jadi, apa yang akan kami peroleh?”
Dalam catatan ini Yesus memberikan jawaban bahwa cara Tuhan membagikan kasih karunianya tidak seperti cara manusia. Dia akan membagikan kasih karunianya dengan cara-Nya. Oleh sebab itu kita harus siap sedia bahwa cara Tuhan kadangkala menimbulkan kejutan bagi manusia. Kadang kala orang yang kita pandang sebelah mata juustru menerima kasih karunia yang besar dalam akhir perjalanan hidupnya. Orang yang bukan berlatar belakang pendidikan yang baik, berstatus social lebih tinggi, berpenampilan layak malah memperoleh kasih karunia lebih baik. Kasih karunia Allah bukan hanya didasarkan atas usaha manusia pribadi tetapi betul betul kasih karunia Tuhan yang sering tidak dapat dipahami hanya dengan kemampuan akal budi manusia saja. Manusia boleh berusaha tetapi Tuhan Allah yang menetapkan hasil akhirnya.
Apakah kemudian upaya manusia tidak berguna? Tekanannya bukan ada disitu. Manusia perlu menyadari bahwa prestasi manusia itu tidak dapat dijadikan dasar sebagai kesombongannya, karena kasih karunia, bukan perbuatan.
Segala pelayanan kita adalah karena Allah, itu milik-Nya. Kemampuan melayani Tuhan merupakan anugerah kasih karunia-Nya. Panggilan untuk melayani Tuhan merupakan anugerah kasih karunia-Nya. Setiap kesempatan untuk melayani merupakan anugerah kasih karunia-Nya. Berada dalam kondisi pikiran yang tepat untuk melakukan pekerjaan Tuhan merupakan anugerah kasih karunia. Pelayanan yang berhasil kepada Tuhan merupakan anugerah kasih karunia-Nya.
Yang perlu kita yakini adalah bahwa Tuhan tidak pernah memperlakukan kita secara tidak adil. Tuhan selalu memperlakukan kita secara adil. Oleh karena itu kita tidak perlu merasa iri hati atas keberhasilan dan kelebihan orang lain. Kita menerima dengan tulus berkat-berkat yang sudah diberikan Tuhan kepada kita seraya bersyukur dan terus mengembangkan apa yang diberikan kepada kita untuk keluhuran Nama-Nya. (*)

