BERPANTAS DIRI MENGHADAP ALLAH
Renungan Harian
Kamis, 21 Agustus 2025
Oleh Paul Subiyanto
Yesus membuat perumpamaan tentang Kerajaan Sorga seperti seorang raja yang menyebar undangan untuk pesta pernikahan putranya. Alih-alih bergembira dan merasa terhormat, orang- orang yang diundang ke pesta itu justru tidak nggubris, cuek dan tidak ngreken undangan raja. Mereka sibuk dengan urusannya masing- masing, bahkan utusan raja yang menyebar undangan malah dibunuh. Wajar jika sang raja murka, dan balas membunuh orang yang tidak menghormatinya. Undangan pun lalu disebar ke orang-orang jelata di jalan – jalan karena orang- orang terhormat tidak mau datang. Saat pesta berlangsung, raja melihat ada tamu yang berpakaian tidak pantas, lalu orang itu ditangkap dan dibuang ke luar. “Banyak yang diundang, tetapi sedikit yang dipilih”, Yesus menutup cerita-Nya. (Mat. 14:13-21)
Belum lama seorang musisi kondang mau menikahkan putranya. Hari-hari sebelum Hari H, medsos terus memviralkan event tersebut dengan segala pernak-pernik dan gosipnya. Salah satu beritanya, publik mempertanyakan siapa saja yang akan diundang dalam peristiwa yang mewah dan wah tersebut? Orang merasa terhormat jika terpilih untuk diundang dalam perhelatan bergengsi tersebut.
Kejadian nyata itu berbeda secara ekstrim dengan perumpaan Yesus. Bukan hanya musisi, tetapi Raja yang mengundang namun tidak ada yang menanggapi. Terlalu! Perumpamaan ini sering ditafsir sebagai kecaman keras terhadap bangsa Yahudi, yang telah dipilih Allah menjadi istimewa (mendapat undangan), menjadi tempat lahirnya nabi-nabi besar, agama-agama besar, bahkan tempat lahirnya Juru Selamat dunia. Tetapi bangsa Yahudi justru melecehkan preferensi Allah yang bangsa-bangsa lain tidak mendapatkan. Namun demikian, dalam perumpaan tersebut ada hal yang sering luput dari penafsir, yaitu tamu undangan yang datang tapi “tidak pantas” akan diusir dan dibuang, bukan surga yang didapatkan tetapi tempat yang gelap dengan kertak gigi (dingin), neraka.
Ada seorang pengkotbah berapi-api mengatakan, “Paling enak jadi orang kristen, cukup beriman saja dijamin masuk surga. Berbeda dari agama-agama lain yang harus dengan susah payah untuk dapat surga” Apa begitu? Asal beriman beres, tidak peduli apa perbuatan kita?
Tamu yang datang memenuhi undangan raja (beriman), tetapi berpakaian tidak pantas (perilaku) ternyata diusir keluar dari pesta. Nah, beriman saja tidak cukup, perilaku kita menentukan apakah selaras dengan ajaran Kristus. Apakah kita mengasihi sesama? Apakah kita mengampuni yang bersalah, bahkan musuh? Masih banyak tanggungjawab sosial yang harus kita jalankan agar pantas masuk kerajaan surga.
“Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih” Beriman itu mudah (banyak) tetapi menjadi pantas sehingga dipilih (sedikit) jauh lebih sulit. Marilah kita memantaskan diri dengan perbuatan- perbuatan kasih agar kita layak untuk dipilih masuk dalam kerajaan surga. (*)

